Thailand Buat Jalur Darat yang Hubungkan Dua Pesisir | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 19 2020
No Comments

Thailand Buat Jalur Darat yang Hubungkan Dua Pesisir

Thailand Buat Jalur Darat yang Hubungkan Dua Pesisir

Foto : AFP/Royal Thai Government
Prayuth Chan-Ocha
A   A   A   Pengaturan Font

BANGKOK – Perdana Menteri Thailand, Prayuth Chan-Ocha pekan lalu mendukung rencana pembangunan jalur darat yang menghubungkan Teluk Thailand dan Laut Andaman. Rencana pembangunan infrastruktur transportasi darat terkini ini tampaknya akan menunda proyek yang telah lama dibahas untuk membangun kanal yang melintasi Semenanjung Malaya.

Proyek pembangunan infrastruktur transportasi ini sempat memicu debat dimana di satu pihak mengatakan bahwa pembangunan kanal memiliki risiko keamanan, sementara pembangunan jalur darat yang menghubungkan dua pelabuhan besar dengan jalan dan rel kereta, kurang menguntungkan dan tak praktis jika dibandingkan dengan kanal.

“Pembangunan jalur darat bisa memicu kembali pertumbuhan ekonomi saat sektor turisme dan ekspor dihantam oleh dampak pandemi Covid-19,” ucap PM Prayut, pada Selasa (8/9) lalu. “Saya telah mempelajari bahwa jalur darat yang menghubungkan pesisir barat dan pesisir timur, bisa membantu perekonomian kita dalam jangka panjang,” imbuh dia.

Pembangunan jalur darat maupun kanal, keduanya bisa mempersingkat arus pelayaran dari Samudera Hindia di sebelah barat dan Laut Tiongkok Selatan (LTS) serta Lautan Pasifik di timur atau sebaliknya. Saat ini jalur pelayaran tersingkat rute pelayaran timur-barat yaitu melalui Selat Malaka.

PM Prayut dalam pernyataannya sama sekali tak menyebut proyek kanal yang diberi nama Kanal Kra saat membahas jalur darat.

Menurut Menteri Transportasi Saksiam Chidchob, proyek kanal sulit untuk dikerjakan karena permukaan air di Laut Andaman dan Teluk Thailand amat berbeda ketinggiannya sehingga memerlukan beberapa titik transisi dan itu butuh ruang dan tak bisa menghemat waktu perjalanan.

“Jalur darat yang menghubungkan Provinsi ranong di barat dan Provinsi Chumphom di timur adalah jawabannya,” ucap Saksiam. “Jalur darat ini hanya sejauh 120 kilometer dan bisa menghemat dua hari pelayaran serta menghemat ongkos perjalanan jika dibandingkan harus melalui Selat Malaka yang jaraknya 1.200 kilometer,” imbuh dia.

 

Pertimbangan Keamanan

Sejumlah pihak di Thailand menolak pembangunan kanal karena alasan pertimbangan keamanan. Mereka tak mau kanal justru akan semakin menjauhkan wilayah selatan yang saat ini sedang kerap terjadi aksi pemberontakan berdarah.

Beberapa pihak juga mengkhawatirkan keterlibatan Tiongkok dalam proyek kanal bisa semakin meningkatkan pengaruh Tiongkok di kawasan.

“Kanal Thailand bisa memungkinkan Tiongkok untuk semakin cepat memindahkan armada kapal-kapal perangnya dari pangkalan-pangkalan barunya di LTS serta Samudera Hindia, dan itu sesuai dengan harapan Beijing untuk mengepung India, belum lagi Tiongkok akan semakin kuat mengendalikan dua samudera itu,” tulis Salvatore Babones, seorang profesor di University of Sydney, dalam jurnal Foreign Policy edisi September ini. Ant/RFA/I-1

 

 

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment