Koran Jakarta | October 19 2017
No Comments

Tragedi Las Vegas

Tragedi Las Vegas

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Kemeriahan festival musik country Route 91 Harvest yang digelar di dekat Kasino Mandalay Bay, Las Vegas, Amerika Serikat (AS) Minggu (1/10) malam waktu setempat tiba-tiba berubah menjadi kegerian. Teriakan banyak orang bersamaan dengan berondongan peluru dari atas kamar 32 Hotel Mandala Bay. Pelaku penembakan, Stepehen Paddock, 64 tahun memuntahkan peluru dari senjata yang ada di kamarnya. Akibatnya, 59 orang tewas dan ratusan luka-luka. Korban tewas kemungkinan bertambah.

Stephen Craig Paddock adalah pensiunan dari Mesquite, Nevada dan pernah bekerja sebagai akuntan. Menurut Washington Post, dia pendiam dan kaya. Sesekali mengunjungi Las Vegas untuk berjudi atau menonton konser. Mantan penduduk Texas ini memegang lisensi untuk berburu di Alasaka. Selama ini dia tidak memiliki riwayat kriminal di kepolisian AS.

Menurut kepolisian, Paddock mulai menginap di Mandalay Bay dari Kamis (28/9). Aksi dari lantai 32 Mandalay Bay Resort and Casino itu menggunakan sedikitnya satu senapan otomatis. Ini penembakan massal paling mematikan dalam sejarah modern AS. Polisi belum menemukan motif. Padahal menurut Eric Paddock, saudara lelaki Stephen Paddock, Stephen bukanlah pria yang menggunakan atau menyukai senjata.

Setahun lalu, Omar Saddiqui Mateen, 29 tahun, masuk ke dalam sebuah bar kaum homoseksual dan menembakkan senjata ke arah para pengunjung yang sedang berpesta. Ada 49 tewas dan 50 terluka. Pelaku ditembak mati polisi. Sesudah Mateen, seorang bernama Seung-Hui Cho, mahasiswa 23 tahun, menembak secara membabi-buta ke arah kampus dan menyebabkan 32 orang tewas. Pelaku kemudian melakukan bunuh diri.

Muncul pertanyaan mengapa peristiwa mirip kerap terjadi? Salah satunya kebebasan memiliki senjata dan juga kondisi masyarakat AS sendiri yang banyak mengalami gangguan kejiwaan akibat berbagai faktor. Guru besar Ilmu Kriminal di University of Alabama Adam Lankford yang meneliti berbagai kasus penembakan, mendapat data menarik.

Ada kesamaan faktor yang menjadikan insiden di AS, berbeda dengan peristiwa serupa di seluruh dunia. Di AS, masyarakat memiliki kemungkinan tewas dalam penembakan massal di tempat kerja atau sekolah. Sementara itu, di negara lain, insiden biasanya di dekat instalasi militer. Setengah jumlah kasus di AS, penembakan menggunakan lebih dari satu senjata api. Sementara itu, pada insiden lainnya di seluruh dunia, pelaku hanya membawa satu pistol. Studi lain menunjukkan, jumlah penderita gangguan jiwa di AS tidak meningkat signifikan, tapi penembakan massal terus terjadi.

Mengutip data Harvard School of Public Health dan Northeastern University, serangan semacam ini meningkat tiga kali dari tahun 2011 hingga 2014. Riset Harvard menunjukkan, serangan periode waktu itu terjadi setiap 64 hari. Padahal selama 29 tahun sebelumnya, penembakan terjadi rata-rata 200 hari sekali.

Dari tragedi Las Vegas, sejumlah data penembakan dan sekelumit penelitian kasus-kasus penembakan, kita banyak belajar. Kita harus berhati-hati jika suatu saat bepergian ke AS dan menyaksikan konser atau kumpulan massa dalam suatu tempat atau kawasan. Bisa saja kemungkinan serangan senjata.

Indonesia juga bisa memetik pelajaran. Di antaranya, harus mengawasi peredaran senjata yang kini juga mulai banyak beredar secara ilegal dan kerap digunakan penjahat. Institusi terkait di Tanah Air harus berkoordinasi dan bersinergi mengatasi kendala psikologis masyarakat akibat berbagai tekanan hidup. Dalam banyak kasus kriminal yang menggunakan senjata, sering didorong faktor ekonomi dan kejiwaan. Kita dorong peduli sesama dan sikap tolong-menolong. 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment