Koran Jakarta | November 19 2018
No Comments

Via Vallen dan Tak Perlu Bikini

Via Vallen dan Tak Perlu Bikini

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Via Vallen adalah ratunya ratu dangdut yang sesungguhnya. Lagu Sayang—lagu dari Jepang yang dibumikan dan ditambahi irama rap selain napas koplo yang jadi cirinya, ditonton lebih dari 150 juta pemirsa di internet.

Lebih dari lagu mana pun, lebih dari penyanyi mana pun. Dan masih terus dilihat ulang. Lagu Sayang juga masih terus diputar—ratusan, ribuan kali setiap minggu, dalam pentas-pentas di berbagai pelosok.

Via Vallen tampil fenomenal, bahkan sejak 2010 ketika meluncurkan lagu Selingkuh. Via Vallen melengkapi kisah ratu yang sesungguhnya, mengalahkan ratu-ratu yang dibuat oleh pedangdut dalam kelompoknya sendiri, menyisihkan ratu yang lahir dari akademi atau liga atau festival sejenis.

Pemilik nama Maulidyah Oktavia, 27 tahun, sudah menyanyi sejak masih sekolah SMP. Ayahnya pemusik dangdut. Via bahkan dikabarkan ngamen di jalanan, di lampu merah bersama adik-adiknya, sampai tertangkap petugas keamanan.

Dengan berat badan 51 kg, dengan tinggi 165 cm, Via meratui dunia dangdut tanpa kostum terbuka, atau pakaian minim, juga tanpa goyang.

Via Vallen adalah pedangdut asal Jawa Timur—seperti halnya Inul Daratista yang pada masanya meledak—berbeda dengan pedangdut Tasikmalaya, atau daerah Jawa Barat.

Sifatnya lebih keras, lebih terbuka, dan tak menyimpan rasa—sebagaimana penyanyi Jawa Tengah, misalnya.

Maka ketika di Instagram-nya masuk secara pribadi ungkapan yang bisa dianggap melecehkan dirinya, Via Vallen tak ragu membuat screen shot—salinan percakapan, ke yang dibaca oleh mengikutinya.

Ajakan merendahkan itu dari pemain sepak bola—dan Via Vallen suka menonton pertandingan sepak bola. Sikap Via Vallen adalah langkah besar keberanian yang tidak biasa dilakukan rata-rata perempuan Indonesia.

Juga langkah yang tepat. Karena kini, dunia hiburan di dunia—terutama dimotori Amerika Serikat, sedang bergerak melawan pelecehan seksual secara terbuka, berani dan memberi sanksi.

Tokoh-tokoh perfilman dengan nama besar kini terkapar karena ditolak membintangi film. Bahkan, film yang sudah diproduksi dan dibintangi bisa kena boikot.

Artis film terhormat seperti Morgan Freeman sekali pun, yang pernah memerankan “Tuhan”, atau juga presiden, juga presenter seri “Semesta” di televisi—meminta maaf terbuka dan tersisihkan.

Gelombang pasang menentang pelecehan seksual di dunia artis makin lama makin pasang. Juga di Eropa Barat.

Sedemikian besar perhatian untuk tidak terjadinya perundungan seksual ini, pemilihan ratu kecantikan—atau apa pun istilahnya, tak lagi mewajibkan pesertanya memakai bikini— pakaian yang ada dua potong untuk dada dan bagian bawah.

Sebuah perubahan besar dan mendasar. Apa yang dilakukan Via Vallen benar dan besar maknanya. Dengan pengikut sedemikian besar, dengan kuasa komunikasi yang dimiliki, upaya untuk menghentikan pelecehan seksual kepada perempuan bisa efektif.

Langkah Via Vallen—yang kadang malah dianggap remeh, justru oleh sesama artis dianggap cari dan curi perhatian—adalah sikap tegas dan keberanian.

Tahun lalu, 2017, Komnas Perempuan misalnya, mencatat ada 91 kasus yang “mengganggu dan mengancam perempuan”, namun tak satu pun bergema di media.

Via Vallen berani. Popularitasnya mempunyai arti bagi kesadaran bersama yang baik adanya.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment