Koran Jakarta | April 26 2019
No Comments

The Magic of “Nobar”

The Magic of “Nobar”

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font
CATATAN ARSWENDO

 

Nobar, bahasa gaul, singkatan dari “nonton bersama”. Nonton bersama. Biasanya yang ditonton bersama adalah pertunjukan musik, pertandingan olahraga— umumnya sepak bola, dan atau nonton di gedung bioskop. Ketika jenis kegiatan pentas menuntut penonton yang loyal, yang mencintai mereka, yang rela berlelah dan mengeluarkan dana. Ada hubungan antara yang ditonton dengan penonton. Kadang juga hubungan emosi, antara fans sepak bola dengan kesebelasannya, dan atau dengan lawan kesebelasannya.

Siang ini, saya bagian dari yang nobar itu, yaitu nonton film bersama. Kalaupun seminggu sebelumnya saya sudah nonton—karena diundang alias gratis, oleh produsernya. Tapi karena ajakan nobar ini sudah mengundang di WAG, grup WA, sejak lama, lengkap dengan daftar nama yang akan nobar bersama—serta perubahan nama, Dan sesungguhnya ketika itu the magic of—keajaiban dari—ini istilah yang biasa digunakan pengguna media sosial, sudah mulai.

Bukan sekadar nama yang ikut, melainkan juga nama yang sudah terdaftar dan mundur, dikejar pertanyaan kenapa. Jawaban sedang sakit, hanya memperlebar pertanyaan. Sampai ketemu jawaban yang dramatis. Misalnya tak bisa nobar karena bersamaan dengan cuci darah di rumah sakit. Sejak kapan? Kok tak ada yang tahu? Bahkan kalau semua lancar-lancar masih ada usulan atau jawaban. Kita nontonnya pakai dress code, pakai apa.

Apakah cukup warna yang dikenakan atau ada aksesori tambahan lain. Apakah tidak terlalu panas, atau dingin. Sampai dengan kumpul di mana, jam berapa, dengan serangkaiam negosiasi di dalamnya. Argumen demi argumen dipertontonkan dalam tulisan— yang kadang menimbulkan salah mengerti, dan suasana menjadi “panas”, sebelum akhirnya terjadi kompromi terakhir. Ide yang bagaimana pun cemerlangnya, berakhir dalam bentuk kompromi.

Dan di sinilah proses berdemokrasi menemukan tempatnya, suasana yang akhirnya bisa menjadi kesepakatan bersama. Itu sendiri sudah magic atau magis kalau istilah ini boleh didekatkan. Tapi menurut saya yang benar-benar magic adalah ketika ada keluhan seorang peserta yang sangat berminat, namun keuangan tak mendukung. Kadang langsung disambar mereka yang berkenan menjadi sponsor. Bahkan lebih jauh dari itu, latar belakang kekurangan tadi ikut diperbincangkan.

Oh, jualan pecel sedang lesu karena lokasi penjualan yang lama sedang di-renov. Termasuk bantuan untuk yang lain. Atau siapa akan menghubungan apa. Bisa juga sarana transportasi bisa dipermudah, atau akses yang terbuka.

Kemungkinan tersingkapnya komunikasi menjadi luas, dan bukan tidak mungkin menjadi penyelesai suatu masalah. Dan itu baik dan benar dan bermanfaat. Sebuah kelompok— atau organisasi longgar, terbentuk seketika karena satu kebutuhan, menjadi dinamis untuk hal-hal lain yang lebih pnting. Nobar di sini bisa menjai “pikbar”, atau piknik bareng, yang dinamikanya memungkinan untuk menyelesaikan masalah hingga tuntas.

Bukan soal harga bubur di mana lebih murah, enak, tak tertandingi, melainkan juga ada obat apa untuk penyakit apa, di mana dan bagaimana mendapatkannya. Berbagai alternatif terbukakan.

Inilah magic yang sesungguhnya dan saya menjadi bergairah untuk hal-hal yang sebelumnya tak saya ketahui. Kalau kegiatan yang kelihatan sepele ini bisa dimanfaatkn dengan baik, banyak potensi dan penyelesaian masalah dipermudah. Meskipun akhir-akhir ini terasa betul pembeda, pencela, antaryang mereka pilpres atau parpol berbeda. Yang daya rusaknya tinggi dan keras.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment