Tragedi “Bakar” Uang Usaha Rintisan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments

Tragedi “Bakar” Uang Usaha Rintisan

Tragedi “Bakar” Uang Usaha Rintisan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Kelompok usaha Lippo dalam peta bisnis Indonesia masih cukup disegani. Selain berhasil mengembangkan sejumlah proyek properti, Lippo juga sukses dalam bidang keuangan dan media. Inilah alasan, pemilik Lippo bertengger pada posisi 1.008 sebagai salah satu orang terkaya di dunia dengan kekayaan 2,3 miliar dollar AS.

Hanya, Lippo tak mampu mengikuti zaman. Terbukti, sejumlah perusahaan rintisannya, seperti bisnis dalam jaringan (online) mataharimal.com dan bisnis dompet digital OVO tak mampu berkembang. Bahkan, pemilik Lippo serta merta mengakui menjual sebagian saham perusahaan rintisannya itu.

Artinya, kini Lippo hanya sebagai pemegang saham, bukan pengendali. Alasan Lippo melepas perusahaan rintisan itu karena tak kuat mendanainya yang terus-menerus “membakar” uang demi promosi berupa layanan gratis, diskon, dan cashback. Khusus OVO, kabarnya Lippo mesti mengeluarkan 700 miliar per bulan untuk aksi “bakar” uang itu.

Pengakuan pemilik Lippo sesungguhnya bukan baru. Sebab, fenomena “bakar” uang dalam bisnis rintisan seolah- olah lumrah. Lagi pula, bisnis perusahaan digital masih bertumpu pada upaya menggenjot gross merchandise volume (GMV) dengan memberikan subsidi pasar atau “bakar” uang membutuhkan pendanaan terus menerus.

Jadi, kegagalan Lippo mengembangkan bisnis digital sebenarnya terkait dengan pengelolaan. Artinya, anggaran yang dimiliki sebenarnya bisa untuk menjaga keberlangsungan bisnis. Asal tahu saja, bisnis perusahaan digital yang sudah memiliki skala usaha besar perlu dijaga keberlangsungannya. Dengan kata lain, pertumbuhan perusahaan digital mesti diiringi dengan kemampuan untuk memperbaiki pondasi pada tata kelola keuangannya.

Diketahui, perusahaan digital yang begitu cepat menjadi unicorn bahkan akan jadi decacorn (valuasi di atas 10 miliar dollar AS) harus mempercepat kemampuan pondasi dari tata kelolanya sehingga bisa mengimbangi dengan tanggung jawab kepada masyarakat. Google sebelumnya memprediksi ekonomi digital, terutama e-commerce Asia Tenggara akan terus tumbuh. Beberapa negara yang menjadi sorotan di kawasan ini adalah Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Di sisi lain, pengakuan Lippo tak mampu aksi “bakar” uang dalam bisnis digital merupakan peringatan bagi perusahaan rintisan yang tidak mempunyai masa depan alias salah kelola. Paling tidak, masalah Lippo nyaris sama dengan yang dialami startup asal Amerika Serikat, WeWork. Betapa tidak, WeWork yang semula dinilai sebagai perusahaan rintisan papan atas terpaksa batal melakukan penawaran umum saham perdana (IPO) di pasar modal.

Penyebabnya, startup penyedia layanan ruang kerja bersama (coworking space) ini mengalami kekurangan dana kas. Itulah sebabnya, WeWork berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 1.000-3.000 karyawan. Kegagalan WeWork bisa menjadi sinyal berakhirnya hari-hari modal, tanpa batas untuk bisnis yang belum untung.

Sejumlah kalangan telah mengingatkan bahwa perusahaan rintisan digital dapat menciptakan risiko sistemik pada perekonomian jika tak mengubah pola bisnis yang hanya bergantung pada kenaikan gross merchandise volume. Untuk itu, sudah saatnya perusahaan digital berupaya mencapai keuntungan untuk menjaga keberlanjutan perusahaan.

Penting bagi perusahaan digital untuk mulai memikirkan keuntungan. Pasalnya, valuasi tetap bisa terjadi jika ada liquidity event atau investor awal dapat menarik keuntungan atas investasinya. Tapi, kalau tidak ada liquidity event, tidak bisa bicara valuasi.

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment