Koran Jakarta | July 18 2019
No Comments
Protes RUU Ekstradisi I Pergolakan di Hong Kong Jadi Persoalan lain bagi Xi Jinping

Tiongkok Tolak Carrie Mundur

Tiongkok Tolak Carrie Mundur

Foto : A FP/Anthony WALLACE
sikap aktivis partai l Anggota Partai Pro Demokrasi, dari kiri ke kanan, Nathan Law, Joshua Wong dan Agnes Chow berbicara ke media setelah pemimpin Hong Kong Carrie Lam menggelar keterangan pers di Hong Kong, Selasa (18/6). Carrie Lim mengatakan, pembahasan mengenai RUU Ekstradisi ditunda.
A   A   A   Pengaturan Font

HongKong- Pemerin­tah Tiongkok tidak akan mem­biarkan pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, mundur dari jabat­annya bahkan jika dia meng­inginkan hal itu, menurut se­orang pejabat senior pemerin­tahan yang dekat dengan Lam, pada Senin (17/6). “Lam mun­dur, itu tidak akan mungkin ter­jadi,” kata pejabat yang meno­lak disebutkan namanya itu.

Pejabat tersebut menam­bahkan, “Lam ditunjuk oleh pemerintah pusat, sehing­ga untuk mundur diperlukan pembicaraan dan pertimbang­an tingkat pusat.”

Massa yang diklaim ber­jumlah sekitar dua juta orang di Hong Kong turun ke jalan untuk menuntut Lam mun­dur atas kontroversi Rancang­an Undang-undang (RUU) Ek­stradisi.

Perlawanan terhadap usul peraturan hukum yang me­mungkinkan ekstradisi ke Chi­na daratan itu merupakan de­monstrasi terbesar di Hong Kong dalam beberapa dekade terakhir.

Kendati Lam telah menang­guhkan pengesahan RUU ter­sebut, namun gestur drama­tiknya tidak mampu mereda­kan kemarahan masyarakat yang menentang.

Kekacauan terjadi di Hong Kong setelah bertahun-tahun penuh kebencian atas apa yang dianggap warganya sebagai pe­ningkatan campur tangan yang represif dari pemerintah Chi­na, kendati terdapat perjanji­an otonomi “satu negara, dua sistem” ketika pengembalian wilayah itu oleh Inggris tahun 1997.

Kini, pergolakan di Hong Kong juga menjadi persoalan lain bagi Presiden Tiongkok, Xi Jinping, yang menghadapi masalah perang dagang de­ngan Amerika Serikat. Mun­durnya Lam hanya akan mem­perburuk krisis yang dihadapi oleh pemerintah Tiongkok saat ini.

“Jika Lam mundur, itu hanya akan menambah masalah baru di berbagai tingkatan, daripada menyelesaikannya,” tutur pe­jabat yang terlibat dalam per­temuan untuk membahas kri­sis politik di Hong Kong.

Dengan meningkatnya massa yang ikut serta ber­demonstrasi dan menuntut kemunduran Lam, pemimpin Hong Kong itu meminta maaf. “Kekurangan dalam kerja keras pemerintah Hong Kong telah menimbulkan kontro­versi yang substansial dan pertentangan di masyarakat,” kata Lam.

Dukung Beijing

Sementara itu, kantor urusan Hong Kong dan Makau di Tiong­kok juga tidak segera berkomen­tar tentang kemungkinan peme­rintah pusat tidak mengizinkan Lam untuk mundur.

Juru bicara kementerian lu­ar negeri Tiongkok , ketika dita­nya mengenai nasib Lam, men­jawab bahwa pemerintah akan “selalu membenarkan” peker­jaan yang dilakukan Lam dan “akan selalu tegas mendukung sang Kepala Eksekutif.”

Sebelumnya pada aksi un­juk rasa pada Senin (17/6) te­lah mendesak pemimpin Hong Kong Carrie Lam untuk mun­dur dari jabatannya karena te­lah membuat situasi Hong Kong tak menentu akibat pole­mik RUU Ekstradisi.

Carrie Lam telah menang­guhkan pembahasan RUU Ek­stradisi setelah demonstrasi besar-besaran. dan meminta maaf atas perlakuan polisi ter­hadap para demonstran. Ant/ang/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment