Koran Jakarta | December 16 2018
No Comments
suara daerah

Tumbuhkan Semangat Wirausaha Warga Surabaya

Tumbuhkan Semangat Wirausaha Warga Surabaya

Foto : antara / M RISYAL HIDAYAT
A   A   A   Pengaturan Font

Kehadiran ekonomi kreatif berperan penting dalam perekonomian nasional sehingga mampu menyumbang Pendapatan Do­mestik Bruto (PDB) hingga 922 triliun rupiah pada 2016. Jum­lah itu diperkirakan akan terus naik 10 persen setiap tahun.

Pemerintah Kota Surabaya bersama sejumlah pihak sukses menjadi tuan rumah Startup Nations Summit ketujuh. Ajang tahunan yang mengumpulkan jaringan pembuat kebijakan kewirausahaan dari seluruh dunia untuk mengidentifikasi dan mengungkit kebijakan inovasi dan bisnis baru yang di­dorong sektor publik, terutama wirausahawan muda.

Untuk mengetahui apa saja yang diakukan dalam ajang Startup Nations Summit pada 14–18 November 2018 serta yang diraih dari kegiatan terse­but, wartawan Koran Jakarta, Selocahyo, berkesempatan mewawancarai Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, di Surabaya, baru-baru ini. Beri­kut petikan selengkapnya.

Apa latar belakang kegia­tan Startup Nations Summit?

Negara kita dihuni jumlah penduduk besar, pastinya dii­kuti dengan tingkat konsumsi kebutuhan yang tinggi. Banyak negara besar dengan jum­lah penduduk kecil, mampu berkembang pesat ekonominya. Apalagi, seperti Jepang dan Eropa, tenaga kerja manu­sia sudah banyak digantikan oleh robot.

Dengan begitu, kebutuhan pegawai berkurang?

Kebutuhan pegawai di dunia industri lambat laun terus menurun. Perkembangan teknologi yang semakin pesat, membuat beberapa perusahaan memilih robot untuk menggan­tikan tenaga manusia. Mobil-mobil di Jepang dan Eropa, semuanya sudah pakai robot.

Artinya, daya tampung pegawai juga sedikit. Ka­lau menunggu jadi pegawai terus kapan? Contohnya kami mengundang investor, buat pabrik di Surabaya. Tapi dia juga bawa robotnya, untuk apa dia bingung cari orang kalau bisa ditangani robot. Enak ti­dak perlu diurus dan memberi makan.

Tujuan acara Startup Na­tions Summit?

Acara ini merupakan salah satu upaya kami mendorong angkatan-angkatan baru, anak-anak muda untuk mem­buat start up. Se­lama ini, banyak anak-anak muda yang lebih condong menjadi pekerja, bu­kan pen­cipta lapangan kerja. Penduduk Surabaya terdiri dari 40 per­sen usia muda, sehingga saya ingin anak-anak Surabaya, dan anak-anak lainnya di Indonesia bergerak mengikuti perubahan.

Kami sengaja ngotot menjadi tuan rumah Startup Nations Summit ini karena ingin membangunkan anak-anak Surabaya, dunia sudah berubah. Saya buat acara selama sekitar satu minggu dengan menggandeng Startup Nations Summit, Bekraf. Kami menggelar acara innocreativa­tion untuk membuat shock, se­hingga anak muda yang berjiwa pengusaha dan sedang merintis usaha, bisa bergerak dan berani mengambil keputusan.

Alasan lain?

Saya tidak ingin anak muda Surabaya saling berebut lapan­gan kerja, ti­dak perlu mencari dan menunggu lowongan. Sudah saatnya un­tuk bisa menciptakan peker­jaan sendiri.

Bagaimana iklim kewirau­sahawan di Surabaya?

Saya bersyukur karena warga Surabaya mau diajak berwirausaha, sekarang perger­akannya sangat pesat. Terlihat dari banyaknya peserta Pahla­wan Ekonomi dan Pejuang Muda yang rutin digelar setiap minggu. Saya mulai dengan 89 kelompok dan saat ini sudah mencapai 9.500 lebih kelompok yang tumbuh di Surabaya.

Tentunya saya masih ingin banyak lagi start up yang tumbuh. Kalau kita punya perusahaan, kita juga bisa jadi pegawainya. Jadi bisa merang­kap. Makanya, saya kemarin ngotot bagaimana mengubah mindset kita supaya bisa mem­buka usaha.

Faktor apa saja yang bisa jadi pendukung lahirnya wirausahawan?

Kota Surabaya telah didu­kung dengan berbagai faktor yang memadai, seperti wila­yah geografis dan transpor­tasi. Kalau kita buka usaha, harusnya kita jadi peme­nang. Tentunya kita lebih murah, karena kita jalur lebih dekat, karena jalur transportasi lebih murah.

Peluang berkarier di pemerintahan?

Hampir lima tahun ini tidak ada penerimaan ca­lon pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN). Ketika awal saya menjabat, ASN di lingkungan pemkot mencapai 23 ribu orang. Namun terus menurun hingga sisa 13 ribu orang. Yang paling banyak dari kalangan tenaga pendidik. Anak-anak muda agar tidak serta-merta berpangku tangan mengandal­kan pemerintah.

Pemerintah terus berupaya memberikan berbagai fasi­litas. Masyarakat juga harus berperan mendukung pe­merintah dalam mengurangi angka pengangguran dengan membuka lapangan usaha. Ti­dak bisa semuanya bergantung pada pemerintah. Makanya kita mencoba aksesnya. Bekraf juga akan bantu.

Dalam rangkaian acara juga digelar seminar soal smart city, bisa dijelaskan?

Penerapan smart city di Surabaya terbagi menjadi enam bagian, yaitu smart people, smart living, smart government, smart economy, smart mobility, dan smart environment. Enam poin ini yang menjadi parameter un­tuk mengembangkan smart city di Kota Surabaya. Peran smart city membuat pemer­intah mampu membangun kota serta masyarakatnya meskipun dengan biaya yang terbatas. Apa kita kerja harus menunggu uang dulu, kan tidak mungkin. Kita harus berani melangkah.

N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment