Koran Jakarta | October 22 2018
No Comments
Perang Dagang - 60% Perusahaan AS di Tiongkok Jadi Korban

Tiongkok-Amerika Siap Berunding Lagi

Tiongkok-Amerika Siap Berunding Lagi

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Para pakar memperingatkan agar jangan terlalu berharap, mengingat kedua pihak masih jauh dari kata sepakat.

 

BEIJING - Tiongkok menyambut tawaran Amerika Serikat (AS) untuk melakukan perundingan dagang baru.

Upaya kedua pihak membahas detail pelaksanaan rencana itu, telah menimbulkan harapan baru bagi dunia yang terancam dampak perang dagang habis-habisan dari kedua negara ekonomi terbesar di dunia itu.


Selama berbulan-bulan, kedua negara telah saling melontarkan ancaman akan memberlakukan tarif impor tambahan yang nilainya semakin lama makin tinggi.

Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, dilaporkan telah mengundang pejabat teras Tiongkok untuk membahas masalah itu.


“Tiongkok percaya kalau eskalasi konflik perdagangan yang terjadi bukan keinginan pihak mana pun. Beijing memang sudah menerima undangan dari AS, dan menyambut positif niat baik itu.

Sekarang, kedua belah pihak masih membicarakan rinciannya,” kata Juru Bicara Kementerian Perdagangan Tiongkok, Gao Feng, di Beijing, Kamis (13/9).


Survei terbaru menunjukkan, mayoritas perusahaan-perusahaan AS di Tiongkok mulai merasakan harapan, setelah pekan lalu Presiden AS, Donald Trump, mengancam akan memberlakukan tarif untuk semua produk impor Tiongkok senilai 500 miliar dollar AS.


Saham Naik


Harapan berlanjutnya perundingan telah membawa pasar saham Asia di Hong Kong naik 2,5 persen, dan di Shanghai naik lebih dari satu persen, setelah jatuh selama enam hari berturut-turut.


Namun, para pakar memperingatkan agar jangan terlalu berharap, mengingat kedua pihak masih jauh dari kata sepakat.

Dalam kolom Newsletter Trivium China, ekonom Andrew Polk menyebut hal itu disebabkan pemerintahan Trump tampak masih belum sepenuhnya ingin mengurangi tekanan, sementara pada sisi lain, Beijing juga tidak ingin mengalah pada posisinya.


“Kami tidak berpikir Tiongkok memiliki lebih banyak dari yang mereka tawarkan sebelumnya, dan AS juga cenderung tidak menerima apa yang saat ini ada di meja. Kita mungkin akan mengalami kekecewaan lagi,” kata Polk.


Trump memberlakukan tarif impor tambahan tahap pertama pada musim panas ini senilai 50 miliar dolar AS, terhadap berbagai produk manufaktur, termasuk barang-barang berteknologi tinggi.

Sementara Beijing juga membalas dengan setiap dollar yang sama dari serangan yang dilakukan AS, baik untuk kedelai, kendaraan, dan produk pertanian lainnya. Gelombang serangan berikutnya berupa tarif impor 25 persen senilai 200 miliar dollar AS, membayangi pembicaraan yang akan berlangsung.


Beijing sendiri bersumpah akan membalas dengan tarif impor sebesar lima hingga 25 persen pada produk impor AS senilai 60 miliar dollar AS.


“Sepertinya Menteri Mnuchin yang memimpin perundingan dengan Tiongkok, telah menyampaikan undangan itu. Lebih baik ada pembicaraan daripada tidak, jadi saya menganggap hal ini sebagai kemajuan,” kata Penasihat Ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow, pada Fox Business Network, Rabu (12/9).


Hasil jajak pendapat yang dilakukan Kamar Dagang AS di Tiongkok pada ratusan perusahaan menyebutkan, sekitar 60 persen perusahaan AS di Tiongkok mengaku terdampak oleh ketegangan dagang yang meningkat, seperti mengalami kenaikan biaya produksi, penurunan laba.


“Sementara sekitar sepertiga dari perusahaan telah mengalihkan pasokannya dari Tiongkok atau AS, menunda atau membatalkan rencana investasi,” ujar isi survei itu.


Survei juga menyebut, lebih dari separuh perusahaan AS merasakan dampak balasan Beijing, berupa tindakan non-tarif seperti pengawasan yang lebih ketat, dan pemeriksaan bea cukai yang lebih lambat. AFP/SB/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment