Waspadai Pelemahan Konsumsi | Koran Jakarta
Koran Jakarta | August 13 2020
No Comments
Stabilitas Harga - Inflasi Diprediksi Naik pada Akhir Tahun karena Libur Natal dan Tahun Baru

Waspadai Pelemahan Konsumsi

Waspadai Pelemahan Konsumsi

Foto : ANTARA/M RISYAL HIDAYAT
TREN INFLASI MENINGKAT - Pedagang menimbang daging sapi yang dijual di Pasar Senen, Jakarta, Senin (2/12). Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi pada November 2019 sebesar 0,14 persen (mtm), meningkat dari bulan sebelumnya 0,02 persen dan diperkirakan meningkat kembali pada Desember 2019 karena dampak libur Natal dan Tahun Baru.
A   A   A   Pengaturan Font
Potensi lonjakan harga bahan kebutuhan pokok dan tarif listrik tahun depan dikhawatirkan semakin menggerus konsumsi domestik sehingga bisa mengancam prospek pertumbuhan ekonomi.

JAKARTA – Pemerintah perlu menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok dan tarif dasar listrik agar pertumbuhan konsumsi tetap terkendali. Lonjakan harga kebutuhan pokok melonjak berisiko menggerus belanja kebutuhan sekunder dan tersier.
Padahal selama ini, kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap produk domestik bruto (PDB) lebih dari 50 persen. Di saat investasi dan ekspor belum bisa diandalkan, pelemahan konsumsi rumah tangga akibat dampak lonjakan harga dan tarif listrik bisa mengancam pertumbuhan ekonomi nasional.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto, berharap pemerintah tidak mencabut subsidi listrik bagi 24,4 juta pelanggan 900 volt ampere (VA) tahun depan.

“Tujuannya supaya inflasi tetap terjaga, sebab dampak kenaikan tarif listrik terhadap inflasi cukup besar,” ungkapnya dalam konferensi pernya di Jakarta, Senin (2/12).

Suhariyanto mengakui saat ini kenaikan tarif dasar listrik itu masih dalam tahap rencana, sembari menunggu rampungnya verifikasi data pelanggan oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Dirinya berharap tidak ada kenaikan yang terlalu drastis.

Pengamat Ekonomi Indef, Rusli Abdullah, menilai pemerintah perlu menggenjot pertumbuhan ekonomi agar bisa melampaui level lima persen. Untuk itu, lanjutnya, daya beli masyarakat harus tetap terjaga, mengingat perekonomian nasional masih bertumpu pada konsumsi domestik.

Ditegaskan Rusli, pelambatan pertumbuhan ekonomi nasional saat ini karena belanja untuk kebutuhan tersier atau barang-barang mewah masih minim. Padahal, pertumbuhan konsumsi sangat dipengaruhi oleh belanja kebutuhan tersier.

Rusli memperingatkan belanja tersier berpotensi semakin turun akibat lonjakan harga kebutuhan pokok jelang akhir tahun.
Dia mencontohkan, harga beras mulai naik sejak Agustus lalu meskipun nilainya kecil. Tren itu berlanjut ke November ini untuk semua jenis dan diperkirakan hingga akhir tahun meningkat kebutuhan jelang periode Natal dan Tahun Baru 2020.

 

Inflasi Naik

 

Seperti diketahui, BPS mencatat inflasi pada November 2019 sebesar 0,14 persen secara bulanan (mtm). Hal itu terjadi setelah kenaikan harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran yang juga disebabkan momentum meningkatnya permintaan menjelang liburan Natal pada Desember 2019 dan pergantian tahun 2019.

“Pergerakan indeks harga konsumen ini masih sama dengan bulan sebelumnya (Oktober 2019), di mana November 2019 dia akan naik, dan akan lebih tinggi lagi di bulan Desember 2019 karena ada persiapan Nataru (Natal dan Tahun baru),” kata Suhariyanto.

Dengan inflasi bulanan pada November 2019 sebesar 0,14 persen (mtm), maka inflasi secara tahunan di bulan ke-11 sebesar 3,0 persen (year on year/ yoy) dan inflasi tahun berjalan sebesar 2,37 persen (year to date/ ytd).

Inflasi pada November 2019 secara bulanan meningkat dibanding Oktober 2019 yang sebesar 0,02 persen (mtm).
Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ahmad, mengatakan inflasi hingga Desember 2019 akan menyentuh angka tiga persen. Hal itu disebabkan banyak hal yang berada di luar perkiraan pemerintah.

“Termasuk sumbangan rokok, plus momentum konsumsi libur Natal dan Tahun Baru,” ujar Tauhid.

 

ers/uyo/E-10

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment