Koran Jakarta | December 15 2017
No Comments
Hubungan Bilateral I Palestina Kecam Kebijakan Trump

Trump Minta Netanyahu Redam Sengketa Pemukiman

Trump Minta Netanyahu Redam Sengketa Pemukiman

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Presiden Trump bersumpah akan bekerja keras untuk mewujudkan sebuah kesepakatan damai antara Israel-Palestina.

WASHINGTON. – Saat melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada Rabu (15/2) waktu setempat, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan menolak melanjutkan komitmen AS tentang solusi dua negara untuk mengakhiri konflik Israel-Palestina. Trump mendesak Netanyahu agar meredam pembangunan permukiman di wilayah yang dipersengketakan dengan Palestina.

Dalam pembicaraan tatap muka dengan Netanyahu, Trump bersumpah akan bekerja keras untuk mewujudkan sebuah kesepakatan damai antara Israel-Palestina dan untuk itu dia memerlukan kompromi kedua belah pihak. Artinya, AS akan menyerahkan pada pihak-pihak yang bersengketa untuk memutuskan setiap kesepakatan yang diambil.

Sayang, Trump tidak menawarkan jalan keluar untuk mencapai kata sepakat tersebut, yang harus melalui banyak prosedur dan kemarahan masyarakat Palestina karena diabaikannya tujuan mereka untuk mendirikan negara yang berdaulat. “Saya ingin melihat Anda sedikit menahan pembangunan permukiman,” kata Trump, kepada Netanyahu, Rabu (15/02) waktu setempat.

Berhenti Menghasut

Pernyataan Trump tersebut membuat pemimpin sayap kanan Israel itu sesaat terkejut. Sebab selama ini, Netanyahu berkeras bahwa pembangunan wilayah permukiman yang dilakukan pihaknya bukan inti konflik antara Israel–Palestina dan pihaknya akan melanjutkan pembangunan permukiman warga di Tepi Barat, sebuah wilayah Palestina yang sekarang diduduki Isreal. Seusai berjumpa dengan Trump, Netanyahu mengatakan dia berharap bisa mencapai sebuah pemahaman dengan Trump terkait pembangunan permukiman.

Trump menyerukan seruan Netanyahu kepada masyarakat Palestina agar mengakui Israel sebagai sebuah negara Yahudi, hal yang masyarakat Palestina enggan lakukan.

Trump juga meminta masyarakat Palestina berhenti menghasut masyarakat Israel. Saat yang sama, dia pun berjanji untuk mewujudkan perdamaian besar-besaran dan kesepakatan yang lebih baik. Namun, Trump sama sekali tidak menyinggung adanya ketidakpercayaan dan tantangan lain yang telah menjadi batu sandungan dalam negosiasi-negosiasi damai Israel-Palestina sejak 2014.

Terhadap sikap Trump yang menolak melanjutkan komitmen AS tentang solusi dua negara untuk mengakhiri konflik Israel-Palestina, masyarakat Palestina mengecamnya. Mereka menyebut sikap tersebut akan mencederai kredibilitas AS.

Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, menuntut agar pembangunan permukiman penduduk sepenuhnya dihentikan dan meminta agar Trump memegang komitmen AS atas solusi dua negara dan hukum internasional.

Sekjen PBB, Antonio Guterres, pun mengecam pengabaian gagasan Palestina sebagai negara berdaulat yang sejajar dengan Israel. Sebab hal itu bukan alternatif.

Pada bagian lain, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel Al-Jubeir, menyatakan optimistis dalam menghadapi tantangan-tantangan di Timur Tengah dan sangat menantikan kesempatan untuk bekerja sama dengan pemerintahan Trump.

Optimisme itu disampaikan menanggapi keputusan Trump untuk meninggalkan solusi dua negara dalam upaya penyelesai an konflik sengketa wilayah Isreal-Palestina. “Kami sangat menantikan bekerja sama dengan pemerintahan Trump untuk mengatasi berbagai isu di kawasan,” kata Al-Jubeir. uci/Rtr/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment