Koran Jakarta | June 26 2017
No Comments

Trotoar Terintegrasi Gedung Bisa Kurangi Polusi

Trotoar Terintegrasi Gedung Bisa Kurangi Polusi

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Trotoar yang terintegrasi dengan gedung dinilai mampu mengurangi polusi bahkan mengurangi jumlah kendaraan. Setiap individu cukup berjalan kaki dari satu gedung ke gedung yang lain.

Gedung dan trotoar menjadi satu kesatuan yang tidak dipisahkan. Gedung yang terletak dipinggir jalan selalu membutuhkan trotoar untuk mengakomodasi penghuni gedung yang akan menuju maupun ke luar gedung. Di luar negeri, gedung dan trotoar terletak berdampingan tanpa pembatas pagar. Sementara di dalam negeri, seperti Jakarta, trotoar belum sepenuh mengakomodasi pejalan kaki.

Di sisi lain, masih banyaknya masyarakat yang lebih senang menggunakan kendaraan untuk berpindah dari satu gedung ke gedung lain. Belum lagi, trotoar kerap digunakan sebagai tempat mangkal pedagang kaki lima bahkan sebagai jalur kendaraan roda dua untuk menghindari macet.

Bagi Satya Heragandhi, Direktur Utama Jakarta Propertindo, trotoar dapat menghidupkan sebuah bangunan. Bangunan beton yang memiliki desain menawan belum sepenuhnya lengkap tanpa adanya jalur yang memberikan ruang untuk lalu lintas para pejalan kaki. “walaupun kelihatannya indah, ini masih bangunan beton. Kita memproduksi banyak banget bangunan beton. Kita membutuhkan segala sesuatu yang bisa connect ke masyarakat. Caranya gimana, saya nggak ngerti,” ujar dia dihadap sejumlah arsitek di Kemang, Jakarta Selatan, Senin (17/4).

Sementara, Ardzuna Sinaga, urban +, sebuah biro arsitek mengatakan bahwa pedestrian (pejalan kaki) di kota Jakarta masih tergolong mewah. Hal tersebut karena, Jakarta sebagai kota metropolitan yang memiliki semangat world city masih kekurangan infrastruktur, perbedaan manajemen terkait fasilitas publik  dan ketidakseimbangannya pembangunan fasilitas publik dan private. Di sisi lain, Jakarta memiliki perbedaan yang mencolok antara antara kelas menengah dan bawah.  Fasilitas publik seperti infratruktur akan menjembatani perbedaan kelas sosial di masyarakat.

Ardzuna mengatakan bahwa pedestrian terintegrasi di dalam kota perlu dilakukan secara integrasi. Sehingga kawasan seperi Senayan, CBD,  Rasuna Said, SCBD maupun Segitiga Karet dapat terhubung satu dengan lainnya. “Karena kalau enggak, masing-masing akan jadi pulau yang nggak berkomunikasi,” ujar dia yang tengah menggarap kawasan Segitiga Karet tersebut. 

Selain itu, pedestrian dapat terhubung dengan kawasan blok. “Konektifitas akan mengurangi peningkatan kendaraan dan mengurangi polusi,” ujar dia yang mengatakan pembangunan pedestrian tidak melupakan keamanan dan kenyaman pejalan kaki. Integrasi infrastruktur tersebut tidak lain untuk menyambut MRT dan LRT yang tengah digarap pemerintah. Sehingga untuk menuju satu gedung dengan lainnya, masyarakat bisa berjalan kaki tanpa menggunakan kendaraan. Untuk itu perlu ada kesediaan pemelik gedung untuk membangun pedestrian yang terkonektifitas.

Dinas Bina Marga DKI Jakarta mencatat bahwa trotoar di DKI Jakarta memiliki panjang 1300 kilometer. Jumlah tersebut dikalikan dua (sebelah kanan dan kiri) sehingga total 2600 kilometer. Saat ini, pemerintah memiliki proyek untuk pembangunan pedestrian dikawasan Sudirman Thamrin dengan nilai proyek 500 miliar rupiah yang dibiayai dua perusahaan, salah satunya Mitra Panca Persada. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment