Koran Jakarta | June 24 2019
No Comments

Uskup yang Blusukan demi Melayani Umat

Uskup yang Blusukan demi Melayani Umat

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Blusukan Dukun Banyu Olah Syahwat

Penulis : ST Sularto

Tebal : 251 halaman

Penerbit : Obor

Cetakan : Oktober 2018

ISBN : 978–979-565-382-0

Buku ini menarik dibaca karena mengisahkan Uskup Julianus Sunarka yang melayani umat dengan cara blusukan. Hal ini biasa dilakukan sejak tahun 2000 sebelum cara itu menjadi tren ditiru aparatur pemerintah atau para caleg untuk pencitraan. Bagi Mgr Sunarka, SJ begitu dia akrab dipanggil, blusukan memiliki arti penting dalam berkhidmat kepada umat.

Dengan blusukan, dia bisa mengetahui kondisi riil umatnya. Dia melakukannya tanpa protokoler dan umat yang dikunjungi tidak dalam keadaan siap. Dengan begitu, kondisi mereka tampil apa adanya. Ketika ditanya, mereka juga menjawab apa adanya. Berbagai pihak menyaksikan dia melakukan blusukan. Umat punya kisah berkesan.

Misalnya, RD Albertus Tri Kusuma, saat daerah Pekalongan terendam bajir, Albertus mengantarkan Mgr Sunarka ke tempat tersebut. Karena jalan tergenang air tinggi, mobil di parkir jauh dari rumah penduduk. Tak disangka, Mgr Sunarka segera menyingsingkan celana melewati genangan air dan segera menuju rumah umatnya yang terendam. Betapa terkejutnya tuan rumah menyaksikan uskup menyambangi mereka. Berita kedatangannya cepat tersebar dan umat dengan suka ria berkumpul menyambutnya di kapel.

RD Albertus bertanya tentang visi blusukan yang acap kali Mgr Sunarka lakukan. Sang uskup menjawab bahwa Gereja harus menjadi rujukan hidup umat. Ia merangkul dan memeluk, sehingga semakin banyak orang merasa dikasihi, dicintai, dan diterima. “Untuk menjadi besar, Kristus harus menjadi pusat kehidupan dan pusat pelaksanaan kehidupan itu sendiri,” kata Mgr Sunarka (hlm 165).

Di samping itu, dengan blusukan, Mgr Sunarka bisa mengetahui keperluan untuk meningkatkan kesejahteraan umat. Hasil blusukan merupakan basis untuk membuat kebijakan, strategi, dan pelaksanaan peningkatan pelayanan. Misalnya, dia merencakan untuk mencerdaskan umat.

Yang harus dicanangkan terlebih dulu adalah peningkatan kualitas para romo sebagai ujung tombak keuskupan yang sering bersentuhan dengan umat. Dia pun mencanangkan peningkatan pendidikan mereka, minimal S2. Tidak hanya berencana, dia juga mengusahakan beasiswa untuk para romo (hlm 152).

Kelebihan lain Mgr Sunarka, dia miliki kekuatan paranormal. Sebelum didaulat sebagai imam, dia menjalankan beragam laku paranormal. Saat menjadi imam, Bapa Justinus Kardinal Darmojuwono meminta agar dia menggunakan kemampuannya dalam meramal sumber mata air saja. Sebab itu, dia juga dikenal dengan sebutan “dukun banyu”.

Kelebihan ini membawa Mgr Sunarka pada bentuk pelayanan yang lebih luas. Tidak hanya kepada umat Katolik, dia juga melayani umat beragama lainnya. Masyarakat tertolong karena banyak sumur melimpah air berkat bantuannya. “Yang mencarikan sumber mata air untuk pesantren kami Monsinyur Narka,” kata Kiai Mohammad Raqib, pengasuh pesantren An Najah (hlm 225).

Jusuf Kalla, Wakil Presiden Indonesia, juga pernah memakai jasanya. Bahkan hingga instansi di luar negeri seperti Singapura dan Thailand menggunakan kemampuan Mgr Sunarka dalam mencari sumber mata air.

Hebatnya lagi, Mgr Sunarka tidak perlu mendatangi lokasi. Dia cukup melihat denah lokasi. Dari jarak ribuan kilometer, dia bisa menebak titik sumber mata air, kedalaman dan kubik air yang tersedia di dalamnya. Kemampuan ini menjadi kelebihan tersendiri bagi Mgr Sunarka untuk memaksimalkan pelayanan kepada umat Katolik dan juga umat manusia pada umumnya.

Kisah pelayanan Mgr Sunarka juga bisa menjadi inspirasi bagi pemimpin umat agama lain dalam aspek totalitasnya menyejahterakan umat. Dia tidak mau hanya berpikir sambil duduk-duduk manis di puncak menara gading. Dia turun langsung ke relung-relung kehidupan umat. 

Diresensi Redy Ismanto, Alumnus Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment