Koran Jakarta | September 23 2018
No Comments
Antisipasi Krisis - S&P: Awasi Pelemahan Rupiah ke Rp15.000 per Dollar AS

Waspadai Krisis Moneter akibat Pelemahan Rupiah

Waspadai Krisis Moneter akibat Pelemahan Rupiah

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
>>Rasio devisa terhadap PDB tentukan kekuatan pertahanan moneter terhadap guncangan.

>>Posisi 15.000 rupiah per dollar AS dinilai menjadi level psikologis bagi korporasi.

JAKARTA - Pemerintah mesti mewaspadai dan mengantisipasi potensi krisis moneter akibat tren pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini. Sebab, apabila kurs mata uang RI itu terus terdepresiasi hingga mencapai level psikologis 15.000 rupiah per dollar AS maka akan berdampak buruk bagi perekonomian nasional.

“Nanti efeknya credit rating kita akan di-downgrade, defisit anggaran melebar, asumsi makro akan berubah dan kepercayaan investor menjadi berkurang, ya bisa mengarah ke tanda-tanda krisis moneter,” papar peneliti Indef, Bhima Yudhistira, di Jakarta, Selasa (13/3). Dia menjelaskan dalam dua bulan terakhir, nilai tukar rupiah memang mengalami tekanan yang cukup berat karena ekspektasi pasar tentang kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) yang lebih cepat, hingga empat kali dalam tahun ini.

Ini mendorong investor asing keluar dari pasar Indonesia, beralih ke instrumen berbasis dollar AS yang dinilai lebih aman. Selain itu, imbuh Bhima, pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh permintaan terhadap dollar. Dengan defisit perdagangan beberapa bulan terakhir, mengindikasikan permintaan mata uang AS itu meningkat untuk kebutuhan impor.

Jadi, tekanan pada neraca perdagangan itu semakin menggencet posisi rupiah. Sejak awal tahun, dana asing yang keluar dari pasar saham mencapai 14,4 triliun rupiah. Pada awal Januari, rupiah berada di level 13.300 rupiah, kemudian terus terdepresiasi hingga 13.800 rupiah per dollar AS pada awal Maret 2018.

Sementara itu, pada Selasa, kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatat penguatan rupiah 0,07 persen menjadi 13.757 rupiah per dollar AS. Bhima menambahkan capital outflow yang semakin deras secara tidak langsung juga mengikis cadangan devisa. Sepanjang bulan lalu, BI telah menggunakan cadangan devisanya sebesar empat miliar dollar AS.

“Bisa dibayangkan, kalau terjadi empat kali kenaikan bunga The Fed. Untuk intervensi kemarin, sebelum kenaikan Fed rate, sudah terkuras empat miliar dollar. Jadi tinggal kalikan saja, empat kali empat, ada 16 miliar dollar AS devisa yang akan terpakai untuk stabilisasi rupiah sepanjang 2018,” kata dia.

Dia pun mengingatkan bahaya terkurasnya devisa yang begitu besar, sebab rasio cadangan devisa terhadap produk domestik bruto (PDB) hanya 14 persen. Rasio itu terendah dibandingkan negara Asia lainnya, seperti Filipina yang mempunyai cadangan devisa 28 persen terhadap PDB, sedangkan Thailand 58 persen.

“Nah, ini kan menentukan seberapa kuat sebenarnya pertahanan moneter kita menghadapi guncangan eksternal. Rasionya semakin kecil, semakin cepat terkuras. Kalau sudah begini, risikonya sangat besar. Krisis moneter! Bisa mengarah ke sana,” kata dia. Bhima merujuk pada krisis keuangan 1998 yang karena cadangan devisa yang jumlahnya relatif kecil terkuras untuk stabilisasi nilai tukar rupiah. “Akhirnya nggak kuat menahan gejolak tadi.”

 

Perlu Diawasi

 

Sementara itu, lembaga pemeringkat Standard and Poor’s (S&P) mengingatkan pelemahan rupiah ke level 15.000 rupiah per dollar AS perlu diwaspadai. Senior Director Corporate Ratings S&P, Xavier Jean, mengatakan rupiah perlu diawasi bila mencapai level ini. Menurut dia, depresiasi bisa berlangsung cepat.

Dia mencontohkan pelemahan rupiah pada 2015. Saat itu, rupiah melemah dari 12.000 rupiah ke 15.000 rupiah hanya dalam hitungan beberapa bulan. “Kami melihat, level ini akan menimbulkan tekanan finansial bagi banyak perusahaan,” kata dia, Selasa. Menurut Jean, level 15.000 rupiah per dollar AS menjadi level psikologis bagi korporasi, karena korporasi tidak bisa melanjutkan operasional dengan nilai tukar tinggi.

Mereka pun akhirnya perlu proaktif dan merestrukturisasi utang dengan kreditur. Meski begitu, S&P belum melihat level tersebut saat ini. “Masalah lebih besar terkait depresiasi adalah kecepatannya. Kepercayaan investor akan terpengaruh jika depresiasi terjadi terlalu cepat,” kata Jean.

Oleh karena itu, akan ada perbedaan antara pelemahan ke 15.000 rupiah per dollar dalam hitungan bulan atau hitungan tahun. “Jadi, level 15.000 rupiah adalah level yang perlu diwaspadai, dan laju pelemahan ke 15.000 rupiah itulah turbulensi sebenarnya,” imbuh Jean. 

 

ahm/SB/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment