Koran Jakarta | July 24 2017
No Comments
Konflik Kawasan I Dubes UEA, Yousef al-Otaiba, Menyangkal Pemberitaan “Washington Post”

UEA Adu Domba Qatar-Negara Arab

UEA Adu Domba Qatar-Negara Arab

Foto : istimewa
Yousef al-Otaiba
A   A   A   Pengaturan Font

Ketegangan di kawasan Teluk masih terjadi, pasalnya sejumlah negar ayang tergabung dalam Uni Emiat Arab masih tetap menilai bahwa Qatar belum berhenti mendukung kelompok radikal.

WASHINGTON – Sengketa diplomatik antara Qatar dan negara-negara Teluk semakin runyam. Surat kabar Washington Post mengutip pernyataan dari sumber resmi intelejen Amerika Serikat (AS), bahwa Uni Emirat Arab (UEA) telah menyusun rencana pada akhir Mei lalu untuk membajak media sosial Pemerintah Qatar dan situs berita resmi negara itu.

Pembajakan itu ditujukan untuk mengunggah sebuah pernyataan, yang seolah berasal dari Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani. Washington Post dalam pemberitaannya menyebut pada akhir Mei lalu, muncul sebuah pernyataan dari al-Thani yang memuji Hamas dan mengatakan Iran adalah sebuah kekuatan Islam.

Pemerintah Qatar segera mengkonfirmasi bahwa hackers telah mengunggah pernyataan palsu yang mencatut nama Emir Qatar. Namun, penjelasan ini ditolak oleh negara-negara Teluk.

Washington Post mewartakan, sejumlah pejabat di agen intelejen AS dalam sepekan terakhir telah mempelajari analisa informasi baru yang memperlihatkan beberapa pejabat tinggi pemerintah UEA mendiskusikan rencana untuk membajak data Pemerintah Qatar pada 23 Mei. Namun ketika itu, belum diketahui apakan UEA akan membajak situs berita tersebut atau membayar media itu untuk menerbitkan statement palsu.

Duta Besar UEA, Yousef al-Otaiba, menyangkal pemberitaan Washington Post tersebut dan menyebutnya sebagai berita palsu.UEA merupakan satu dari 4 negara Arab yang mengembargo ekonomi Qatar.

“Inilah perilaku sesungguhnya Pemerintah Qatar. Mendanai, mendukung dan membiarkan para militan bergerak mulai dari Taliban, Hamas dan Qadafi. Pemerintah Qatar menghasut kekerasan, mendorong radikalisme dan merusak stabilitas negara-negara tetangganya. Berita yang ditulis Washington Post hari ini bahwa kami membajak Pemerintah Qatar, tidak benar,” demikian keterangan tertulis al-Otaiba.

Sebelumnya, Federal Bureau of Investigation (FBI) diketahui telah bekerjasama dengan Pemerintah Qatar untuk membuktikan pembajakan tersebut. Departemen Luar Negeri AS, menolak mengomentari hal ini.

Butuh Pengawasan

Pada bagian lain, Anwar Gargash, Menteri Luar Negeri UEA mengatakan sebuah pengawasan internasional dibutuhkan dalam mengatasi kebuntuan dalam sengketa diplomatik Qatar dan negara-negara tetangganya. Gargash pun mengklaim tekanan yang diarahkan pada Pemerintah Qatar mulai membuahkan hasil.

“Kami membutuhkan sebuah solusi kawasan dan pengawasan internasional,” kata Gargash, Senin (17/7) sebelum bertolak ke ibu kota London.

Menurutnya, diperlukan kejelasan bahwa Pemerintah Qatar tidak lagi mendukung para militan garis keras, yang telah menyebarkan teror. Saat didesak lebih lanjut, Gargash enggan menjelaskan pengawasan internasional semacam apa yang diharapkan pihaknya.

Sekarang ini, total ada 10 negara Arab yang memutuskan hubungan diplomatik dengan Pemerintah Qatar. Arab Saudi, UEA, Bahrain dan Mesir pada 5 Juni lalu bahkan menjatuhkan embargo ekonomi dan akses transportasi pada Doha.

Tindakan tegas ini diambil karena Pemerintah Qatar dituduh telah mendanai para ekstrimisme dan bersekutu dengan Iran, rival Arab Saudi di Timur Tengah. Doha menyangkal tuduhan tersebut. uci/rtr/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment