Koran Jakarta | December 16 2018
No Comments
Perang Dagang - Beijing Diminta Segera Beli Produk Pertanian AS

Tiongkok Janji Percepat Jalankan Komitmen Dagang

Tiongkok Janji Percepat Jalankan Komitmen Dagang

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
>>Trump: Jika kesepakatan tidak terwujud, ingat saya seorang “Tariff Man”.

>> Indonesia harus kerja keras tingkatkan daya saing agar bisa bertahan.

 

 

JAKARTA - Pemerintah Tiongkok meyakini dapat mewujudkan komitmen perdagangan yang dibuat dengan Amerika Serikat (AS) sesegera mungkin. Pada pertemuan G20 di Argentina akhir pekan lalu, Presiden AS, Donald Trump, dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, menyepakati “gencatan senjata” selama 90 hari, di tengah meningkatnya eskalasi perang dagang antara kedua Raksasa Ekonomi Dunia itu.

Namun, kekhawatiran kembali mengemuka setelah muncul perbedaan pernyataan dari kedua belah pihak. Sejak pertemuan kedua pemimpin itu, beberapa pernyataan Trump di Twitter diketahui berbeda dengan pernyataan Tiongkok, namun Beijing sama sekali tidak memberi komentar. Setelah pertemuan di Argentina, Trump sibuk memberikan rincian isi perundingan melalui akun Twitter.

Trump mengatakan pembicaraan dengan Tiongkok, dan masa gencatan senjata selama 90 hari sudah dimulai. Dia mengatakan Beijing harus segera mulai membeli produk pertanian AS dan produk lain. Trump terlihat optimistis, tetapi mengulangi dengan penegasan. “Presiden Xi dan saya ingin kesepakatan ini terwujud, dan itu mungkin akan berhasil.

Tetapi jika tidak, ingat saya seorang ‘Tariff Man’. Ketika orang atau negara datang untuk menguasai kekayaan bangsa kita, saya ingin mereka membayar mahal karena melakukan hal itu,” kata Trump, seperti dikutip BBC, Rabu (5/12). Dalam sebuah pernyataan, pejabat Kementerian Perdagangan Tiongkok menyebutkan pembicaraan antara kedua pemimpin itu akhir pekan lalu berlangsung sangat sukses.

“Tiongkok dan AS akan terus maju lewat perundingan selama 90 hari, dan Beijing akan menjalankan keinginan AS sesegera mungkin,” kata pernyataan itu. Namun, BBC melaporkan komentar Beijing bertentangan dengan pernyataan Gedung Putih.

“Meski Tiongkok berjanji untuk menjalankan perubahan yang disepakati dalam pembicaraan perdagangan antara Presiden Trump dan Xi sesegera mungkin, tetapi belum menjelaskan bahwa itu akan segera dilakukan,” kata seorang wartawan media itu. Kesimpangsiuran itu membuat dunia mempertanyakan, apakah perundingan akan berhasil mengakhiri perang dagang yang telah merugikan industri dan dikhawatirkan akan mengganggu pertumbuhan ekonomi dunia.

Pasar global merespons tweet Presiden Trump dengan melakukan aksi jual sebagai bentuk keraguan bahwa negosiasi antara AS dan Tiongkok mampu menghasilkan kesepakatan yang positif mengingat jendela waktu yang sangat ketat. Pelaku pasar mengatakan pernyataan Presiden Trump seolah menegaskan, walaupun perang dagang saat ini dalam fase damai, hubungan perdagangan AS dan Tiongkok tetap dalam kondisi yang rentan.

Trump sebenarnya juga tidak menutup kemungkinan gencatan senjata bisa diperpanjang setelah masa 90 hari berakhir. “Negosiasi dengan Tiongkok sudah dimulai. Kecuali diperpanjang, akan berakhir 90 hari dari tanggal makan malam kami dengan Presiden Xi (Jinping) di Argentina,” kata dia.

 

Belum Ada Perbaikan

Kepala Departemen Ilmu Hubungan Internasional UGM, Nur Rachmat Yuliantoro, mengatakan jika kesepakatan AS-Tiongkok gagal maka dunia akan mengalami krisis ekonomi.

Sementara itu, proteksionisme akan semakin mengemuka dalam hubungan antarnegara. “Yang terpenting Indonesia bisa mengambil peran lebih dalam situasi dunia saat ini. Jangan tunggu saja, tapi juga lebih menunjukkan diri sebagai negara besar,” kata Nur.

Menurut dia, Indonesia mesti terus bekerja keras meningkatkan daya saing agar dalam situasi apa pun tetap bisa bertahan. Dalam dunia yang berubah lebih cepat dan padat teknologi, daya saing adalah kata kunci utama yang mesti dicapai oleh setiap negara.

Ekonom Universitas Brawijaya, Candra Fajri Ananda, mengatakan meski AS dan Tiongkok sudah sepakat akan mengakhiri perang dagang, potensi gejolak dipastikan masih ada dan berdampak pada kondisi perekonomian nasional. “Kondisi itu memang membuat rupiah kita menguat. Tapi secara fundamental sebenarnya kita belum ada perbaikan,” kata dia.

Menurut Candra, problem utama Indonesia adalah defisit transaksi berjalan yang melebar. Oleh karena itu, defisit ini harus dikejar dengan berbagai cara untuk mendapatkan dollar. “Jika pemerintah menerbitkan obligasi valas, itu targetnya hanya untuk mendapatkan pendapatan negara dalam bentuk dollar. Padahal, cara efektif untuk mendapatkan dollar adalah dengan eskpor,” kata dia. 

 

ahm/SB/YK/AFP/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment