Koran Jakarta | August 24 2019
No Comments
Politik Amerika

Trump Ancam Tutup Perbatasan AS-Meksiko

Trump Ancam Tutup Perbatasan AS-Meksiko

Foto : AFP/FREDERIC J. BROWN
PERBATASAN AS-MEKSIKO - Petugas patroli perbatasan mengendarai All Terrain Vehicle (ATV) melewati prototipe dinding perbatasan yang diusulkan Presiden AS Donald Trump di San Diego, California, beberapa waktu lalu.
A   A   A   Pengaturan Font

WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengancam akan menutup perbatasan negaranya dengan Meksiko. Dalam kicauannya di Twitter, akhir pekan lalu, Trump bah­kan mengungkapkan batas waktu terkait salah satu perba­tasan tersibuk di dunia itu.

“Jika Meksiko tidak segera mencegah migran ilegal yang masuk dari perbatasan selatan, saya bakal menutup sebagian besar atau mungkin seluruh­nya pekan depan,” kata Trump.

Presiden ke-45 itu melanjutkan, seharusnya Meksiko bisa menangkal imigran ilegal dengan mudah. “Namun, mereka hanya mau uang kami,” katanya.

Sementara itu, Presiden Meksiko, Andres Manuel Lo­pez Obrador, saat menyapa pendukungnya di Poza Rica, mengatakan dirinya tidak ingin dibenturkan dengan Trump.

“Donald Trump punya caranya sendiri melihat sesuatu. Saya ingin menegaskan, kami tidak ingin bertengkar dengan AS. Damai dan cinta,” tutur Obrador.

Namun, Presiden sayap kiri itu mengatakan orang-orang di kawasan Amerika Tengah hanya sekadar mencari nafkah. Jadi, migrasi seharusnya tidak perlu dikecam.

Sejak dilantik pada Desem­ber 2018, Obrador berupaya mengembangkan hubungan baik dengan Trump. Obrador ingin Washington menyuntik­kan dana 10 miliar dollar AS, sekitar 142,2 triliun rupiah, guna memerangi kemiskinan yang dianggap akar imigran ilegal itu.

Langkah Konkret

Saat berpidato di Michigan, Trump mengancam bakal me­nutup perbatasan. Penutupan itu bakal dia lakukan jika saja Meksiko tidak memberi­kan langkah konkret dalam menanggulangi gelombang imigran ilegal yang memasuki AS.

Selain mengancam Meksiko, pemerintahan Trump juga mempertimbangkan memberikan sanksi kepada perusahaan yang berbisnis dengan pemerintah Venezuela. Ini dilakukan untuk memotong pendapatan pemerintahan Venezuela pimpinan Presiden Nicolas Maduro. “Kami berger­ak tepat ke arah ini,” kata John Bolton, penasihat keamanan nasional Gedung Putih.

Saat ini, AS dan sejumlah negara Barat serta mayoritas negara di Amerika Latin men­dukung tokoh oposisi Juan Guaido.

Guaido telah mendeklara­sikan diri sebagai pengganti Maduro dengan posisi Presiden interim. Guaido menuding Maduro curang pada Pe­milu 2018.

Selama ini, 90 persen pendapatan Venezuela berasal dari ekspor minyak, dan AS meru­pakan pembeli minyak terbe­sar dari Venezuela. Namun, AS mengenakan sanksi penjualan minyak bumi kepada perusa­haan minyak Venezuela yaitu PDVSA, pada Januari 2019. Ini membuat perusahaan AS berhenti membeli minyak dari Venezuela. AFP/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment