Koran Jakarta | December 16 2018
No Comments
Perang Dagang

Tiongkok-AS Kembali Saling Ancam Luncurkan Tarif Impor

Tiongkok-AS Kembali Saling Ancam Luncurkan Tarif Impor

Foto : AFP/Johannes EISELE
Masih Surplus - Pekerja menurunkan barang dari kapal di Pelabuhan Zhangjiagang, Provinsi Jiangsu, beberapa waktu lalu. Perdagangan Tiongkok masih surplus sekalipun AS menerapkan tarif impor produk-produk Tiongkok.
A   A   A   Pengaturan Font

BEIJING – Tiongkok telah menyiapkan aksi balasan terhadap kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS) senilai 200 miliar dollar AS sekitar 2.979 triliun rupiah setelah masa konsultasi publik berakhir pada Kamis (6/9).

“Terlepas dari perbedaan pendapat, jika AS mengambil langkah bea masuk baru, Tiongkok terpaksa mengambil tindakan pembalasan yang diperlukan,” kata juru bicara Kementerian Perdagangan Tiongkok, Gao Feng, di Beijing, Kamis.

Menurut Gao, Tiongkok akan terus memantau dampak dari kebijakan baru bea masuk AS dan akan mengambil langkah tegas untuk membantu perusahaan Tiongkok atau asing yang beroperasi di Tiongkok untuk menghadapi kesulitan yang ditimbulkan.

Sehari sebelumnya di Gedung Putih, Washington DC, Presiden AS Donald Trump menyatakan belum siap untuk membuat kesepakatan dengan Tiongkok.

“Negosiasiasi dengan Tiongkok berjalan dengan sangat baik tapi kami belum siap untuk membuat kesepakatan yang mereka inginkan,” katanya seperti dikutip sejumlah media.

Trump menambahkan, AS akan terus berkomunikasi dengan Tiongkok karena dia sangat menghormati Presiden Tiongkok, Xi Jinping.

Sementara itu, sumber di pemerintahan Trump mengungkapkan AS telah siap untuk mengenakan kebijakan bea masuk berikutnya setelah periode komentar publik yang berakhir Kamis tengah malam di Washington.

“Namun, masa berlaku kebijakan baru itu belum pasti,” ujar sumber tersebut. Jika kebijakan baru tarif impor itu berlaku diperkirakan akan langsung memukul produk konsumen, seperti mebel, produk lampu, ban, sepeda, dan kursi mobil untuk bayi.

Tiongkok dan AS telah saling balas bea impor terhadap berbagai produk senilai masing- masing 50 miliar dollar AS.

Kebijakan ini menghantui pasar keuangan dalam beberapa bulan terakhir karena para investor dan pembuat kebijakan khawatir perang dagang yang sengit dapat menghambat pertumbuhan global.

Trump menuntut Tiongkok untuk membuka akses pasar dan melindungi aset intelektual perusahaan AS. Ia juga ingin Tiongkok memotong subsidi industri dan memangkas selisih perdagangan sebesar 375 miliar dollar AS.

Pada Agustus, Tiongkok mengumumkan daftar bea masuk balasan sekitar 60 miliar dollar AS produk AS.

Namun demikian, data perdagangan terbaru AS yang dirilis pada Rabu (5/9) memperlihatkan defisit perdagangan AS dan Tiongkok per Juli 2018 justru semakin melebar sekitar 8 persen menjadi 234 miliar dollar AS dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Tentu saja data tersebut dianggap ganjil oleh kalangan ekonom.

“Kebijakan pemerintah sekarang mungkin tidak didesain untuk menaikkan defisit perdagangan, tapi yang terjadi justru sebaliknya dan itu adalah risiko,” kata Philip Levy, anggota dewan penasihat ekonomi untuk mantan Presiden AS George W Bush. Ant/AFP/ils/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment