Koran Jakarta | July 18 2019
No Comments

Tren Global: Menerapkan Desain Kota Sehat

Tren Global: Menerapkan Desain Kota Sehat

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Kota yang sehat menjadi dambaan setiap warganya. Hal ini lantaran, kehidupan kota menggunakan energi yang lebih banyak dibandingkan wilayah lainnya memicu pemanasan global.

Dengan sebuah desain, emisi karbon sebagai salah satu penyebab pemanasan global dapat dikurangi. Desain kota mampu memberikan pengaruh pada pengurangan emisi karbon di wilayah tersebut.

FABRICations, sebuah studio desain dan dan peneliti desain di Belanda telah menyelidiki tentang kota-kota di Belanda yang dapat mengurangi emisi karbon melalui desain kota. Mereka menganjurkan untuk kembali memikirkan ke sistem perkotaan serta menelaah inti tentang kota.

Untuk menghasilkan desain kota yang sehat, studio mengembalikan kota sebagai “Metabolisme Urban”, mereka memimpikan kota sebagai lapis insfrastruktur yang tumpang tindih serta proses yang melingkar. Sehingga, residu sebagai sampah dalam proses kimiawi dari satu sistem dapat menjadi sumber daya untuk sistem yang berbeda.

Studio telah mengembangkan enam strategi kota masa depan yang sehat. Melalui berbagai proyek penelitian yang berkolaborasi. Mereka mampu menggunakan sisa panas dan energi untuk mengubah kota menjadi spon moderen, sirkulasi melalui urbanisasi.

Cara yang pertama adalah menggunakan sisa panas dan mengurangi konsumsi energi. Sehingga. Masyarakat didorong untuk menggunakan ruang publik dan fasilitas mobilitas yang berkelanjutan.

“Strategi ini diuji dalam proyek-proyek “Metabolisme dari Rotterdam” dan Agenda Tata Ruang Regional untuk Brabant (sebuah wilayah di Belanda),” ujar studio seperti dilansir dari Archdaily.

Cara pertama ini dengan menangkap sisa panas dari area industri kota untuk menyesuaikan dengan rumah tangga, gedung perkantoran, rumah kaca akhirnya ruang publik. Pada akhirnya, sisa panas digunakan untuk jalur sepeda supaya bebas es pada musim dingin. Sehingga, semua suhu yang tersisa akan dimanfaatkan.

Pada tahap kedua mengubah kota moderen menjadi sepon yang akan menghasilkan ruang penyimpanan stormwater (air yang tidak terserap tanah) yang fleksibel dengan fungsi tambahan di waktu yang tidak sibuk.

Dalam ekspansi di kota Ningo-Prampram untuk 1,8 juta penduduk. Lanskap banjir diperkenalkan untuk menangkap limpahan berlebih di zona urban. “Jari hijau” memecah grid perkotaan yang dirancang sesuai dengan tipografi lanskap untuk menjadi ruang serbaguna sebagai produksi pangan, rekreasi dan keanekaragaman hayati.

Pada tahap ketiga adalah mengumpulkan dan mengolah limbah organik untuk menyuburkan pertanian perkotaan dan menghasilkan energi berkelanjutan.

“Metabolisme Rotterdam” membahas penggunaan kembali sampah organik di berbagai sudut. Di antaranya, sebuah sistem untuk menangkap nutrisi dan fosfat dalam aliran air.

Zat-zat berharga yang biasanya tersapu oleh proses pertanian dan mengalir di sungai dapat digunakan kembali dalam akuakultur dan insfrastruktur produk energi.

Teori tersebut juga berlaku bahwa pemilahan sampah rumah tangga dan membantu menangkap limbah dalam nilai maksimum melalui produksi protein dan sistem energi biomassa.

Cara yang keempat adalah menetapkan praktik penggunaan kembali limbah konstruksi, mengurangi pembongkaran, logistik bahan konstruksi dan konstruksi baru dengan mempertahankan warisan dan komunitas inklusif yang berkelanjutan.

Dalam desain Bajes Kwartier, bekas kompleks penjara yang diubah menjadi lingkungan perumahan berkelanjutan di masa depan, emisi CO2 untuk konstruksi baru berkurang secara drastis dengan proses menggunakan kembali 95 persen bahan konstruksi yang ada di lokasi. Empat dari bangunan yang ada akan dillestarikan dan ditransformasikan menjadi elemen ikonik dan daya tarik publik.

Tahap kelima adalah memanfaatkan kantong perkotaan yang terbaikan menjadi ekologi perkotaan. Sehingga mendorong, gaya hidup sehat melalui kontak langsung dengan alam.

Kedekatan semacam ini telah diusulkan dalam Jaringan Energi Ekologis, desain strategis untuk mengubah area dekat jalur listrik menjadi koridor keanekaragaman hayati terbesar di Belanda.

Terutama di perkotaan, daerah-daerah tersebut biasanya pada pembatasan pembangunan dan sering berakhir diabaikan. Jika diubah menjadi koridor hijau, mereka akan memberikan nilai tambah pada lingkungan perkotaan dan masyarakat.

Tahap keenam adalah memprioritaskan akses ke mobilitas berkelanjutan dan kendaraan listrik dengan membangun insfrastruktur khusus bersama dengan penyediaan energi terbarukan.

Dalam studi Highway x City, jalur mobilitas utama di Amsterdam diubah menjadi jalan-jalan kota dengan akses lebih baik untuk pejalan kaki dan sepeda.

Selain itu dilengkapi dengan, stasiun pengisian daya kendaraan listrik dan rute lalu lintas bawah tanah. Alhasil, kota yang ramah lingkungan ujungnya akan berimbas pada kesehatan warganya. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment