Koran Jakarta | August 24 2019
No Comments

Tetap Waras Menyikapi Kekalahan

Tetap Waras Menyikapi Kekalahan
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Yakin Waras?

Penulis : Mona Sugianto

Penerbit : Kanisius

Cetakan : 2018

Tebal : 192 halaman

ISBN : 978-979-21-5579-2

Era persaingan yang ketat sekarang banyak memunculkan orang-orang depresi, stres, dan berbagai penyakit mental lain. Tekanan yang begitu berat, ditambah lunturnya nilai-nilai utama seperti kejujuran dan kasih sesama, banyak mendorong orang berperilaku negatif. Mereka lalu berbohong, iri, bahkan membenci.

Buku ini mengajak pembaca kita menyelami berbagai ironi hidup manusia. Lewat pengalaman sebagai psikolog klinis, serta berbagai kisah nyata, penulis sebagai lulusan terbaik Magister Profesi Psikologi (Klinis) Universitas Atma Jaya Jakarta ini mengajak berefleksi, menjernihkan hati, dan menjaga kewarasan mental.

Buku menegaskan, waras tidak hanya tanpa penyakit kejiwaan. Ada aspek-aspek lain yang perlu dipenuhi untuk bisa dikatakan “waras”, di antaranya mencakup pikiran (kognitif), rasa (afektif), dan laku (psikomotorik). Buku mengajak pembaca memiliki “kemerdekaan” dan “keberanian” yang cukup. Bukan untuk menghakimi “apakah orang lain waras”, namun mempertanyakan diri sendiri, “apakah saya waras?” (hlm 14–15).

Kegagalan, kekecewaan, dan berbagai kondisi tak sesuai dengan harapan akan mengiringi kehidupan. Manusia waras bukan tak pernah gagal dan tak pernah kecewa. Manusia sehat mental sanggup memaknai setiap emosi dengan benar baik saat sedih, marah, maupun kecewa.

Bahasan menarik dan relevan dibicarakan saat ini, cara menyikapi kekalahan. Setelah pesta demokrasi dan kontestasi politik selesai, tentu peserta pemilu ada yang menang dan kalah. Menang tentu menyenangkan dan membahagiakan. Namun, yang kalah tak jarang mengalami stres dan depresi.

Buku ini juga memberi pemaknaan kekalahan secara positif sebagai konsekuensi sebuah kompetisi. Jika tidak siap kalah, jangan sekali-kali ikut berlomba. Di balik kekalahan atau kegagalan selalu ada proses pembelajaran yang penting bagi perkembangan diri.

Lebih lanjut, buku mendorong melihat lebih utama dari sekadar menang kalah. Umumnya, dalam sebuah persaingan, orang berlomba memastikan diri, anak, kubu, partai, tidak dicurangi. Tapi, yang lebih besar dari itu adalah kejujuran, kebijaksanaan, persaudaraan, dan kepentingan bersama (bangsa). “Adakah yang berbesar hati mengawasi dan memastikan supaya kubu, partai, calon presidennya tidak melakukan kecurangan?” (hlm 78).

Orang-orang yang hanya memikirkan kemenangan, bahkan sampai menghalalkan segala cara, telah mencederai nilai-nilai yang lebih besar dari sekadar menang kalah. Sebab, sikap, tindakan, dan segala perbuatan negatif demi meraih kemenangan hanya akan mencederai proses belajar hidup. Penting untuk bisa menerima dan memaknai segala kondisi baik menang maupun kalah dalam sebuah kompetisi.

Buku ini juga mengajak orang bebas mengekspresikan keinginan dan harapan, tanpa harus melukai atau memaksa orang lain. Kita mungkin punya harapan, namun juga perlu bijak dengan menghargai keinginan dan harapan orang lain. Refleksi dihadirkan dari berbagai segi kehidupan, mulai cara menyikapi keinginan orang sekitar seperti keluarga dan anak.

Saat ini, standar kesuksesan tak jauh-jauh dari kaya, terkenal, karir atau jabatan tinggi. “Begitu sulit bagi para orangtua untuk mendapat jawaban murni dari anak tentang sukses bagi dirinya sendiri, bukan dari ukuran orang lain” (hlm 112). Maka, tak heran jika ada orang sampai (ingin) bunuh diri karena tak sanggup menanggung malu saat gagal mencapai semua atau salah satu dari ukuran tersebut. Diresensi Al-Mahfud, lulusan STAIN Kudus

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment