Koran Jakarta | September 22 2018
No Comments
Nyongkolan-Lombok

Tradisi Menikah sambil Diarak Keliling Kampung

Tradisi Menikah sambil Diarak Keliling Kampung

Foto : Istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Lombok, yang saat ini masih berduka akibat diguncang gempa beberapa kali, ternyata menyimpan tradisi budaya unik. Nyongkolan, begitu disebutnya, adalah tradisi menikah sambil diarak keliling, di mana para pengiringnya berjoget sepanjang jalan.

 

 

Nyongkolan adalah tradisi arak-arakan pengantin yang baru saja menikah di Lombok. Tujuannya memperkenalkan pasangan tersebut ke masyarakat, sekaligus menunjukkan di mana pengantin wanita tinggal.

Prosesi Nyongkolan berangkat dari rumah mempelai pria menuju rumah mempelai wanita. Nyongkolan sudah dilaksanakan dari zaman dulu. Tingkat ekonomi berpengaruh dalam penyelenggaraan Nyongkolan. Semakin kaya keluarga si pengantin, semakin meriahlah prosesinya.

Sang pengantin perempuan biasanya berjalan di bagian depan, diiringi gadis-gadis berpakaian adat (semacam bridemaids). Bisa dibayangkan betapa susahnya berjalan jauh dengan memakai baju pengantin lengkap dengan dandanan ‘berat’ di wajah dan kepala.

Dulunya, rombongan Nyongkolan benar-benar berangkat dari rumah mempelai pria ke mempelai wanita karena kebanyakan yang mereka nikahi adalah penduduk desa sebelah. Namun sekarang, prosesi tersebut disesuaikan, tidak lagi secara harfiah dari rumah laki ke rumah perempuan. Rombongan pun jadinya berangkat untuk prosesi Nyongkolan dengan jarak 500 meter hingga 1 kilometer dari rumah si mempelai wanita.

Rombongan mempelai pria akan berada di belakang rombongan mempelai wanita. Sama seperti mempelai wanita, si mempelai pria juga ditemani beberapa pemuda yang mengenakan baju adat (semacam bestman) dan berjoget mengikuti irama gendang rebana yang dimainkan para pemusik di barisan paling belakang.

Jika pengantin berasal dari keluarga pejabat, rombongan Nyongkolan akan diiringi Gendang Beleq, kelompok pemusik gendang besar Suku Sasak di Lombok. Jika dananya terbatas, biasanya mereka hanya mampu membayar pemusik kecil namun tetap bisa memeriahkan acara. Mereka memang mengakui bahwa menyewa Gendang Beleq butuh biaya yang besar.

Dalam arak-arakan Nyongkolan, biasanya keluarga mempelai pria membawa beberapa bahan untuk seserahan seperti hasil kebun, sayuran dan buah-buahan. Ada lagi barang-barang antaran yang khusus dan ada aturan urutannya untuk Nyongkolan keluarga bangsawan.

Beberapa Hal Menarik untuk Diketahui

Lombok merupakan sebuah pulau yang mempunyai daya tarik tersendiri untuk dikunjungi. Hal itu dikarenakan keindahan alamnya yang luar biasa serta kebudayaan yang sangat banyak dan menarik untuk dipelajari dan dilihat.

Berbicara mengenai adat kebudayaan yang ada di Lombok, tentunya kita tidak akan terpisahkan dengan sejarah Lombok serta kebiasaan yang dilakukan masyarakat Lombok yang sampai saat ini masih melestarikan budaya leluhur mereka. Untuk itu tidak ada salahnya jika kita sebagai generasi muda mengetahui dan melestarikan tradisi budaya Lombok tersebut. Berikut beberapa diantaranya.

1. Bau Nyale

Bau nyale adalah cacing laut yang ada di dasar laut. Orang sekitar percaya jika nyale adalah seorang putri kala itu. Biasanya bau nyale diadakan pada malam bulan purnama.

2. Tari Gandrung

Tarian ini merupakan tarian yang sangat populer pada Suku Sasak. Tari Gandrung ini banyak juga yang menyebut dengan Jengger. Dari beberapa peneliti, tari ini sudah ada sejak zaman dahulu, tepatnya zaman Airlangga yang berkuasa di Jawa Timur.

3. Baju Lambung

Baju lambung adalah baju hitam yang tidak menggunakan lengan dengan sedikit hiasan di bagian pinggir baju. Biasanya bahan yang digunakan pakaian ini adalah kain pelung. Baju ini sudah menjadi sebuah budaya yang sudah ada dalam masyarakat Lombok sejak dahulu kala.

4. Songket Lombok

Songket sendiri menjadi budaya yang banyak diminati di Lombok. Hal ini dikarenakan masyarakat Lombok yang sudah sejak lama menenun kain. Biasanya dalam songket ini akan diberikan beberapa hiasan dan manikmanik untuk mempercantik songket tersebut.

5. Peresean

Peresean adalah kesenian tradisional masyarakat Suku Sasak yang mempertarungkan dua lelaki bersenjatakan tongkat rotan dan perisai. Kesenian ini merupakan tradisi lama Suku Sasak di Pulau Lombok, yang masih ada hingga sekarang. Dalam kesenian tersebut para lelaki berkumpul untuk menguji keberanian dan ketangkasan mereka dalam bertarung. Walaupun terdapat unsur kekerasan, namun kesenian ini memiliki pesan damai di dalamnya.

6. Dusun Sade

Budaya ini masih dipegang teguh hingga saat ini. Hal ini yang menjadikan seorang wisatawan yang berkunjung ke desa itu sangat betah tinggal di situ. Bahkan sampai dinas pariwisata menjadikan desa tersebut menjadi sebuah desa wisata.

7. Tarian Rudat

Budaya ini merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Suku Sasak. Tarian ini dalam pertunjukannya seperti pertunjukan pencak silat. Hal ini dikarenakan dalam tarian Rudat ada beberapa gerakan seperti memukul, menendang, memasang kuda-kuda dan juga menangkis, di mana gerakan tersebut ada juga dalam pencak silat. Sampai saat ini tarian ini ditampilkan dalam rangka menyambut tamu dan untuk acara pemerintahan Lombok.

8. Perang Ketupat

Tradisi budaya Lombok ini biasanya diadakan di Pura Lingsar. Budaya perang ini adalah simbol kebersamaan antara umat Islam dengan umat Hindu yang ada di Pulau Lombok. Sampai saat ini budaya ini masih dipertahankan. Sehingga ketika acara tersebut dilakukan maka akan banyak wisatawan yang berkunjung ke sana. 

 

gma/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment