Koran Jakarta | November 21 2017
No Comments

Tidak Ada yang Sia-sia dalam Hidup Ini

Tidak Ada yang Sia-sia dalam Hidup Ini

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Pelajaran Sederhana Luar Biasa

Penulis : Yudisrizal

Penerbit : Gramedia

Cetakan : Pertama, Agustus 2017

Tebal : 268 Halaman

ISBN : 978-602-03-5532-0

Jauh berjalan banyak dilihat. Lama hidup banyak dirasa. Begitulah buku tulisan Yudisrizal, seorang auditor, yang sehari-hari bekerja di BP Migas Jakarta, berkisah. Lulus DIII STAN tahun 1990, ditempatkan di Perwakilan BPKP NTT. Setelah meraih gelar akuntan dari perguruan tinggi yang sama tahun 1996, ditempatkan di Deputi Pengawasan Perminyakan Kantor Pusat BPKP di Jakarta. Tahun 2003 dia bekerja di BP Migas Jakarta.

Sering ditugaskan ke berbagai pelosok Nusantara dan mancanegara, lantas perjalanan itu tidak dinikmati sendiri. Ia kisahkan dalam sebuah buku ini. Berbagai kisah penuh nilai moral. Perjuangan sebagai profesional di dunia dagang dimulai sebelum sekolah. Dia selalu berusaha mencari jalan keluar dari semua permasalahan demi ikut membantu meringankan beban keuangan orangtua yang sehari-hari sebagai pedagang kaki lima.

Tamat SMA, dia mengikuti jejak orangtua sebagai pedagang kaki lima agar bisa mengumpulkan dana untuk melanjutkan kuliah. Penulis kecil memulai bisnisnya di kaki lima Pasar Atas Bukittinggi yang mungkin tidak semua anak punya keberanian melakukannya. Dia mulai dari jualan koran, poster, mercon, TTS, dan sebagainya (hal 76).

Dari sekitar Pasar Atas Bukittinggi, kemudian hijrah ke Pasar Senen Jakarta sebagai pusat grosir TTS seluruh Indonesia adalah liku-liku yang dijalani sebagai pebisnis kecil jalanan. Dia juga mengisahkan pernah berurusan dengan polisi karena tertangkap saat menghitung hasil penjualan mercon (hal 34). Ini membuat terharu sekaligus geli.

Ditugaskan sebagai auditor di NTT adalah pengalaman pertamanya setelah Diploma III. Strategi belajar sembunyi-sembunyi dini hari saat yang lain terlelap agar bisa lulus ujian masuk program Diploma IV STAN akhirnya ketahuan juga oleh teman satu kamar (hal 124). Dia juga rekan seperjuangan mendapat kenaikan golongan III/A di “injury time” dengan mendatangi kepala sekretariat STAN di hari libur (hal 184). Yang terjadi bisa saja sebaliknya, tapi ‘sahabat hidup kesusahan’ yang selalu setia menemaninya sepertinya mulai tidak betah mendampinginya.

Satu persatu halangan ditaklukkan. Tak jarang penulis menghadapi situasi dilematis di lapangan, yang kadang berlawanan dengan hati nurani, integritas, dan prinsip. Seperti prinsip menghindari ‘kumpul-kumpul’ di branded coffee shop ataupun memanfaatkan fasilitas kantor saat ke luar kota ataupun ke luar negeri.

Prinsip yang mendobrak common sense yang walaupun dinilai aneh oleh teman sekantor, tetapi tetap dilakukan (Hal 237). Fasilitas kantor bukanlah buat keluarga. Kisah cintanya mulai dari SMA berlanjut kuliah, keluar dari pakem kisah-kisah cinta pada umumnya. Semua berakhir damai, bukan happy ending dan kisah sedih (hal 117).

“Tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini,” begitulah dia bercerita mengenai perjuangan les BahasaInggris selama 2 tahun untuk menambah kredit syarat naik ke golongan. Tapi ternyata tidak dianggap oleh orang kepegawaian kantornya. Nilainya nol besar. Pengorbanan les 2 tahun terbayarkan pada saat tes masuk BP Migas.

Tes kemampuan bahasa Inggris yang menyebabkan banyak peserta gugur, dilalui dengan mudah. Dia malah membuat penguji Bahasa Inggris terpana mendengarkan kisah perjalanan dan pengalaman kerja dalam Bbahasa Inggris (hal 191).

Buku menggambarkan masa lalu yang penuh perjuangan dan hampir membuat putus asa. Kini walau bekerja di sektor migas, hidupnya tetap sederhana. Dia tidak mau tercerabut dari kisah getir masa lalu. 

Diresensi Irwan Anwar, Lulusan Institut Teknologi Bandung

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment