Koran Jakarta | April 29 2017
No Comments

Tidur, Obat Terbaik dari Segala Penyakit

Tidur, Obat Terbaik dari Segala Penyakit

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : 100 Fakta Seputar Tidur
Penulis : Tim Naviri
Penerbit : Elex Media Komputindo
Cetakan : Pertama, 2016
Tebal : 415 halaman
ISBN : 978-602-8240-4

Manusia memiliki waktu 24 jam. Idealnya, sepertiganya untuk tidur atau beristirahat. Namun, biasanya sering kali muncul yang tak terduga mengurangi waktu tidur. Ini bisa urusan pekerjaan atau gangguan sehingga tidak bisa tidur nyenyak.

Buku ini mengawali dengan penjelasan tubuh selama tidur, di antaranya suhu menurun, tekanan darah dan detak jantung menurun. Kemudian, otot lumpuh sementara, serta produksi kolagen meningkat.

Meski tampaknya sepele, tidur terbukti memiliki pengaruh besar pada kesehatan, aktivitas, kinerja, dan produktivitas. Tidur dapat memengaruhi kecantikan kulit. Studi Dr Guy Meadows (pakar dalam bidang tidur) untuk mengetahui perbedaan tidur delapan jam dan enam jam. Setelah lima malam, hasilnya, para relawan tidur hanya enam jam setiap malam menunjukkan perubahan pada garis-garis halus dan kerutan yang meningkat hingga 45 persen. Kemudian, bintik hitam meningkat hingga 13 persen. Kantung hitam di mata hingga 127 persen (hal 38).

Dalam kesehatan, tidur 7–8 jam secara teratur setiap malam dapat menyehatkan jantung sehingga akan membantu menenangkan sistem saraf dan menghilangkan stres kerja. Sebaliknya, kurang tidur malam hari dapat meningkatkan risiko kanker payudara dan usus besar karena perbedaan tingkat hormon melatonin pada orang yang terkena cahaya lampu malam hari (hal 57).

Cukup tidur dapat mengobati stres, yang secara tidak langsung dapat mengurangi risiko hipertensi. Selain itu, tidur nyenyak pada malam hari juga menjadikan sistem internal tubuh (kekebalan) menjadi lebih baik dan waspada sehingga tubuh tidak mudah terserang penyakit.

Ketika tidur saat sakit kepala ataupun selesma, sel-sel tubuh menghasilkan lebih banyak protein. Molekul dalam tubuh membentuk blok bangunan untuk sel yang memungkinkan memperbaiki kerusakan (hal 61).

Tidur juga dapat memengaruhi produktivitas. Kemampuan berpikir yang berkurang dan sulit berkonsentrasi bisa karena kurang tidur. Otak memanfaatkan waktu tidur untuk membersihkan toksin selama berpikir seharian. Maka, tidur yang cukup dapat menyegarkan kembali otak.

Kurang tidur dapat menyebabkan mudah lupa. Karena tidur malam dapat memperkuat hubungan antara sel-sel saraf otak, tempat proses mengingat, serta memperkuat memori yang melemah seiring berjalannya waktu.

Yang tidak kalah pentingnya, tidur dapat memengaruhi keharmonisan keluarga. Penelitian menemukan bahwa posisi tidur suami istri ikut menentukan tingkat keharmonisan rumah tangga. Pasangan yang tidur dengan posisi sarat kontak fisik dapat membuat hubungan semakin harmonis dan hangat. Kontak fisik yang dimaksud adalah tidur sambil berpelukan atau berpegangan tangan (hal 77).

Penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa orang yang tidurnya sering terganggu atau kurang, cenderung memperlakukan pasangannya secara tidak baik. Tentu saja tidur yang cukup harus ditunjang dengan komunikasi baik, saling menghargai, serta rasa cinta dan sayang.

Buku ini juga menjelaskan berbagai fakta menarik lain tentang tidur, di antaranya serba-serbi tidur siang, masalah tidur seperti insomnia, mendengkur, sleep apnea (henti napas saat tidur), bruxism (mengertakkan gigi sewaktu tidur), dan sleep paralysis (tindihan). Isu lain tentang berbagai tip seperti menenangkan diri, menata cahaya, membentuk kebiasaan bangun pagi, hingga minuman dan makanan yang baik dikonsumsi sebelum tidur. Semuanya bersumber dari hasil riset dan penelitian para pakar. 


Diresensi Nathalia Diana Pitaloka, Magister Perencanaan Wilayah dan Kota ITB

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment