Koran Jakarta | November 22 2017
No Comments
Perubahan Iklim

UNFCCC Alokasikan USD500 Juta untuk Pemulihan Hutan

UNFCCC Alokasikan USD500 Juta untuk Pemulihan Hutan

Foto : REUTERS/Wolfgang Rattay
A   A   A   Pengaturan Font

BONN - Dana global yang ditetapkan di bawah United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) mengalokasikan sebanyak 500 juta dollar AS untuk negara-negara yang akan mendanai program pemulihan dan pelestarian hutan.


Sekretaris Negara Jerman, Jochen Flasbarth, mengatakan negara-negara yang mengurangi emisi dari program deforestasi dan degradasi hutan (REDD) dapat mengakses pembiayaan dari Climate Climate Fund (GCF) melalui mekanisme pembayaran di mana negara-negara akan dibayar berdasarkan hasil program mereka.

“Kita harus menghentikan deforestasi,” katanya di sela-sela Konferensi Iklim COP-23 di Bonn, Jerman, Selasa (14/11).


GCF adalah dana global yang ditetapkan di bawah UNFCCC untuk membiayai tindakan iklim di negara-negara yang mencoba mengurangi dampak perubahan iklim. Jerman adalah salah satu negara pendonor terbesar dalam skema pembiayaan ini.


Utusan UNFCCC di Indonesia, Nur Masripatin, menyambut baik inisiatif alokasi pendanaan ini karena akan membantu negara-negara di mana tindakan iklim utama lebih difokuskan pada sektor kehutanan, seperti Indonesia.

“Ini kabar baik. Tapi kami belum bisa mengakses pendanaan karena kami tidak dapat menghasilkan laporan berbasis hasil dari program REDD kami,” katanya.


Nur mengatakan bahwa pemerintah sedang mempersiapkan mekanisme yang dapat mengukur pencapaian program REDD di negara tersebut untuk dapat mengakses berbagai bentuk pendanaan iklim.


Sebelumnya, produser multimedia bagi SciDev.Net, Lou Del Bello, dalam laporannya yang dirilis di edd-monitor.org, mengatakan pembiayaan bagi sektor iklim, selain amat efisien di sektor seperti energi terbarukan, namun tidak efektif dalam melindungi hutan yang semakin terancam atau hak penghuninya.


Sedangkan direktur perusahaan penasihat Climate Focus, Charlotte Streck, mengatakan jauh lebih mudah untuk memasukkan uang ke ladang pembangkit energi angin.

“Anda memiliki proyek energi senilai ratusan juta dollar yang mudah diinvestasikan, mudah dinilai dan hasilnya dapat diukur,” ujarnya dalam peluncuran laporan tersebut di London yang dihadiri oleh delegasi pemimpin masyarakat adat dari Brasil, Indonesia dan negara berkembang lainnya.


Tata Kelola Gambut


Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, mengatakan perlu kesepakatan secara global dalam kaitan dengan berbagi pengalaman dan pendanaan untuk tata kelola gambut.

“Di Indonesia, luasan gambut mencapai lebih dari 20 juta hektare (ha), di Republik Demokratik Kongo luasan gambut 14 juta ha. Sehingga dunia memang menganggap tata kelola gambut secara global menjadi sangat penting,” kata Siti, di Paviliun Indonesia area Konferensi Perubahan Iklim PBB (Conference of Parties/COP) 23 di Bonn.


Menurut Siti, gambut mempunyai pengaruh besar karena mampu mengurangi emisi jika dikelola dengan baik sehingga secara global dirasa perlu ada kesepakatan untuk membuat tata kelola gambut, tetapi dalam arti berbagi pengetahuan, mengangkat pengertian tentang nilai-nilai gambut secara global. Ant/SB/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment