Koran Jakarta | July 17 2019
No Comments

Warga Lesehan “Ngobrol” Bareng Gubernur Jabar

Warga Lesehan “Ngobrol” Bareng Gubernur Jabar

Foto : KORAN JAKARTA/TEGUH RAHARJO
MENYERAP ASPIRASI - Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil (kiri) menyerap aspirasi warga dengan mengundang mereka ke rumah dinasnya, Gedung Pakuan di Jalan Otista, Kota Bandung, Kamis (14/2).
A   A   A   Pengaturan Font

Gubernur Jawa Barat (Jabar), Ridwan Kamil, mengundang belasan warga korban bencana alam dari beberapa wilayah di Jabar bertamu ke rumah dinasnya, Gedung Pakuan, di Jalan Otista Kota Bandung, Kamis (14/2). Pertemuan dilakukan di teras Gedung Pakuan dengan duduk lesehan.

Pertemuan yang merupak­an program temu pimpinan untuk aspirasi masyarakat (Tepas) ini merupakan yang pertama kali dilakukan dan akan terus dilakukan setiap minggu dengan tema berbeda bergantung dengan isu terkini. Pada pertemuan pertama mengambil tema penang­gulangan bencana sehingga mengundang korban bencana dan jajaran terkait yang mena­ngani kebencanaan di Jabar.

Warga yang datang dapat bertatap muka langsung den­gan gubernur bahkan berbin­cang dan menyampaikan ke­luh kesahnya. Ada yang datang dari Kabupaten Sukabumi, Bandung Barat, Bandung, Sumedang, dan lain-lain.

Abah Edi (56 tahun), warga korban bencana di Kabupaten Bandung mengaku baru per­tama kali menginjakan kakinya di rumah dinas Gubernur Jabar. Ia tidak pernah terpikir bisa bertemu dengan gubernur.

“Sampai usia saya 56 tahun, belum pernah masuk Gedung Pakuan. Terima kasih telah memberi kesempatan kepada kami datang ke sini. Ini peris­tiwa yang tak akan terlupakan,” ujarnya.

Korban Bencana

Demikian juga Ibu Uun, yang datang karena telah menerima bantuan perbaikan rumah dari Pemprov Jabar. Rumahnya rusak akibat tert­impa pohon.

Banyak hal disampaikan gubernur, terutama tentang upaya penanggulangan bencana, relokasi warga ke tempat yang lebih aman serta penganggaran bagi bantuan korban bencana.

Pada kesempatan terse­but, Kang Emil, demikian Ridwan Kamil akrab disapa, menyatakan akan membia­yai dua anak yatim piatu yang orang tuanya meninggal akibat longsor Cisolok, Kabupaten Sukabumi, beberapa waktu lalu. Kedua anak tersebut Varel (3 tahun) dan Angki (7 tahun), akan ditanggung seluruh biaya sekolah dan biaya hidupnya.

Dua anak tersebut hadir da­lam acara Tepas bersama kera­batnya yang selamat. Kang Emil sebenarnya menawarkan untuk tinggal di Bandung agar men­gurusnya lebih mudah, namun ketika ditawari untuk tinggal bersamanya, keduanya hanya diam saja, tertunduk malu.

“Ya nggak apa-apa mungkin malu jadi nggak bisa jawab. Yang terpenting mau tinggal di mana pun kedua anak ini saya tanggung biaya hidupnya dan sekolahnya,” ujarnya.

Ia mengatakan dalam setiap bencana, negara harus dirasakan hadir untuk menye­lesaikan permasalahan yang ada. Kalau bisa diselesaikan di tingkat daerah, jika tidak maka akan diselesaikan di tingkat lebih tinggi seperti tingkat provinsi.

“Ya, intinya ingin memasti­kan bahwa negara harus hadir pada penyelesaian setiap per­masalahan warga. Kalau bisa diselesaikan di tingkat peme­rintahan terendah ya sukur, ka­lau tidak mari kita selesaikan bersama,” katanya. tgh/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment