Koran Jakarta | July 17 2019
No Comments
Perundingan Brexit

Uni Eropa Ragukan Kemampuan May Lobi Parlemen

Uni Eropa Ragukan Kemampuan May Lobi Parlemen

Foto : JOHN THYS/AFP
BERI KETERANGAN - PM Theresa May memberikan keterangan pers di Brussels, Belgia, Jumat (14/12), saat Konferensi Tingkat Tinggi Uni Eropa memasuki hari kedua.
A   A   A   Pengaturan Font

LONDON - Perdana Men­teri (PM) Inggris, Theresa May, kembali menemui para pe­mimpin Uni Eropa (UE), Jumat (14/12), setelah mereka me­nolak permintaan May untuk membantu menawarkan kese­pakatan Britain Exit atau Brexit ke parlemen Inggris.

May telah berusaha mem­bujuk 27 anggota parlemen dari partainya. Dia akan ber­hasil meredam penolakan terhadap Brexit dari anggota parlemen Inggris jika dia bisa memberikan jaminan atas ma­salah perbatasan Irlandia atau yang disebut backstop.

Namun, para diplomat Ero­pa tidak yakin dengan kemam­puan May. Mereka mengatakan May tidak dapat menjelaskan maksudnya, atau bagaimana dapat membuat mayoritas par­lemen Inggris memberikan du­kungan.

“Sinyal yang kami dapat ke­marin tidak terlalu meyakin­kan soal kemampuan Inggris untuk menghormati komitmen yang dibuat. Jadi, kami akan mempersiapkan semua ske­nario, termasuk jika tidak ada kesepakatan,” kata PM Belgia, Charles Michael.

“Tidak ada ruang sama se­kali untuk negosiasi ulang,” tambah Presiden Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker, mengulangi pernyataan sebe­lumnya.

Sebagai upaya menghin­dari kekalahan, May menun­da pemungutan suara Brexit di House of Commons atau Majelis Rendah pekan ini. Tapi, dia berjanji pemungutan suara akan dilakukan paling lambat pada 21 Januari 2019.

Batas waktu yang dianggap terlalu dekat dengan pember­lakuan Brexit itu, membuat Uni Eropa khawatir. Juncker mengatakan dia meningkatkan persiapan jika tidak ada kese­pakatan.

“Ada kesepakatan penarik­an Inggris dari UE, dan ada kebutuhan mendesak untuk mengambil keputusan. Kita ha­rus menghindari skenario tidak ada kesepakatan,” tambah Kan­selir Austria, Sebastian Kurz.

Saat hadir dalam Konfe­rensi Tingkat Tinggi (KTT) Uni Eropa, dan bertemu dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, sebelum pembahasan konflik Rusia, dan perubah­an iklim, May hanya diam. Dia datang ke Brussels dalam ke­adaan lelah setelah lolos dari mosi tidak percaya 117 anggota parlemen, yang berasal dari partai Konservatif.

Masalah “Backstop”

Penolakan terhadap kesepa­katan Brexit di Inggris difokus­kan pada masalah backstop, atau pengaturan untuk tetap membuka perbatasan dengan Irlandia jika Brexit berlaku.

May sedang mencari jaminan hukum dan politik, bahwa back­stop tidak akan membuat Ing­gris dirugikan dalam aturan kepabeanan Uni Eropa.

Beberapa pemimpin Uni Eropa telah menawarkan kla­rifikasi dan penjelasan. Mereka telah menyatakan akan men­coba untuk memastikan bahwa backstop tidak akan pernah ter­jadi. Sementara itu, dalam versi akhir draf kesepakatan yang mengatakan Uni Eropa siap untuk memeriksa apakah akan memberi jaminan lebih lanjut, telah dihapus.

“Rekan-rekannya sangat jengkel, sehingga dia hanya mendapat lebih sedikit dari­pada yang bisa dia dapatkan,” kata seorang sumber di UE. AFP/SB/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment