Koran Jakarta | July 24 2017
No Comments
Kesejahteraan Rakyat

Utang Tak Mampu Atasi Kemiskinan

Utang Tak Mampu Atasi Kemiskinan

Foto : Koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan jumlah penduduk miskin di Indonesia periode September 2016 hingga Maret 2017 bertambah 6.900 orang menjadi 27,77 juta orang.

Bertambahnya jumlah penduduk miskin itu mengonfirmasi bahwa utang pemerintah yang naik drastis, mencapai hampir 4.000 triliun rupiah, tidak mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang setara atau mengatasi kemiskinan.

Meskipun utang itu untuk membangun infrastruktur, tetapi dampaknya tidak bisa dirasakan dengan cepat oleh masyarakat.

“Padahal ini kan soal daya beli. Daya beli itu tidak bisa jangka panjang. Itu artinya, utang yang dipakai tidak efektif,” kata ekonom Indef, Eko Listiyanto, di Jakarta, Senin (17/7).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, juga mengatakan utang pemerintah dirasa belum berdampak pada penurunan tingkat kemiskinan karena masih difokuskan untuk pembangunan infrastruktur.

“Utang pemerintah banyak yang arahnya ke infrastruktur. Kalau baru pinjaman dibuat, tapi belum ada pembangunannya, ya tidak akan menurunkan (kemiskinan). Pada waktu pembangunan berjalan, pengaruhnya bagus karena orang yang bekerja di pembangunan umumnya menengah ke bawah,” ucap Darmin.

Menurut Eko, meningkatnya jumlah penduduk miskin sangat wajar apabila melihat sejumlah kebijakan pemerintah yang berdampak menekan daya beli. Sebut saja, pencabutan subsidi listrik.

Sementara, hampir separuh tenaga kerja Indonesia bekerja di sektor formal yang bergaji rendah dan tidak memiliki jaminan sosial.

“Terjadilah penambahan kemiskinan. Yang tadinya berada di atas garis kemiskinan agak aman.

Tapi karena subsidi, misalnya, beras rakyat miskin telat dia harus mengalokasikan untuk beli beras. Secara umum memang ada pelemahan daya beli sehingga mereka jadi miskin,” papar dia.

Berpotesi Krisis

Sebelumnya, lembaga internasional, AT Kearney, memberikan sinyal bahwa pasar Indonesia masih labil sehingga berpotensi terkena krisis ekonomi pada tahun-tahun mendatang. Inflasi diperkirakan akan meningkat menjadi 4,5 persen pada akhir 2017 dari 3,2 persen pada tahun sebelumnya.

“Giro dan defisit fiskal membuat rupiah juga rentan terhadap goncangan negatif di pasar modal global, yang mungkin melemahkan daya beli, terutama di kalangan konsumen berpenghasilan rendah,” ujar AT Kearney.

Sementara itu, Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, Sairi Hasbullah, menjelaskan bertambahnya jumlah penduduk miskin itu disebabkan meningkatnya pengeluaran belanja dari masyarakat miskin, sementara jumlah pendapatan masyarakat miskin hanya naik sedikit.

Menurut dia, jika dilihat di sektor konstruksi, pendapatan orang miskin yang bekerja meningkat sekitar 2 persen, orang miskin yang bekerja di sektor perdagangan meningkat juga di atas 2 persen pendapatannya, tapi garis kemiskinan yang disebabkan oleh inflasi naiknya lebih cepat. ahm/Ant/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment