Wahana Anak Bangsa Mengejar Asa | Koran Jakarta
Koran Jakarta | August 13 2020
1 Comment
United World Colleges

Wahana Anak Bangsa Mengejar Asa

Wahana Anak Bangsa Mengejar Asa

Foto : foto-foto:dok United World Colleges
Sekelompok anak muda dari berbagai negara yang lolos seleksi sekolah UWC 2017. Indonesia tahun ini meloloskan sembilan anak untuk belajar di sekolah UWC Jerman, Tiongkok, Singapura, Inggris, AS, Kanada, dan Armenia.
A   A   A   Pengaturan Font

Dari sedikit lembaga pendidikan menengah atau college yang sangat bermutu, United World Colleges (UWC) adalah salah satunya. Bukan hanya seleksinya yang sangat ketat, tetapi proses belajarnya pun lumayan berat.

Kurikulum yang digunakan di UWC adalah Baccalaureate Internasional (IB). Dengan demikian mereka yang berhasil masuk dan lulus UWC merupakan pelajar dengan kualifikasi sangat tinggi, termasuk dari Indonesia. Karena itu, sangat wajar bila mereka kemudian diterima di universitas terkemuka di berbagai belahan dunia. Hingga saat ini, terdapat 17 sekolah UWC yang berada di berbagai negara di benua Eropa, Asia, Amerika, dan Afrika.

Community service atau pengabdian sosial dan Project weeks, merupakan bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran di UWC. Mengingat di setiap intitusi UWC peserta didik dari berbagai bangsa dan negara, maka proses penyatuan pun menjadi sesuatu yang sangat penting agar mereka memiliki spirit dan etos belajar tinggi, memiliki kepedulian terhadap sesama peserta didik, mengingat mereka datang dari lapisan sosial yang beragam. Begitu juga seni, budaya, dan keterampilan para peserta didik diasah dan difasilitasi untuk menunjukkan kreativitasnya.

Misi UWC ialah menjadikan pendidikan sebagai alat pendorong yang menyatukan manusia, bangsa, dan kebudayaan untuk menciptakan perdamaian dan masa depan yang berkesinambungan. Para siswa UWC datang dari berbagai kalangan dengan latar belakang budaya, sosial-ekonomi, ras, dan agama yang berbeda. Institusi ini menjadi pilihan siswa mulai dari keluarga kerajaan, selebriti, hingga pengungsi korban perang.

Dilatarbelakangi oleh perang dingin yang berkepanjangan di Eropa, seorang praktisi pendidikan berkebangsaan Jerman, Kurt Hahn mencetuskan ide untuk mengumpulkan siswa dari berbagai belahan dunia dalam satu sekolah untuk dididik menjadi calon pemimpin masa depan yang dapat menciptakan dan menghargai perdamaian serta memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya. Sekolah tersebut pertama kali didirikan pada 1962 di Wales Selatan, Inggris dan diberi nama United World Colleges (UWC) of Atlantic College.

Tania Shabri dari National Committee UWC Indonesia, kepada Koran Jakarta mengatakan, Indonesia sendiri telah berpartisipasi dengan mengirim siswanya sejak 1980 dan alumni UWC Indonesia saat ini mencapai hampir 100 orang.

Sebelum proses seleksi dimulai, komite nasional melakukan sesi informasi selama November hingga Desember, baik di Jakarta ataupun daerah-daerah lainnya di Indonesia.

Dalam sesi informasi tersebut, komite nasional memperkenalkan UWC secara keseluruhan mulai dari sejarah, sistem pendidikan, kegiatan keseharian siswa serta budaya sekolah, dan prospek melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi setelah lulus dari UWC.

Pendaftaran untuk mengikuti seleksi dimulai pada Desember hingga awal Januari. Peserta yang lolos seleksi tahap awal akan melalui seleksi tahap kedua pada Februari dan yang berhasil lolos akan diumumkan tiap Juni.

Sistem perekrutan siswa UWC dilakukan komite nasional (National Committee) di tiap negara. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 155 negara yang aktif mengirimkan delegasi siswa ke 17 sekolah UWC setiap tahunnya. Komite nasional UWC Indonesia sendiri beranggotakan para volunteer yang terdiri dari para alumni UWC, pakar pendidikan, dan profesional yang peduli terhadap pendidikan dan toleransi keberagaman.

Tahun ini komite nasional akan memberangkatkan 9 siswa terpilih untuk belajar di 7 sekolah UWC yaitu:
1. Altaf Barelvi, Cambridge Al Azhar Jakarta ke Robert Bosch College UWC, Jerman.

2. Abigail Chinta, Taman Rama School Bali ke UWC Changshu, Tiongkok.

3. Faridz Kemal Ibrahim, Victoria School Singapore ke Atlantic College UWC, Inggris.

4. Goldion Nogo, SMA Santa Laurensia Tangerang ke UWC-USA, Amerika Serikat.

5. Raihanah Nabilah Fatinah, SMA 47 Jakarta ke Pearson College UWC, Kanada.

6. Syafira Nurlita, SMA Negeri 1 Kota Bima ke UWC Southeast Asia, Singapura.

7. Sherly Budiman, SMA Methodist Banda Aceh ke UWC Dilijan, Armenia.

8. Sinthya Juviani, SMA Immanuel Pontianak ke Atlantic College UWC, Inggris.

9. Teddy Antonius Wongkar, SMA Kolese Kanisius Jakarta ke UWC Changshu, Tiongkok.  sur/R-1

Program Orientasi Pra-keberangkatan

Sementara itu anggota National Committee lainnya, Erin Saiof mengatakan, setiap tahunnya, peserta yang lolos seleksi diwajibkan mengikuti program orientasi pra-keberangkatan (PDO) yang diadakan komite nasional bersama alumni UWC dan siswa-siswi Indonesia yang masih aktif bersekolah di UWC.

Program orientasi ini terdiri dari sesi berbagi informasi mengenai hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum keberangkatan, pengurusan visa, tiket pesawat, ketika pertama kali sampai di sekolah UWC tujuan, dan lainnya.

“Tahun ini kami menggelar orientasi pra-keberangkatan pada 8 Juli 2017 di Kantor Pusat Gojek Indonesia dengan pertimbangan pendiri Gojek, Nadiem Makarim adalah alumni UWC Singapura yang telah berkontribusi dengan memberikan solusi kemudahan transportasi dan menginpirasi para siswa baru untuk dapat kembali membangun bangsanya,” ujar Saiof.

Dalam acara PDO, selain sembilan peserta didik UWC yang akan berangkat, hadir pula para orang tua, alumni UWC dari berbagai angkatan, dan juga orang tua alumni. Kehadiran mereka menambah semaraknya PDO, sehingga acara PDO juga menjadi forum reuni.

Sebagai komite nasional, pihaknya berharap kesembilan anak tersebut dapat sukses belajar di UWC dan menjadi duta Indonesia yang dapat menyebarkan semangat Bhinneka Tunggal Ika kepada delegasi negara lainnya yang akan mereka temui di sana. sur/R-1

Jangan Lupakan Indonesia

Dalam orientasi ini hadir juga Senior External Affairs BP Indonesia, Hidayat Alhamid, sebagai pembicara utama.

“Tanggung jawab pendidikan anak-anak bangsa adalah tanggung jawab kita semua, untuk membantu mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara agar Indonesia bisa duduk setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia” katanya.

Dengan membahas paper “Membangun Profesionalisme di Dunia Teknik,” Alhamid mengaitkan bagaimana upaya meraih ilmu dengan berbagai kiat cerdas, tetapi tidak mengesampingkan hobi. “Saya suka nyanyi dan punya grup band, jadi bagaimana studi jalan, nyanyi juga jalan,” katanya.

Beberapa kita dan strategi studi di luar negeri yang disampaikan antara lain, pelajar harus berani berbicara dan mengemukakan pendapat. Kemampuan berfikir dan berbicara akan mendorong kemajuan studi. Pelajar juga harus rendah hati, bukan rendah diri sehingga dihormati orang lain.

“Jangan lupa pada bangsa dan negara yang memberi kesempatan pada kita untuk belajar di luar negeri,” ujarnya. sur/R-1

Klik untuk print artikel

View Comments

ike
Minggu 28/1/2018 | 10:52
Hanaaaa.. sukses terusss

Submit a Comment