URBN Ubah Penggunaan Dana IPO | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments
Strategi Bisnis I PT Urban Jakarta Propertindo Mencari Proyek-proyek Berkonsep TOD

URBN Ubah Penggunaan Dana IPO

URBN Ubah Penggunaan Dana IPO

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Alasan perubahan penggunaan dana IPO karena URBN ingin tetap fokus pada pengembangan kawasan menggunakan konsep dan prinsip transit oriented development (TOD).

JAKARTA – PT Urban Jakarta Propertindo Tbk (URBN) melakukan perubahan penggunaan dana hasil penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) dari yang sebelumnya untuk akuisisi lahan menjadi akuisisi lahan dan/proyek dan/perusahaan properti dari senilai 215,77 miliar rupiah menjadi 342 miliar rupiah.

Adapun Perseroan melantai di Bursa pada 10 Desember 2018 berhasil mengantongi total dana segar dari pasar modal sebesar 423,18 miliar rupiah. Sekretaris Perusahaan Urban Jakarta Propertindo, Tri Rachman Batara, mengatakan Perseroan masih memiliki sisa dana penawaran umum untuk akuisisi lahan sebesar 177,62 miliar rupiah, pengembangan lahan 116,39 miliar rupiah, serta modal kerja 36,13 miliar rupiah, sehingga total nilainya 330,33 miliar rupiah.

Per Juni 2019, realisasi pengunaan dana untuk akuisisi lahan 38,15 miliar rupiah, pengembangan lahan 13,06 miliar rupiah, dan modal kerja 41,63 miliar rupiah. “Alasan perubahan tersebut karena Perseroan ingin tetap fokus pada pengembangan kawasan menggunakan konsep dan prinsip transit oriented development (TOD), sehingga Perseroan terus berupaya mendapatkan dan mengembangkan lahan-lahan yang berlokasi di titik-titik transportasi massal,” ungkapnya di Jakarta, Kamis (5/9).

Sebelumnya, Perseroan berencana menggunakan 50,99 persen dana IPO atau sebesar 215,77 miliar rupiah untuk akuisisi lahan. Kemudian 30,59 persen atau 129,46 miliar rupiah untuk pengembangan lahan. Sisanya, 18,42 persen atau sebesar 77,95 miliar rupiah akan digunakan untuk modal kerja.

Menurut Batara, pada kenyataannya banyak lahan strategis di sekitar transportasi masal tersebut dikuasai oleh perusahaan properti lainnya. Oleh karena itu, dengan melakukan akuisisi atas perusahaan-perusahaan itu, maka Perseroan akan mengurangi munculnya kemungkinan spekulasi yang tidak wajar atas harga tanah serta lebih terjamin lahan yang clear and clean.

“Mengingat Perseroan dapat memenuhi kebutuhan modal kerja dan pengembangan lahan dari dana lainnya, maka Perseroan meningkatkan proporsi penggunaan dana untuk akuisisi lahan/proyek/perusahaan properti,” ujar dia.

 

Proyek TOD

 

Direktur Urban Jakarta Propertindo, Thomas, menambahkan, saat ini Perseroan pun sedang mencari proyek-proyek yang berkonsep TOD dan fokusnya di sekitar Jabodetabek. Hanya saja, ia belum bisa menyebutkan secara spesifik daerah yang dibidiknya. Perseroan sendiri saat ini memiliki cadangan tanah (landbank) sebanyak 2,7 hektare untuk proyek yang ada di Bekasi.

Sementara landbank yang dimiliki dalam skema Kerja Sama Operasi (KSO) dengan PT Adhi Commuter Properti (ACP) ada sekitar 12 hektare berada di Ciracas, Bekasi, dan Cempaka Putih. Batara menjelaskan sejak awal Perseroan melihat apabila ingin berkembang maka harus kerja sama dengan pihak lain, sehingga tidak ada proyek yang dijalankan sendiri.

“Katakanlah untuk proyek Perseroan yang ada di Bekasi untuk Urban Sky pada akhirnya kami bekerja sama dengan pihak lain yang sangat strategis. Kami selalu melihat potensi lain untuk berkembang dan tumbuh cepat harus dengan kerja sama strategis,” ucap dia.

Untuk pendanaan ekspansi usaha selain dana dari IPO, Perseroan juga memiliki utang dari salah satu bank dengan nilai sekitar 94 miliar rupiah. Dana tersebut digunakan untuk uang muka pembelian komersial area. “Dana yang kami miliki itu dari IPO ditambah dana penjualan yang sudah cukup baik,” imbuhnya.

 

yni/AR-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment