Koran Jakarta | June 17 2019
No Comments

UMKM di Tengah Perang Dagang

UMKM di Tengah Perang Dagang

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

oleh chandra bagus sulistyo

Peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai penyangga ekonomi nasional di tengah te­kanan global yang kian kurang kondusif perlu terus ditingkat­kan. Pelaku UMKM diharapkan tampil menjadi benteng perta­hanan terakhir perekonomian nasional dalam menggerakkan roda ekonomi, agar mampu ek­sis dan mandiri, sehingga tum­buh pemain global.

Perundingan dagang AS dan Tiongkok berakhir tanpa kesepakatan. Para investor meyakini kesepakatan pada akhirnya akan terjadi dan di­perkirakan Presiden AS, Don­ald Trump, akan bertindak jika pasar saham bergerak menuju kejatuhan. Inilah kesimpulan para analis, usai pertemuan AS-Tiongkok di Washington, pada 10 Mei 2019 lalu.

Bursa saham global mene­pis tarif baru yang dijatuhkan AS, yakni penaikan dari 10 persen menjadi 25 persen atas 5.700 produk impor Tiongkok senilai 200 miliar dollar AS. Para investor tetap yakin kese­pakatan bakal tercapai. Mereka juga gembira dengan komentar optimistis Presiden Trump usai pertemuan. Mereka meyakini baik Trump maupun Presiden Tiongkok, Xi Jinping, sama-sama membutuhkan kesepa­katan.

Pemerintah Tiongkok ber­harap, AS tidak salah menilai situasi saat ini serta tidak me­remehkan tekad Tiongkok untuk mempertahankan ke­pentingan-kepentingannya. Maklum, Tiongkok pada 13 Mei 2019 mengumumkan kenaikan tarif menjadi 25 persen atas 60 miliar dollar AS barang impor AS. Ini sebagai balasan atas ke­putusan AS yang menaikkan tarif dari 10 persen menjadi 25 persen atas 200 miliar dollar AS barang impor Tiongkok.

Langkah Tiongkok tersebut direspons Trump yang kem­bali menyerukan kepada per­usahaan-perusahaan AS untuk membuat lebih banyak produk di dalam negeri. Trump juga membela perang dagang yang dilancarkan terhadap Tiong­kok. Menurutnya, dapat saja AS segera membuat kesepakat­an dengan Tiongkok. Namun, dia masih menahan diri setelah Beijing dilapor­kan mementahkan ke­sepakatan yang hampir tercapai.

Menghadapi perang dagang AS dan Tiong­kok yang kian mer­uncing, harapannya UMKM menjadi kekuatan ekonomi nasional sebagai pengganti korporasi-korporasi besar. Ha­rus disadari, peran UMKM me­mainkan posisi penting di saat ekonomi global tidak stabil.

UMKM mampu menjadi lokomotif penggerak sektor riil untuk mendorong perekono­mian nasional. UMKM se­bagai pahlawan ekonomi nasional yang mampu survive di saat rupiah men­dapat te­kanan dollar. The Fed me­nunjukkan gelagat menaikkan suku bunga dan perang dagang antara AS dan Tiongkok yang kian memanas.

Dengan 59,26 juta UMKM menjadi kekuatan fundamen­tal perekonomian nasional. Selama ini UMKM berkon­tribusi penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) 61,41 persen. Malahan diprediksi pada 2020 jumlah unit UMKM bisa menembus 65 juta. Peran UMKM lainnya, penciptaan tenaga kerja, pengentasan ke­miskinan, serta pengurangan pengangguran.

Besar

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kontri­busi UMKM terhadap pereko­nomian cukup besar menca­pai 61,41 persen. Sementara itu, penyerapan tenaga kerja UMKM setidaknya mendomi­nasi hampir 99 persen dari total tenaga kerja nasional.

UMKM diharap­kan dapat me­ningkatkan skala usaha bisnisnya. Hal ini terlihat dari sikap UMKM yang minta perbankan melalui pemerintah untuk dapat menambah plafon KUR dari 117 triliun rupiah ta­hun 2018 menjadi 140 triliun rupiah (2019). Menurut data Bank Indonesia (BI), hingga 30 November 2018, total realisasi KUR mencapai sebesar 118 tri­liun rupiah atau 95,7 persen dari target tahun 2018 sebesar 123,8 triliun rupiah. Dari pe­nambahan plafon tersebut me­nunjukkan, geliat UMKM kian meningkat dan terus tumbuh.

Untuk itu, pemerintah dan semua pihak terkait perlu melakukan langkah-langkah strategis, agar UMKM tetap eksis dan optimal dalam me­ngembangkan usaha. Kendala utama UMKM saat ini akses ke lembaga keuangan dan pasar yang makin sulit. UMKM ka­lah bersaing dengan produk impor yang lebih murah. Pre­siden Joko Widodo minta para duta besar terus membantu mengenalkan dan memasar­kan produk UMKM. Di sisi lain, kedutaan juga sangat ter­buka mengajak UMKM ke luar negeri dalam me­masarkan produk.

Saat ini yang perlu ditingkatkan dari UMKM upaya pemasaran. Pemerintah harus mengedukasi pelaku UMKM agar melek teknologi. Pada era digital sekarang, perlu juga pe­laku UMKM diberi pengetahu­an terkait bisnis online. Saat teknologi sudah melingkupi sendi kehidupan bisnis, seha­rusnya pengusaha UMKM da­pat belajar atau menggandeng start-up dalam mengembang­kan bisnis.

Beberapa start-up lebih ber­orientasi social entrepreneur­ship menjadi celah pengusaha UMKM untuk melakukan kerja sama, sehingga dapat me­masarkan produk (e-market­place). Selain itu, penjualan melalui e-commerce juga su­dah selayaknya diinisiasi peng­usaha UMKM karena saat ini, bertransaksi di dunia maya sudah menjadi kebutuhan dan bagian new model business para pengusaha di semua bela­han bumi.

Terkait pemberian akses pembiayaan, solusi efektif un­tuk UMKM adalah melalui program kredit usaha rakyat (KUR). Program KUR untuk debitur yang feasible dan tidak bankable. Kriteria calon debitur feasible memiliki usaha dengan prospek bagus serta mampu mengembalikan pinjaman. Se­dangkan kriteria calon debitur tidak bankable tidak memiliki agunan yang cukup sesuai de­ngan ketentuan perbankan.

Pemerintah perlu mencipta­kan iklim usaha yang kondusif melalui penyederhanaan per­izinan, keringanan pajak, serta membuat kebijakan kompre­hensif yang tidak merugikan pengusaha UMKM. Pemba­ngunan tol panjang di satu sisi dapat meningkatkan mobilitas dan menekan biaya logistik. Di sisi lain jangan sampai UMKM di kota/kabupaten yang dilalui tol panjang tidak berkembang. Pemerintah harus memberi so­lusi secara tepat guna. Entah berupa pembentukan sentra kerajinan di rest area ataupun lokasi pemasaran di tempat strategis lainnya.

Perlu pengembangan kemi­traan antar-UMKM serta de­ngan pengusaha besar baik di dalam maupun luar negeri. Se­baiknya UMKM bekerja sama dengan para pengusaha besar agar dapat melakukan pen­dampingan, pengembangan, dan pemasaran produk. Untuk itu, para pengusaha UMKM ha­rus rajin mengajukan proposal kerja sama dan kemitraan da­lam sebuah jalinan yang saling menguntungkan.

Harapannya, pelaku UMKM dapat menunjukkan kemam­puan sebagai kekuatan fun­damental ekonomi nasional. Dengan begitu, perekonomian bangsa tetap kuat dan kokoh di tengah tekanan global yang tak kunjung usai. Penulis Bekerja di BNI

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment