Trump Setuju Filipina Akhiri Pakta Militer | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 20 2020
No Comments
Kerja Sama Pertahanan

Trump Setuju Filipina Akhiri Pakta Militer

Trump Setuju Filipina Akhiri Pakta Militer

Foto : AFP/Nicholas Kamm
A   A   A   Pengaturan Font

WASHINGTON DC – Presi­den Amerika Serikat (AS), Don­ald Trump, menyatakan dirin­ya tak keberatan atas putusan Presiden Filipina, Rodrigo Du­terte, untuk mengakhiri pakta militer Filipina-AS. Pernyataan Presiden Trump itu berlawan­an dengan Menteri Pertahanan Mark Esper yang menyatakan putusan Duterte itu amat dis­esalkan karena AS dan sekutu­nya sedang menekan Tiongkok untuk mematuhi peraturan in­ternasional di kawasan Asia.

“Saya tak keneratan jika mereka ingin melakukan hal itu,” kata Presiden Trump di­hadapan awak media di Ge­dung Putih pada Rabu (12/2). “Yang jelas putusan itu bisa menghemat banyak uang ka­mi,” imbuh dia.

Saat ditanya apakah ada hal yang perlu dilakukan agar ia berubah pikiran, Trump men­jawab bahwa pandangannya berbeda dengan orang lain.

Presiden Trump memang telah berulang kali menyata­kan ingin membawa pulang pasukan AS yang ditempatkan di luar negeri dan meminta se­kutu militernya untuk memba­yar jika pasukan AS turut ditu­gaskan di luar negeri.

Dalam pernyataannya, Pres­iden Trump mengatakan bah­wa AS telah menolong Filipi­na untuk mengalahkan kelom­pok militan Islamic State (ISIS). Trump menyatakan dirinya memiliki hubungan yang amat baik dengan Duterte dan men­gatakan “Tunggu saja apa yang akan terjadi,”.

Presiden Duterte pada Se­lasa (11/2) menyatakan akan mengakhiri pakta militer de­ngan AS yang bernama Visit­ing Forces Agreement (VFA). Kedutaan Besar AS di Manila menyebut putusan Duterte itu sebagai masalah serius yang bisa menimbulkan akibat ter­tentu.

Putusan Duterte diambil setelah AS manolak permoho­nan visa bagi Ronald dela Ro­sa, mantan kepala polisi yang memimpin kampanye berd­arah pemberantasan narkoba yang digagas Duterte.

Persulit AS

Dengan berakhirnya pak­ta militer AS-Filipina itu, akan menyulitkan Washington DC untuk memperluas kepent­ingan militernya di kawasan Asia-Pasifik terutama saat am­bisi militer Tiongkok semakin meningkat.

Sejumlah senator di Filipi­na menolak putusan Duterte itu dengan menyatakan bahwa Presiden Filipina itu tak memi­liki kewenangan untuk men­gakhiri secara sepihak pakta internasional yang telah dirat­ifikasi senat.

VFA sendiri amat pent­ing bagi keseluruhan aliansi AS-Filipina karena akan me­netapkan aturan untuk ten­tara AS beroperasi di Filipi­na. Washington DC menyebut hubungan itu sebagai sebuah sekutu dekat, meskipun ada keluhan dari Duterte yang menuding kemunafikan dan perlakuan buruk AS.

Mengakhiri VFA juga akan mempersulit upaya Washing­ton DC untuk mempertahank­an kehadiran pasukan Asia-Pasifik di tengah-tengah gese­kan atas kehadiran personel AS di Jepang dan Korea Selatan dan masalah keamanan terkait Tiongkok dan Korea Utara.

Beberapa anggota parle­men di Filipina khawatir jika VFA berakhir, maka dua pakta aliansi lain dengan AS seper­ti 2014 Enhanced Defense Co­operation Agreement dan 1951 Mutual Defense Treaty, tidak akan relevan lagi.

Penyokong VFA menga­takan pakta militer itu telah membantu mengalangi mili­terisasi Tiongkok di Laut Tiong­kok Selatan dan bantuan dana sebesar 1,3 miliar dollar AS bi­sa membantu pasukan Filipina yang kekurangan sumber daya. ang/AFP/I-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment