Koran Jakarta | July 22 2019
No Comments
Kekerasan Anak - Polisi Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Penganiayaan

Tingkatkan Perlindungan Siswa dari Perundungan

Tingkatkan Perlindungan Siswa dari Perundungan

Foto : ANTARA/JESSICA HELENA WUYSANG
RAPAT BERSAMA - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy (kanan) berbicara dengan Kepala Sekolah SMP Negeri 17 Pontianak, Lukman Hakim (kiri) usai menggelar rapat bersama sejumlah kepala sekolah dan aparat kepolisian untuk membahas kasus penganiayaan siswi SMP di Mapolresta Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (11/4).
A   A   A   Pengaturan Font
Untuk mencegah agar penganiayaan yang menimpat pelajar tidak terjadi lagi, pemerintah akan meningkatkan perlindungan siswa dari kasus perundungan.

 

JAKARTA - Kasus perund­ungan yang menimpa korban remaja perempuan bernama Audrey (14 tahun), di Kota Pon­tianak, menuai banyak simpati dan keprihatinan. Ke depan, ja­ngan ada lagi kasus perundun­gan seperti dilakukan sejumlah pelajar di Pontianak ini. Hal itu bisa diwujudkan dengan me­ningkatkan perlindungan ke­pada para siswa.

“Kami prihatin adanya pe­rundungan yang dilakukan pe­lajar di Pontianak dan meng­harapkan kasus serupa tidak terjadi lagi di kalangan pelajar. Koordinasi kementerian terkait hendaknya dapat lebih me­ningkatkan optimalisasi per­lindungan anak, khususnya di kalangan pelajar SD, SMP, dan SMA,” kata Menko Pembangu­nan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Puan Maharani, di Ja­karta, Kamis (11/4).

Puan akan terus memantau setelah mendapatkan laporan terkini penanganan kasus pe­rundungan ini. Tim yang di­bentuk wali kota Pontianak, ter­masuk Dinas Pendidikan, masih berkoordinasi dengan Polrestra Pontianak untuk menyelidiki motif terjadi kekerasan.

Dalam penyelidikan dite­mukan rekam jejak di medsos, di mana ada interaksi chat­ting antara saksi korban dan terduga pelaku sebelum ke­jadian. Sejauh ini, tindak lanjut penanganan kasus yang sudah dilakukan antara lain Kasat Reskrim dan Kanit PPA Polres­ta Pontianak sedang dilakukan dengan meminta hasil visum dan rekam medis korban.

Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KP­PAD) Kalimantan Barat (Kal­bar), Eka Nurhayati Ishak, telah menerima dan menindaklan­juti pengaduan kasus perund­ungan tersebut. KPPAD Kalbar berharap kasus ini dapat dis­elesaikan secara damai.

Dampingi Korban

Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Ke­men PPPA), Pribudiarta N Sitepu berkomitmen menga­wal kasus penganiayaan yang menimpa Audrey. Korban akan terus mendapatkan penangan­an dalam bentuk trauma heal­ing dari psikolog. Sementara pihak rumah sakit berencana melakukan hypnotherapy bagi korban. Kemen PPPA berharap agar korban mendapatkan pro­ses pemulihan terbaik.

Saat ini, tambah Pribudiarta, Kemen PPPA telah memben­tuk tim untuk menangani kasus tersebut. Tim terdiri dari Kemen PPA bekerja sama dengan Di­nas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinas PPPA) Provinsi Kalbar, Dinas PPPA Kota Pontianak, Polresta Pontianak. Para psikolog telah turun langsung menangani dan mendampingi korban yang ma­sih dirawat di RS Mitra Medika serta mendampingi hingga ra­nah hukum.

Polresta Kota Pontianak te­lah menetapkan tiga tersangka dalam kasus penganiayaan dan dikenakan Pasal 80 Ayat (1) UU No 35/2014 tentang Perubahan UU No 23/2002 tentang Perlind­ungan Anak, dengan ancaman tiga tahun enam bulan penjara. Berdasarkan hasil visum kasus tersebut masuk kategori peng­aniayaan ringan. Para pelaku akan diberikan pendampingan dalam bentuk pemulihan pola pikir atas tindakan salah yang telah dilakukan.

“Kemen PPPA menghargai setiap proses hukum yang ber­laku, namun mengingat para pelaku masih dalam kategori anak-anak, kami berharap se­mua pihak menangani pro­ses ini dengan tidak gegabah,” terang Pribudiarta. eko/ruf/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment