Koran Jakarta | September 24 2019
No Comments
Politik AS I Kebijakan Luar Negeri Kemungkinan Bakal Bergeser ke Arah Dialogis

Trump Pecat John Bolton

Trump Pecat John Bolton

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Dinamika politik pemerintahan AS terus mencari keseimbangan. Pergantian pejabat tinggi menjadi tanda bahwa Presiden Trump menginginkan perubahan kebijakan luar negerinya.

WASHINGTON DC - Presi­den Amerika Serikat (AS), Don­ald Trump, memecat Penasihat Keamanan Nasional yang dike­nal sebagai sosok garis keras, John Bolton, Selasa (10/9). Langkah ini dipandang akan semakin mendorong Trump untuk berunding dengan rival-rival AS di Afghanistan, Korea Utara (Korut) dan wilayah-wilayah konflik lainnya. Peng­ganti Bolton akan diumumkan pekan depan.

Walau begitu, Trump me­nyatakan bahwa dirinya sangat tidak setuju dengan Bolton un­tuk beberapa kebijakan. “Saya memberi tahu John Bolton tadi malam bahwa nasehatya ti­dak diperlukan lagi di Gedung Putih. Saya sangat tidak setuju dengan banyak sarannya, se­perti juga orang yang lainnya di pemerintahan.” tulis Trump dalam serangkaian cuitannya di media sosial.

Diketahui bahwa Bolton me­rupakan pejabat keempat yang menjabat Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun terakhir.

Secara terpisah, Bolton me­nyebut Trump tidak memecat dirinya dan bersikeras menye­but dia yang berinisiatif meng­undurkan diri. “Saya menawar­kan diri untuk mengundurkan diri semalam dan Presiden Trump mengatakan, ‘Mari kita bicarakan itu besok’,” tegas Bol­ton via Twitter.

Bolton, yang telah dijadwal­kan untuk memberikan kon­ferensi pers di Gedung Putih, membantah dipecat dan bersi­keras bahwa ia telah mengun­durkan diri.

Berita itu datang beberapa hari setelah Trump menimbul­kan keributan dengan meng­ungkapkan dia membatalkan pembicaraan rahasia dengan kelompok Taliban, Afghanis­tan.

Bolton adalah sosok veteran dan kontroversial yang terkait erat dengan invasi Irak dan menyarankan kebijakan luar negeri AS yang agresif. Dia dili­hat sebagai salah satu kekuatan pendorong utama dalam pen­dekatan Gedung Putih ke Iran, Korut, Venezuela dan di wila­yah lain.

Menurut laporan media AS, tawaran damai Trump yang luar biasa namun mengalami gagal karena tak bisa meng­hadirkan para pemimpin Tali­ban ke dalam perundingan di Camp David akhir pekan lalu yang memicu pertikaian antara Trump dan Bolton.

Sambut Pemecatan

John Bolton memang dike­tahui sering berbeda pandang­an, bahkan bersaing dengan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo. Selama beberapa pe­kan terakhir, misalnya dalam kasus Iran, keduanya sering mengeluarkan pernyataan ber­tolak belakang.

Menlu Pompeo menyatakan bahwa kepergian Bolton tidak boleh ditafsirkan sebagai pe­rubahan strategi Trump yang patut digembar-gemborkan.

“Jangan berasumsi bahwa karena seseorang dari kita me­ninggalkan kebijakan luar ne­geri garis keras, lalu Presiden Trump akan berubah secara cepat,” kata Menlu Pompeo.

Dalam konferensi pers, Menlu Pompeo secara terang-terangan mengatakan bahwa pandangan kebijakan luar ne­gerinya berbeda dengan pan­dangan John Bolton, yang dike­tahui mengambil posisi keras terhadap Iran dan secara tegas menolak dialog.

Sementara Menteri Ke­uangan Steve Mnuchin me­mandang bahwa hengkangnya Bolton akan mengisyaratkan keterbukaan Trump untuk se­buah pertemuan tanpa syarat dengan Presiden Iran, Hassan Rouhani di sela-sela sidang Majelis Umum PBB di New York akhir bulan ini. Selama menjadi penasihat, Bolton menginginkan perbaikan hu­bungan dengan Iran melalui pergantian rezim.

Para pejabat Iran sekarang menyambut pemecatan Bol­ton.”  ang/AFP/I-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment