Koran Jakarta | November 17 2018
No Comments
WAWANCARA

Tri Hanggono Achmad

Tri Hanggono Achmad

Foto : Koran Jakarta/teguh rahardjo
A   A   A   Pengaturan Font
Riset dan penelitian harus banyak dilakukan oleh para mahasiswa dan dosen perguruan tinggi, termasuk Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung. Ini penting karena dari riset inilah aneka inovasi dapat ditelorkan, yang ujungnya dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Unpad kini menyiapkan dana khusus guna mendukung lahirnya riset berkualitas, yaitu grand kepemimpinan akademik. Profesor yang mendapatkan dana ditargetkan bisa menciptakan profesor baru. Unpad juga memberikan kesempatan bagi dosen peneliti dan tenaga kependidikan menyelenggarakan aktivitas riset dan pengabdian kepada masyarakat.

Untuk mengetahui apa saja yang telah dan sedang dilakukan pimpinan Unpad mendukung lahirnya banyak riset di kampusnya, wartawan Koran Jakarta, Teguh Rahardjo, berkesempatan mewawancarai Rektor Unpad, Tri Hanggono Achmad, di Bandung, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Sejauh mana upaya Anda menjadikan Unpad sebagai universitas unggul di tingkat nasional, bahkan berkelas kelas dunia?

Kami melakukan evaluasi setiap tahun. Diidentifikasi apa masalah dan potensi yang dimiliki. Setelah kami pikirkan lebih dalam, kami berketetapan untuk kembali melihat keberadaan perguruan tinggi (PT), khususnya Unpad itu sebenarnya untuk apa. Kalau menurut saya, sejak awal, seperti keinginan Preisden Soekarno, kami ada untuk membantu masyarakat sekitar.

Namanya saja Padjadjaran, pasti dipersiapkan untuk membangun Jabar. Selama ini seolah kami larut dengan upaya mengejar menjadi kampus kelas dunia, larut dengan situasi global. Jadi seperti mengabaikan misi awal, memaksimalkan kekuatan lokal. Kami berketetapan kembali pada kemaslahatan masyarakat Jabar. Dari Jabar untuk Indonesia dan dunia.

Apa tidak kemunduran, memilih kembali ke lokal?

Kami memang mendapatkan kritik kuat, termasuk dari kalangan internal. Kami sudah nasional bahkan sudah kelas internasional, kok kembali menjadi fokus lokal. Profesor kami sudah go international, kok malah kembali ke lokal. Lalu kami jelaskan, negara lain pun saat ini semakin konsen pada potensi lokal yang dimilikinya.

Apakah negara lain hidup dari potensi negara lain? Tentu tidak. Korea Selatan dengan kekuatan lokal dan kemampuannya kini sangat maju. Lihatlah Singapura juga demikian. Mereka melihat kekuatannya sendiri, kami seharusnya demikian. Lihat kekuatan sendiri.

Jabar itu provinsi besar dengan jumlah penduduk yang sangat banyak. Ini potensi sumber daya manusa dan alam yang tak terbantahkan, tapi sepertinya terlupakan. Riset kami selama ini melupakan potensi yang ada di Jabar. Ini harus kembali lagi ke tujuan awal didirikannya Kampus Padjadjaran.

Jadi, sekarang fokus riset yang erat kaitannya dengan Jabar?

Kami membangun dan mengguatkan SDM dan kekuatan akademik. Makanya, human capital di Jabar ini jadi modal besar. Riset kini orientasinya memberikan hasil lokal. Walaupun memang pada awalnya tidak mudah menggeser arah kebijakan baru ini. Karena itu tadi, anggapan profesor yang sudah level nasional bahkan internasional menolak.

Orang luar negeri melihat potensi lokal Jabar jauh lebih besar, bahkan mengejar Jabar sebagai daerah investasi. Sebab, mereka tahu potensi kita. Jangan sampai kita malah tidak tahu potensi sendiri. Contohnya, Geopark Ciletuh Kabupaten Sukabumi, itu salah satu peran dari riset kami.

Apakah dengan begini jumlah riset di Unpad meningkat?

Ini yang mau kami dorong. Semua orang kini bisa melakukan riset, tetapi budaya riset ini harus tetap menjadi milik PT. Ini yang sedang kami kuatkan. Karena berapa besarnya riset itu tetap menjadi indikator kampus, belum berbicara hilirisasi risetnya. Jadi, budaya riset ini yang akan terus kami dikembangkan. Dua tahun terakhir ini kami genjot.

Hasilnya dalam dua tahun ini kami hasilkan publikasi dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Tahun ini, baru setengah tahun saja sudah tembus 420 publikasi internasional pada jurnal bereputasi, berstandar intrnasional. Kami sebenarnya tidak terlalu berharap banyak, apalagi sampai menembus world ranking. Bukan tujuan utama, tapi ternyata bisa dicapai Unpad. Sekarang, kami menembus peringkat empat secara nasional.

Untuk meningkatkan riset perlu sarana dan prasarana. Bagaimana dengan Unpad?

Tentu saja. Kunci riset itu ada di tangan profesor. Makanya, kami memberikan berikan grand kepemimpinan akademik. Profesor yang mendapatkan dana ditargetkan bisa menciptakan profesor baru. Profesor ini harus memimpin riset yang dilakukan para doktor sebagai calon profesor. Saat ini, Unpad memberikan kesempatan bagi dosen peneliti dan tenaga kependidikan untuk menyelenggarakan aktivitas riset dan pengabdian kepada masyarakat.

Di awal 2018, Unpad membuka pengajuan proposal baru dan lanjutan kegiatan hibah internal riset dan pengabdian pada masyarakat. Ada tujuh skema riset yang ditawarkan Unpad, yaitu riset dosen pemula Unpad (RDPU), riset academic leadership grant (ALG), riset fundamental Unpad (RFU), riset kompetensi dosen Unpad (RKDU), riset kolaborasi internasional Unpad (RKIU), riset hilirisasi produk unggulan (RHPU), dan riset tenaga kependidikan Unpad (RTKU).

Sudah cukupkah itu?

Riset yang diaplikasikan ke masyarakat terkadang sulit karena terbentur aturan hukum. Unpad memikirkan itu. Selain berbicara soal aspek lingkungan, kami juga berbicara terkait hukumnya. Tidak hanya berbicara produk fisiknya saja, sebab belum tentu bisa beredar di masyarakat. Misal mengembangkan sebuah kawasan, tapi juga harus sesuai dengan kondisi hukum yang ada atau memberi masukan untuk merevisi aturan yang berbenturan.

Dengan pemberian bantuan dana tanpa ada seleksi atau proposal pengajuan, hasilnya apa sudah terlihat?

Alhamduliah. Pertama kami hargai profesor sebagai pemimpin akademik sehingga ada grand senilai 250 juta rupiah. Dari dana itu dapat menghasilkan berapa profesor. Tentunya ini harus ada tolok ukurnya. Secara nasional saja saat ini hanya ada sekitar lima ribu profesor. Namun, hanya sepertiganya yang produktif membuat riset dan publikasi internasional. Dengan bantuan dana ini jumlah publikasi kami meningkat, bahkan yang membuat adalah doktor-doktor yang dibimbing oleh profesor tersebut.

Itu sejalan dengan upaya penambahan jumlah doktor dan profesor di Unpad?

Benar. Dengan cara ini akan semakin banyak muncul profesor baru di Unpad. Jumlahnya akan terus kami tambah untuk meningkatkan kualitas Unpad. Semakin banyak profesor dan doktor yang menjadi dosen tentunya akan membuka peluang semakin banyak mahasiswa yang diterima.

Profesor sepertinya menjadi tulang punggung pengembangan Unpad, ada program lain untuk mereka?

Profesor sangat penting untuk membimbing doktor, mahasiswa, dan semua yang ada di kampus, misalnya, ada program profesor masuk desa. Dulu Kuliah Kerja Nyata (KKN) hanya diikuti mahasiswa dan dosen, saat ini profesor wajib ikut. Bukan hanya duduk diam di belakang meja saja. Awalnya tidak mudah, tapi setelah berjalan, justru profesor senang. Bahkan orang desa jadi tahu siapa itu profesor.

Ini membangun atmosfer yang baik di antara mahasiswa dan masyarakat yang didatangi. Profesor dapat menularkan kepemimpinan akademik kepada generasi selanjutnya. Dari situ kami juga terbuka. Oh, ternyata yang kami riset selama ini tidak betul-betul mempunyai dampak pada kemaslahatan. Selanjutnya, kami buat klaster-klaster untuk profesor ini.

Awalnya, kami ingin di seluruh kabupaten dan kota di Jabar, tapi akhirnya hanya daerah potensial saja dan tentunya ada kemauan dari pemerintah setempat. Kami wajibkan setiap dosen menjadi duta daerahnya. Contohnya di Kabupaten Bandung, kami ada 16 orang yang ikut bersama-sama dengan pemerintah daerah, menyusun APBD dan langkah untuk memanfaatkan potensi daerah.

Sejauh ini banyak hasil riset yang belum berdampak pada kemaslahatan masyarakat. Di Unpad sendiri bagaimana?

Memang sebagian besar seperti itu. Tapi, ada juga hasil riset yang sudah kami hilirisasi, tapi memang belum banyak masyarakat yang tahu. Kami ingin menginformasikan itu kepada masyarakat. Dulu semua berpikir triple helix, kerja sama tiga pihak, sekarang harus empat pihak yakni pentahelix. Nah, tambahan satunya adalah dengan bekerja sama dengan media massa.

Jika riset kami diketahui masyarakat tentunya kami bisa lebih dekat dengan masyarakat. Nah, kami kemudian membuat sebuah acara setiap Jumat yang dinamakan Riung Karsa. Kami tetap berkomitmen sungguh-sungguh agar riset yang dihasilkan bisa memberikan maslahat kepada masyarakat. Kami sudah mulai mendiseminasikan hasil riset dengan bantuan media.

Jadi, Riung Karsa itu sebagai etalase untuk memamerkan hasil riset yang sudah dihilirisasi?

Sudah sangat banyak riset yang dihasilkan oleh para profesor Unpad, namun hanya beberapa yang bisa langsung memberikan manfaat kepada masyarakat. Banyak riset yang dihasilkan, namun terkadang belum menyentuh kebutuhan khalayak. Nah, di Riung Karsa ini kami akan memperkenalkan sejumlah riset unggulan yang sudah dapat dinikmati masyarakat. Kami membutuhkan media massa untuk memberitahukan ini semua.

Riung Karsa akan menjadi media branding hasil riset dan inovasi berkelas dunia yang memiliki dampak dan kontribusi bagi masyarakat. Riung Karsa adalah wahana Unpad untuk ngahiji dengan masyarakat melalui kehendak, cita-cita Unpad sebagai world class university dan membangun masyarakat sejahtera berbasis riset unggulan. Dengan kerja sama sebagai kunci, Riung Karsa mengundang kolaborasi yang lebih banyak dengan masyarakat.

Apa program pertama dari Riung Karsa ini?

Sebagai permulaan, Riung Karsa mengangkat sebuah penelitian yang dilakukan oleh Smart Apiculture Management Services (SAMS). SAMS merupakan proyek riset internasional di bawah program Horizon 2020 CT-39 Uni Eropa dengan tema kemitraan internasional dalam membangun negara-negara berpendapatan menengah dan menengah ke bawah.

Proyek ini untuk meningkatkan kerja sama internasional (ICT) dan pertanian berkelanjutan antara Uni Eropa dan negara-negara berkembang. Itu dalam mengejar komitmen EU untuk mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan peningkatan gizi serta mempromosikan pertanian berkelanjutan.

Hasil konkretnya apa?

Salah satu risetnya adalah pemanfaatan lebah madu. Proyek SAMS memungkinkan para peternak lebah memantau secara aktif kesehatan lebah dan aktivitas lebah dalam sarang melalui pengembangan ICT yang tepat dalam mendukung pengelolaan kesehatan dan produktivitas lebah serta menjadi contoh sistem kolaborasi internasional yang aktif.

Proyek SAMS diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan, memicu investasi dan pertukaran ilmu pengetahuan melalui perluasan jaringan. Hasil dari SAMS akan memberikan daya tarik stakeholder sepanjang seluruh mata rantai produksi madu dan kelestarian lingkungan.

Bagaimana dengan minat siswa kuliah ke Unpad?

Selama tujuh tahun berturut-turut, Unpad menjadi universitas dengan jumlah peminat terbanyak secara nasional. Mungkin masyarakat sudah menilai kampus ini nyaman, atmosfer untuk belajar juga disukai.

Apakah ada anggapan lulusan Unpad bisa gampang cari kerja?

Kami menggunakan pendekatan transformatif dalam mendidik mahasiswa. Perbanyak pembelajaran di luar ruang dan mendekatkan dengan kalangan atau dunia industri. Bukan semata link and match, tapi sekaligus membuat mahasiswa lebih mandiri. Dulu ada inkubator bisnis, kini kita lebih luas lagi.

Kami terus gelorakan semangat mahasiswa untuk menjadi entrepreneur, sesuai jurusannya. Tentunya ada perubahan kurikulum. Sebelumnya hanya profesor yang membuat kurikulum pembelajaran. Saat ini semua terlibat, bahkan mahasiswa bisa ikut. Mahasiswa bisa merencanakan sendiri bagaimana ia kuliah termasuk waktu kuliah. 

N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment