Koran Jakarta | October 21 2019
No Comments

Tiap Hari Makan Sekali Lebih Sehat

Tiap Hari Makan Sekali Lebih Sehat
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Diet Minimalis
Penulis : Dr Yoshinori Nagumo
Penerbit : Qanita
Cetakan : Pertama, Mei 2019
Tebal : 184 Halaman
ISBN : 9786024021399

Bagi sebagian orang, perut ko­song atau dalam keadaan lapar itu berbahaya dan berakibat buruk bagi kesehatan. Mag adalah pe­nyakit yang sering ditengarai muncul karena seseorang tidak bisa menjaga pola makan. Ketika lapar, umumnya perut akan berbunyi. Saat itulah se­seorang akan makan dengan porsi ba­nyak. Padahal, ketika perut berbunyi karena lapar, sel-sel baru justru akan tumbuh, sehingga dapat meremajakan tubuh.

Demikianlah yang dinyatakan dokter Yoshinori Nagumo dalam buku Diet Minimalis. Buku ini menjelas­kan cara menjaga pola makan yang baik dan bermanfaat. Polanya adalah makan sekali sehari (diet minimalis). Pola ini ternyata mendatangkan ba­nyak manfaat kesehatan.

Umumnya, manusia makan dua hingga tiga kali sehari: pagi, siang, dan malam. Hal itu sudah menjadi lumrah dipraktikkan banyak orang. Namun, buku ini bahwa makan sekali sehari atau diet minimalis juga bisa menye­hatkan. Makan tiga kali sehari belum tentu baik bagi kesehatan. Tapi justru sedikit sekali gen vitalitas yang bekerja ketika seseorang makan berlebihan. Karena itu, orang yang terserang penyakit akibat pola hidup tidak sehat, salah satunya karena makan berlebihan.

Bukan rahasia lagi, empat penya­kit penyebab kematian tertinggi di mana pun (kanker, penyakit jantung, stroke, dan diabetes melitus) terkait dengan pola makan yang buruk atau kegemukan karena makan berlebihan. Maka, jika ingin tetap sehat, terlihat muda, dan memiliki kesehatan yang baik hingga usia lanjut, sudah saatnya memperbaiki pola makan sehari-hari dan menghentikan kebiasaan makan berlebihan.

Memang akan sangat sulit memu­lai kebiasaan makan sekali sehari. Tetapi, dengan berbagai latihan, akan menjadi kebiasaan yang baik. Buku ini akan memandu cara-cara meng­ubah pola makan dari tiga kali sehari menjadi sekali sehari. Itu sepertinya sederhana, namun besar sekali man­faatnya.

Langkah pertama yang perlu dilakukan, mengurangi porsi makan. Caranya dengan menggunakan pera­latan makan yang biasa dipakai anak-anak. Dengan begitu, porsi makan seseorang sudah mulai berkurang. Namun begitu, tetap memperhatikan lauk-pauk yang dimakan. Misalnya, tetap dengan mengonsumsi sayur, sup, nasi putih atau merah (halaman 50).

Lalu, mulailah mempraktikkan makan sekali sehari. Ketika bangun terlalu siang dan dikejar waktu, se­seorang terkadang sarapan sambil berlari ke stasiun atau di dalam kenda­raan pribadi. Dalam keadaan seperti itu, lebih baik tidak makan, cukup minum air. Apalagi jika orang terlalu banyak makan pada malam sebel­umnya, sehingga perut terasa berat. Dari sudut pandang ilmu kedokteran, seseorang lebih baik berpuasa untuk mengistirahatkan perut ketika meng­alami keadaan seperti itu (hlm 53).

Lebih lanjut, buku menyarankan jangan pernah nekat makan camilan manis. Sebab porsi yang sedikit pun akan merangsang produksi hormon insulin, meningkatkan lemak tubuh, dan memperburuk kondisi pencer­naan. Ini akan membuat seseorang akan merasa cepat lapar.

Kemudian, makan siang dengan porsi kecil. Jangan sampai makan berlebihan karena akan membuat mengantuk. Saat makan malam ja­ngan mengonsumsi makanan yang menaikkan kadar gula (glukosa) darah dengan cepat. Kita bisa memilih makanan dengan indeks glikemik ter­endah sebagai acuan. Makan nasi me­rah atau gandum lebih baik daripada nasi putih atau roti putih.

Buku ini sangat membantu pem­baca menjaga kesehatan dengan memperhatikan pola makan yang baik untuk menjaga agar senantiasa tetap fit dalam beraktivitas. Diresensi Untung Wahyudi, lulusan UIN Sunan Ampel, Surabaya

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment