Koran Jakarta | October 20 2019
No Comments
SAINSTEK

Uji Klinis Teknologi Kaki Bionik Sukses

Uji Klinis Teknologi Kaki Bionik Sukses

Dengan kaki bionik, pasien kaki amputasi bisa merasa bahwa mereka memiliki tubuh sendiri
A   A   A   Pengaturan Font
Berkat teknologi kaki neuroprostetik baru, pasien berhasil menggabungkan sebagian kakinya dengan kaki bioniknya. Metode ini sukses saat uji klinis.

Pasien yang kehilangan kaki akibat amputasi tidak mesti harus menggunakan bantuan kursi roda untuk bergerak atau berjalan. Pasien bisa menggunakan alat bantu tongkat atau kaki palsu. Yang mutakhir, pasien bisa memanfaatkan teknologi kaki bionik. Ya, Para ilmuwan berhasil membantu orang yang diamputasi terbantu dengan keberadaan kaki palsu bionik.

Dengan kaki bionik, seseorang yang kehilangan kakinya bisa lebih leluasa bergerak saat mereka mengatasi berbagai rintangan. Ilmuwan mengatakan bahwa kaki bionik tersebut mampu membuat mereka merasa seperti bagian dari tubuh mereka sendiri, terutama karena umpan balik indera dari kaki palsu yang dikirim ke saraf kaki.

Salah seorang penerima kaki bionik, Djurica Resanovic mengatakan ia kehilangan kakinya karena kecelakaan sepeda motor beberapa tahun yang lalu yang mengakibatkan bagian atas lutusnya di amputasi.

Berkat teknologi kaki neuroprostetik baru, Resanovic berhasil menggabungkan sebagian kakinya dengan kaki bioniknya selama uji klinis di Beograd, Serbia. “Setelah bertahun-tahun, saya bisa merasakan kaki saya lagi, seolah-olah itu adalah kaki saya sendiri,” kata Resanovic tentang prototipe kaki bionik.

“Itu sangat menarik. Kamu tidak perlu berkonsentrasi untuk berjalan, kamu bisa melihat ke depan dan melangkah. Kamu tidak perlu melihat di mana kakimu untuk menghindari terjatuh,” kata Resanovic.

 

Berjalan dengan Insting

 

Para ilmuwan dari konsorsium Eropa yang dipimpin oleh Lembaga Swiss, ETH Zurich dan Sensop Senshrs spin-off EPFL, uji klinis ini bekerja sama dengan lembaga-lembaga di Beograd, Serbia. Mereka berhasil mengkarakterisasi dan menerapkan teknologi kaki bionik dengan tiga orang yang kakinya diamputasi. Teknologi ini muncul dalam Science Translational Medicine.

“Kami menunjukkan bahwa upaya mental yang lebih sedikit diperlukan untuk mengendalikan kaki bionik. Ini karena orang yang diamputasi merasa seolah-olah kaki palsu mereka adalah milik tubuh mereka sendiri,” jelas Stanisa Raspopovic, profesor ETH Zurich dan salah satu pendiri spin-off EPFL SensArs Neuroprosthetics, yang memimpin penelitian.

Dia melanjutkan, metode ini adalah prosthesis pertama di dunia untuk amputasi kaki di atas lutut yang dilengkapi dengan umpan balik indera. “Kami menunjukkan bahwa umpan balik sangat penting untuk menghilangkan beban mental mengenakan kaki palsu yang, pada gilirannya, mengarah pada peningkatan kinerja dan kemudahan penggunaan,” katanya.

Mengenakan penutup mata dan penutup telinga, Resanovic dapat merasakan prototipe kaki bioniknya berkat informasi sensorik yang dikirim secara nirkabel melalui elektroda yang dipasang ke dalam sistem saraf. Elektroda ini menembus saraf tibialis yang utuh alih-alih membungkusnya. Pendekatan ini telah terbukti efisien untuk studi tentang tangan bionik yang dipimpin oleh Silvestro Micera.

Resanovic melanjutkan, “Saya tahu kapan mereka menyentuh (jempol kaki), tumit, atau di mana saja di kaki. Saya bahkan bisa tahu seberapa banyak lututnya tertekuk.” Berkat sensasi terperinci dari telapak kaki buatan dan dari lutut buatan, ketiga pasien dapat bermanuver melalui berbagai rintangan tanpa beban melihat anggota tubuh buatan mereka saat mereka berjalan. Mereka bisa tersandung benda namun mengurangi jatuh. Yang paling penting, pencitraan otak dan tes psikofisik menegaskan bahwa otak kurang diminta dengan kaki bionik.

Dengan hal itu, akan lebih banyak kapasitas mental yang tersedia untuk berhasil menyelesaikan berbagai tugas. Hasil ini melengkapi studi terbaru yang menunjukkan manfaat klinis dari teknologi bionik, seperti mengurangi rasa sakit dan kelelahan.

“Kami mengembangkan teknologi umpan balik indera untuk menambah perangkat prostetik,” jelas Francesco Petrini, CEO dan salah satu pendiri SensArs Neuroprosthetics yang juga memandu upaya untuk membawa teknologi ini ke pasar.

“Investigasi lebih dari 3 bulan. Yakni dengan lebih banyak subjek, dan dengan penilaian di rumah. Itu harus dilaksanakan untuk memberikan data yang lebih kuat untuk menarik kesimpulan yang signifikan secara klinis tentang peningkatan kesehatan dan kualitas hidup pasien,” kata Petrini.

Prinsip neuroengineering yang mendasar adalah tentang menggabungkan tubuh dan mesin. Ini melibatkan meniru sinyal-sinyal listrik yang biasanya diterima sistem saraf dari kaki asli orang itu sendiri. 

 

nik/berbagai sumber/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment