Tiongkok Kerahkan Pesawat Bomber Jarak Jauh di LTS | Koran Jakarta
Koran Jakarta | November 29 2020
No Comments
Konflik Internasional

Tiongkok Kerahkan Pesawat Bomber Jarak Jauh di LTS

Tiongkok Kerahkan Pesawat Bomber Jarak Jauh di LTS

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

BEIJING — Tiongkok kerah­kan pesawat bomber jarak jauh H-6G dan H-6K dalam misi la­tihan udara di Laut Tiongkok Se­latan (LTS), pada Kamis (30/7) waktu setempat. Jubir Kemen­terian Pertahanan, Tiongkok, Ren Guoqiang, mengatakan pe­sawat bomber akan melakukan semua proses penerbangan. Mulai dari lepas landas, penda­ratan di malam hari, serta simu­lasi serangan jarak jauh.

Pesawat bomber H-6G dan H-6K ini adalah versi upgrade milik Angkatan Udara dan Angkatan Laut Tentara Pembe­basan Rakyat (PLA). Guoqiang mengatakan, latihan ini bertu­juan untuk meningkatkan ke­mampuan pilot beroperasi di berbagai kondisi.

Tetapi Guoqiang tidak menjelaskan, apakah pesawat bomber Tiongkok itu menggu­nakan amunisi atau peluru hi­dup dalam latihan itu.

Kehadiran dan klaim Tiong­kok atas Laut Tiongkok Selatan telah memicu penolakan dari sejumlah negara, termasuk Indonesia. Penolakan terbaru dari Malaysia. Malaysia bah­kan dengan tegas menuduh telah melanggar hukum laut UNCLOS. Malaysia yang sela­ma ini bersikap cukup tenang mendadak memberi respons tegas, setelah Tiongkok me­ngatakan, negeri jiran tidak memiliki hak kedaulatan atas sejumlah wilayah di Laut Tiongkok Selatan.

Sikap Indonesia

Sementara itu, Menteri Luar Negeri RI, Retno Lestari Prian­sari Marsudi, mengatakan pe­merintah Indonesia tidak meng­inginkan sengketa wilayah yang terjadi di LTS semakin tajam dan mengarah kepada konflik terbu­ka atau peperangan.

Retno menegaskan Indo­nesia tetap konsisten meng­hormati Konvensi Hukum Laut Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCLOS) se­bagai panduan dalam sengketa di Laut Tiongkok Selatan .

”Semua negara di kawas­an (Asia Tenggara) memiliki kepentingan yang sama un­tuk mempertahankan situasi kawasan yang damai dan sta­bil, termasuk situasi di Laut Tiongkok Selatan,” ujarnya.

Dia menyatakan stabilitas dan perdamaian di kawasan LTS hanya dapat terpelihara jika semua negara menghormati dan mengimplementasikan se­mua hukum internasional.

”Saya tekankan kembali prinsip-prinsip Indonesia yang selalu konsisten, terutama ter­kait pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional termasuk UNCLOS 1982,” ujar Menlu Retno.

LTS menjadi poin penting dalam pembahasan isu geo­politik menyusul semakin me­ningkatnya eskalasi dan tensi konflik di kawasan tersebut. Retno berkeyakinan negara-ne­gara ASEAN akan tetap men­jaga perdamaian di kawasan Asia Tenggara. n AFP/SB/P-4

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment