Koran Jakarta | December 17 2017
No Comments
Kebijakan AS I Dubes Donovan Sebut Pemindahan Kedubes AS Tak Ganggu “Two-state Solution”

Trump Akan Akui Yerusalem Jadi Ibu Kota Israel

Trump Akan Akui Yerusalem Jadi Ibu Kota Israel

Foto : REUTERS/Mohammed Salem
Bakar Bendera I Warga Palestina di Kota Gaza membakar bendera Israel dan Amerika Serikat saat aksi protes terkait rencana pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem pada Rabu (6/12). Selain memindahkan Kedubes AS, pemerintah AS juga akan mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.
A   A   A   Pengaturan Font

Demi mewujudkan janjinya di masa kampanye, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, siap menyatakan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel dan kantor Kedubes AS akan segera dipindahkan ke Yerusalem.

WASHINGTON DC – Meski dikecam oleh negara-negara Barat dan sekutunya dari negara-negara Arab, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump tetap pada pendiriannya untuk mengumumkan pengakuan pemerintah AS bahwa Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel dan pihaknya akan segera memindahkan kantor kedutaan besar AS disana. Rencananya, pengumuman penting itu akan disampaikan Trump pada Rabu (6/12) waktu setempat.

Trump bahkan sudah menunjuk Kementerian Luar Negeri AS untuk mencari lokasi yang cocok untuk merelokasi kantor Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. Langkah Trump ini mendobrak kebijakan lawas AS dan berpotensi menciptakan kerusuhan.

Rencananya, Presiden Trump akan menandatangani sebuah surat pernyataan keamanan nasional untuk memindahkan kantor kedutaannya mengingat sekarang ini AS tidak memiliki sebuah rancangan struktur ideal bagi kantor kedutaan di Yerusalem. Sumber di pemerintah AS, yang tidak mau dipublikasi identitasnya menjelaskan, proses membangun sebuah kantor Kedutaan AS bisa memakan waktu tiga tahun sampai empat tahun.

Mengakui Yerusalem sebagai wilayah Israel sebetulnya salah satu tujuan yang dikampanyekan Trump pada 2016, dimana selama berpuluh tahun dalam kebijakannya pemerintah AS telah melihat Yerusalem sebagai bagian dari solusi dua negara bagi masyarakat Israel dan Palestina, yang sama-sama menginginkan Yerusalem timur sebagai ibu kota mereka. Walhasil, sekutu-sekutu AS di Timur Tengah kompak memperingatkan Washington DC atas reaksi keras yang bakal muncul atas keputusan Trump.

“Presiden sangat yakin ini adalah sebuah pengakuan terhadap kenyataan. Kita akan bergerak maju dari sebuah kebenaran sejati yang tidak dapat disangkal. Ini hanya sebuah fakta,” kata sumber di pemerintah AS.

Sumber lain di pemerintah AS mengatakan keputusan Trump tidak ditujukan untuk memberikan keuntungan pada pemerintah Israel dan hal ini sudah disetujui bahwa status akhir Yerusalem akan tetap menjadi sebuah pusat kesepakatan damai antara Israel dan Palestina. Sumber tersebut juga menjelaskan, Trump pada dasarnya hanya mempertahankan kebenaran dasar bahwa Yerusalem adalah kursi bagi pemerintah Israel dan harus diakui.

Ancam Solusi

Menjawab rencana Trump tersebut, masyarakat Palestina menyatakan keputusan Trump berarti kecupan kematian bagi solusi dua negara. Keputusan Trump untuk memindahkan kantor kedutaan besar AS ke Yerusalem dalam beberapa waktu ke depan seperti menyiapkan alarm bahaya di sekitar Timur Tengah dan meningkatkan potensi kekerasan.

“Jika dia (Trump) berniat menyampaikan mengenai Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, itu artinya sebuah kecupan bagi kematian solusi dua negara. Dia sama saja dengan mendeklarasikan perang di Timur Tengah. Dia mendeklarasikan perang terhadap 1,5 miliar muslim dan ratusan juta umat Kristen, yang tidak akan mau tunduk berada di bawah hegemoni Israel,” kata Manuel Hassassian, kepala Perwakilan Palestina untuk Inggris dalam sebuah wawancara dengan BBC Radio, Rabu (6/12) waktu setempat.

Sementara itu Duta Besar AS untuk Indonesia, Joseph Donovan, mengatakan rencana Trump terhadap Yerusalem tidak mengganggu dukungan terhadap “two-state solution” atau solusi dua negara bagi Israel dan Palestina.

“Yang perlu ditekankan bahwa pemerintah AS tetap memiliki komitmen kuat terhadap kesepakatan jangka panjang antara Palestina dan Israel, dan itu juga termasuk pada kesepakatan solusi dua negara jika itu yang diinginkan oleh dua pihak,” kata Dubes Donovan di Kantor Wakil Presiden RI di Jakarta, Rabu.

Sejauh ini keuntungan secara politik bagi Trump dari tindakannya ini tidak jelas. Sebaliknya, keputusan Trump ini juga akan semakin membuat runyam niat orang nomor satu di AS itu untuk menciptakan kestabilan di Timur Tengah dan perdamaian dalam konflik perebutan wilayah Israel-Palestina serta ketegangan lain yang muncul.

Keputusan untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel muncul ketika penasihat senior presiden yang juga menantu Trump, Jared Kushner, memimpin upaya untuk menghidupkan kembali upaya perdamaian di kawasan Timur Tengah melalui sebuah cara yang nyata.  uci/Ant/Rtr/I-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment