Koran Jakarta | December 15 2017
No Comments

The Man Behind The Gun dari Merdeka Utara

The Man Behind The Gun dari Merdeka Utara

Foto : koran jakarta / agus supriyatna
A   A   A   Pengaturan Font

Ada peribahasa, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Peribahasa ini untuk menggambarkan bahwa seorang anak itu, tak bisa lepas dari orang tuanya. Jika seorang anak itu pintar, kerap itu dianggap karena ayah atau ibunya juga orang yang pintar. Peribahasa itu sepertinya tepat untuk menggambarkan seorang pejabat dengan putrinya.

Pejabat itu adalah Yuswandi A Temenggung. Ia sekarang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal di Kementerian Dalam Negeri. Suatu malam, Senin 12 Juni 2017, di sebuah hotel di Yogyakarta, Koran Jakarta sempat mengobrol panjang lebar dengan Pak Yus, demikian panggilan akrabnya. Ditemani secangkir kopi dan kudapan kue kering, kami berdua ngobrol panjang lebar. Salah satu obrolannya tentang anak-anaknya. “ Anak saya tiga orang,” kata Pak Yus.

Karir Pak Yus sendiri merentang jauh. Ia mulai mengawali karirnya di Merdeka Utara, era Menteri Dalam Negeri, Amir Machmud. Jabatan Sekjen Kemendagri, adalah puncak karirnya sebagai birokrat. Dan, jarang orang tahu, latar belakang pendidikan Pak Yus. “Saya lebih senang jadi orang dibelakang layar saja.

Ya semacam The Man Behind The Gun. Ada kebanggaan tersendiri merasakan capaian kelembagaan, walau tak terlihat orang,” kata lelaki kelahiran Palembang, 22 Juni 1957 itu. Ternyata ia lulusan salah satu universitas bergengsi di Amerika Serikat. Dia, lulusan Cornell University, salah satu universitas ternama yang tak kalah bergengsi dengan Universitas Harvard. Gelar S2-nya ia raih di Cornell. Pun gelar doktornya direngkuh di universitas yang sama.

“Cornell itu cita-cita saya. Saya daftar di Cornell, karena basis saya adalah ekonomi pertanian. Tapi saya kerja di Kemendagri. Penyandang beasiswa saya sendiri awalnya menyarankan pilihan ke universitas di Kanada. Tapi saya pilih Cornell,” tuturnya. Namun, meski ia seorang pejabat, tak satu pun anaknya yang jadi pegawai negeri sipil.

Kata Pak Yus, ia membebaskan ketiga anaknya untuk memilih karir dan jalan hidupnya. Ia tak pernah memaksakan keinginan. Anaknya yang pertama, Arlo Ardika setelah lulus dari ITB memilih berwiraswasta. “Sekarang bisnisnya menyewakan alat bayi,” katanya. Sementara anaknya yang kedua, Binita Orchidina, karirnya justru tak terduga.

Selepas lulus dari ITB, putrinya yang kedua dapat beasiswa di Duke University, Amerika Serikat. Lulus langsung bekerja di perusahaan raksasa teknologi informasi dunia, Google. Namun menurut Pak Yus, sekarang putrinya tak lagi di Google, tapi sudah pindah kerja. Tempat kerja baru putrinya masih di perusahan teknologi informasi yang juga tak kalah dengan Google.

“Sekarang sudah pindah ke Microsoft. Pindah ya karena gajinya lebih gede ha ha ha,” kata Pak Yus sambil tertawa. Sedangkan anaknya yang ketiga masih menempuh pendidikan di Universitas Indonesia. Pak Yus sendiri sebentar lagi akan pensiun. Bulan Juli ini, ia akan mengakhiri masa bakti. Kata dia, usai pensiun ia ingin kembali ke kampus, mengajar. Sebab katanya, sebelum ia masuk Kemendagri, sebenarnya sudah diterima jadi dosen di Universitas Lampung. agus supriyatna/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment