Tontowi Ahmad: Memutuskan untuk Pensiun Itu Rasanya Campur Aduk | Koran Jakarta
Koran Jakarta | May 31 2020
No Comments
WAWANCARA

Tontowi Ahmad: Memutuskan untuk Pensiun Itu Rasanya Campur Aduk

Tontowi Ahmad: Memutuskan untuk Pensiun Itu Rasanya Campur Aduk

Foto : AFP
A   A   A   Pengaturan Font

Tontowi Ahmad resmi  menyatakan pensiun dari bulutangkis.  Menapaki puncak karirnya  saat  berpasangan dengan Liliyana Natsir di sektor ganda campuran, Owi (demikian dia akrab dipanggil) meraih berbagai gelar bergengsi. Di antaranya, medali emas Olimpiade, 2 kali gelar Kejuaraan Dunia, serta 3 kali trofi All England.

Namun, selepas Liliyana memutuskan pensiun pada awal tahun 2019, Tontowi belum sanggup memperlihatkan performa terbaik. Duetnya bersama pemain muda, Winny Oktavina Kandow, sepanjang tahun 2019 tak mampu menyumbangkan satu pun gelar juara.

Terakhir di ajang Indonesia Masters 2020, bulan Januari lalu, Tontowi tampil bersama Apriyani Rahayu di nomor ganda campuran. Pasangan tersebut kandas di babak 16 besar dikalahkan wakil Inggris, Chris Adcock-Gabrielle Adcock.

Di Instagram @tontowiahmad dia mengucapkan, “Selamat tinggal untuk sesuatu yang saya tekuni lebih dari setengah umur saya, yang membuat hidupku menjadi lebih berwarna. Kadang susah, kadang senang, tapi saya bangga dengan apa yang sudah saya capai, di mana saya bisa meraih puncak prestasi yang saya dan orangtua juga keluarga harapkan.”

Dia meolanjutkan, “Memang saya mengharapkan bisa menyudahi ini di puncak podium tapi inilah hidup tidak selalu apa yang kita inginkan bisa tercapai seperti situasi dan kondisi saat ini. Tapi apa pun yang terjadi saya sangat bersyukur bisa berada di posisi saya sekarang ini. Saya juga mau berterima kasih untuk semua yang sudah mendukung karier saya di bulutangkis selama ini yang tidak bisa saya sebut satu per satu. Dan sekarang waktunya saya melanjutkan hidup untuk meraih kesuksesan di bidang lain (tambah emoji terima kasih) #goodbye #retired #athlete #lifemustgoon #thanksforallthesupport.”

Koran Jakarta mencoba  mewawancara Owi. Ayah  dua anak tersebut bercerita tentang keputusannya. Owi juga mengenang kilas baliknya saat memulai karier hingga mencapai kejayaan prestasi bersama Liliyana Natsir.

Apa sebenarnya yang mendasari keputusan pensiun?

Untuk pensiun sih sebenarnya sudah terpikirkan sejak ci Butet (Liliyana Natsir) pensiun, apakah saya akan pensiun atau nggak. Dukungan dari keluarga saat  itu masih ingin saya main. Sampai akhirnya saya main terus. Saya mencoba untuk main terus dan berusaha untuk menang. Tapi hingga ke sini-ke sini, situasinya agak tidak meungkinkan untuk melanjutkan karir.

Saya sudah bilang ke keluarga, dan keluarga juga sudah mendukung saya untuk pensiun. Alasan sebenarnya ingin dekat dengan keluarga. Saat masih aktif jarang ada waktu dengan keluarga. Saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan berlatih dan bertanding.  Anak saya mulai komplain karena memang susah sekali mereka bertemu saya.

Bagaimana sikap istri?

Sebenarnya, yang paling dekat istri karena tiap hari ketemu. Saya tukar pikiran dengan istri dan mendukung. Kemudian saya diskusi dengan orang tua. Mereka antara mendukung dengan tidak jadi terserah saya. Lalu Kak Icad (Richard Mainaky). Kami sempat ngobrol dan dia menyerahkan semua ke saya karena seorang atlet akan melewati masa pensiun.

Adakah peran Butet dalam  mendukung keputusan ini?

Sebenarnya ci Butet sudah tahu lama. Sebelum saya putuskan pensiun sudah sharing dan dia mendukung saja. Sebab dia berpikir juga, saya mungkin memang belum terlalu turun (permainan). Nama masih di atas. Kalau sudah kalah terus dan nama turun, nanti waktunya tak pas. Cik Butet dan saya pikir waktu sekarang yang tepat untuk pensiun.

Ada kabar bahwa keputusan pensiun ini karena Owi kecewa dengan PBSI  terkait status magang di pelatnas?

Kondisinya memang sudah tidak mendukung. Dari pertama sudah tak pasangan sama Cik Butet, saya juga masih main terus,  tapi situasi dan kondisi tidak mendukung. Mungkin salah satunya status saya di pelatnas dimagangkan.

Mungkin itu salah satu yang mengganggu motivasi saya, meskipun itu bukan alasan utama. Saya sekarang sudah merasa cukup di bulutangkis. Sudah waktunya berhenti.

Saya sudah tidak muda lagi, dan sudah waktunya keluar dari pelatnas. Saya sudah mendapat medali emas Olimpiade yang merupakan prestasi tertinggi untuk semua atlet.  Itu merupakan puncak prestasi saya. Pengorbanan yang saya lakukan untuk mendapat gelar itu juga besar. Untuk mendapat medali emas itu, saya melakukan persiapan terberat dari semua turnamen yang pernah saya ikuti.

Apalagi setelah final Asian Games 2014, tepatnya hampir sepanjang 2015, komunikasi saya dan ci Butet jadi sedikit terganggu. Sampai akhirnya kami harus bersiap menghadapi Olimpiade, dan perjuangan itu berakhir dengan medali emas.

Soal Status Magang?

Dengan status magang, saya agak keberatan. Sebab biasanya itu untuk pemain junior yang akan masuk pelatnas. Sedangkan saya kalau dibicarakan tidak ada kepentingan lagi karena saya sudah mendapat goal-nya.

Reaksi saya kaget saja karena (memang) tidak menyangka. Sebelum Desember itu soalnya sudah ada plan dengan Apriyani Rahayu (partner baru) apa saja kejuaraannya, ternyata tiba-tiba begitu. Tapi sekali lagi ini bukan alasan saya pensiun. Saya hanya merasa sudah cukup dan ingin banyak waktu dengan keluarga.

Apakah Owi tahu alasan PBSI, apa ada kekecewaan karena hal tersebut?

Saya tak tanya itu (alasannya). Itu keputusan PBSI dan sebenarnya saya tak mau bahas itu. Saya sekarang sudah pensiun, sudah tenang, dan tak ingin bahas. Tapi saya ingin kasih sedikit masukan kepada PBSI. PBSI itu organisasi yang bisa mengayomi dan menghargai anak buahnya. Contoh saya yang sudah berprestasi. Saya tahun kemarin masih peringkat satu dunia dan saya baru dicoba satu pasangan. Walaupun belum pernah masuk semifinal, saya sudah mengalahkan pemain-pemain top 10. Maksudnya saya tak sejelek itu, yang harusnya tak langsung dibuang.

Sebenarnya itu tak masalah, tapi PBSI harus bisa lebih menghargai. Saya tak tahu itu individu atau organisasi. Tapi ini kan mengatasnamakan organisasi, dan saya atas nama pribadi tak ada dendam. Tak ada masalah. Saya pensiun juga bukan masalah itu yang utama.

Apakah ada acara perpisahan seperti dulu dilakukan Butet?

 Liliyana Natsir pantas dibuatkan acara perpisahan karena dia adalah legenda. Kalau saya, tidak percaya diri. Kemarin sempat ada tawaran dari klub untuk membuat acara perpisahan. Kalau acaranya kecil-kecilan saya masih mau.  Keputusan ini sangat berat karena saya harus meninggalkan rutinias sejak kecil. Saya galau sampai tidak bisa tidur, sebelum membuat keputusan. Saya tidak akan meninggalkan bulu tangkis. Kalau diminta membantu bulu tangkis Indonesia, saya pasti bersedia.

Apa yang paling membanggakan sebagai atlet?

Saya selalu merasa bangga setiap kali mewakili Indonesia. Saya pengin dikenang sebagai orang yang pernah mengumandangkan lagu Indonesia Raya untuk Indonesia.

Terima kasih kepada  semua pihak yang telah membantu saya sejak terjun ke bulu tangkis. Terima kasih kepada PBSI yang sudah menaungi saya selama di pelatnas. Terima kasih kepada para pelatih, terutama kak Richard Mainaky, yang tak pernah bosan membimbing saya selama di pelatnas. Terima kasih kepada teman-teman di pelatnas, terutama ci Butet, yang sudah menjadi partner saya dan bersama meraih prestasi membanggakan.


Sedikit kilas balik karir Owi. Bagaimana awalnya sampai menjadi atlet bulutangkis?

Awalnya, dari saya kecil sekitar umur 7-8 tahun, saya diperkenalkan bulutangkis olah ayah. Waktu itu hanya main-main biasa. Saya masuk pelatnas tahun 2005. Banyak pengorbanan yang harus dilakukan, terutama saat masa remaja. Harus disiplin dan keja keras, mengorbankan masa remaja. Yang lain pada main, saya latihan. 

Meski ada pengorbanan, saya puas dengan semua yang saya raih.  Saya memang suka bermain ganda campuran dari awal.  Dulu saya sempat frustrasi hingga menemukan pasangan  yang cocok untuk bermain ganda campuran. Saya itu ganti pasangan sampai lima kali, sebelum dengan Butet.

Siapa sebenarnya pemain bulutangkis  favorit Owi?

Dia adalah pasangan Liliyana tadinya, mas Nova Widianto. Itu dari saya masih remaja. Saya melihat pasangan Nova-Liliyana  dan sangat kagum.  Dalam hati kecil, saya bertekad ingin sekali main seperti dia. Mas Nova ini mainnya bagus. Smesnya kencang. Drive-nya bagus dan cara mengatur bolanya itu gampang banget. Liat juga enak.

Siapa pelatih yang berperan penting di awal karier?

Saya sangat mengucapkan terima kasih kepad Koh Denny Kantono. Pada waktu itu, dia yang membuat saya bisa masuk pelatnas.

Bagaimana saat dipasangkan dengan Butet?

Saya saat itu masih berpasangan dengan Greysia Polii, tiba-tiba pelatih (Richard Mainaky) bilang besok saya berpasangan dengan Liliyana. Reaksi saya waktu itu kaget. Itu kalau gak salah Asian Games. Saya diberitahu akan berpasangan dengan Liliyana, saya kaget. Itu karena saya merasa dia lebih senior dan lebih bagus dari saya. Kenapa mesti saya. 

Seiring berjalan waktu, saya berlatih dan sering berdiskusi dengan ci Butet. Dia adalah senior yang membimbing saya sampai titik puncak. Dia yang terus mendorong saya. Tidak hanya saat bertanding, tapi juga saat latihan. Saya berpikir, kalau tidak karena dia, saya tidak akan bisa seperti sekarang.  Saya juga sering memotivasi dia.

Siapa lawan terberat saat berpasangan dengan Butet?

Lawan terberat saya  adalah Zhang Nan/Zhao Yunlei. Itu yang membuat kesulitan meraih  emas Asian Games 2014. Mereka pasangan terberat, terbaik, mungkin sampai saat ini. Menurut saya, mereka itu pasangan yang komplet. Defense bagus, serangan, ketenangan, dan pengalamannya ada. Susah mengalahkan mereka.

Mereka sudah siap mau main apa saja. Kami juga--istilahnya--butuh keberuntungan untuk mengalahkan mereka. Kalau sama pasangan lain, masih bisa diakali. Misalnya, dari serangan yang lemah atau apa. Kalau dengan Zhang Nan/Zhao Yunlei, kami salah buang bola, sudah bahaya.

Bagaimana dengan Chan Peng Soon-Goh Liu Ying yang jadi lawan di final Olimpiade 2016?

Mereka juga salah satu musuh bebuyutan Owi-Butet. Sudah sering ketemu. Mereka lawan yang gigih dan enggak gampang menyerah. Maksudnya, walaupun (kami) menang, melawan mereka butuh fokus lebih. Kalau saya santai, saya enggak bakal bisa menang.

Serangannya bagus. Defense-nya bagus. Bolanya safe. Jarang mati sendiri. Bertemu terakhir di Olimpiade. Ada hoki, sehingga kami bisa menang jauh. Sebelumnya kami lebih sering menang rubber game.

Lantas apa rencana setelah pensiun?

Rencana di luar bulu tangkis ya mungkin berbisnis. Tapi untuk sekarang masih belum terpikirkan. Saya sedang menikmati masa pensiun. Jika waktu pensiun ini sudah saya lewati, mungkin sebulan dua bulan akan saya jalani (bisnis).  Harapan saya memang setelah selesai badminton ingin sukses di bidang lain. Jujur, kalau di bulu tangkis kan sudah dapat goal-nya. Nah, sekarang saya juga mau sukses bangun bisnis di bidang properti. Mertua saya punya resort atau hotel. Mungkin saya akan ke arah sana jika sudah siap.  

Kalau bisnis pasti ada rencana ke sana. Tapi saya masih pelan-pelan belajar berbisnis. Sekarang mau habiskan waktu sama keluarga dulu. Sebelum wabah korona, ada rencana liburan sama keluarga karena dari dulu nggak pernah punya waktu liburan.  Maunya ke Austria, kampungnya istri saya. Kan saya belum pernah ke sana juga. Saya juga mau ajak keluarga ke Birmingham (Inggris), mau tunjukkan ke anak-anak saya kalau papanya pernah juara All England di sana.

Apa pesan untuk pebulutangkis muda?

Memutuskan untuk pensiun itu rasanya campur aduk. Saya sudah lama menjalani hidup sebagai atlet bulutangkis. Di satu sisi lega karena ada waktu buat keluarga. Tapi ada rasa kangen mau main badminton lagi. Mudah-mudahan apa yang saya dan ci Butet capai bisa jadi motivasi para pemain muda. Yang penting harus punya mindset seorang juara, yaitu jangan pernah puas. Sekarang juara, besok kejar gelar lagi. Kalau ada target, latihan juga jadi lebih semangat.

G-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment