Koran Jakarta | August 19 2018
No Comments

Terima Kasih Bola

Terima Kasih Bola

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Hari ini dan besok, gegap gempita gairah Piala Dunia, atau pildun, atau nama resmi Bola Rusia 2018, akan berakhir. Masih menunggu empat tahun lagi untuk menemukan suasana “bolamania”, yang bisa jadi lebih meriah.

Tak berlebihan kita, atau saya, mengucapkan terima kasih kepada bola. Nama yang diucapkan kali ini ini sudah mewakili sebutan pildun, atau Russia, atau bola akbar.


Pertandingan bola kali ini melarutkan bagi pencinta bola dengan segala perhitungan, prediksinya, namun juga menyeret yang awam untuk terlibat. Minimal terlibat dalam bertaruh, atau dalam pembicaraan, disertai emosi dan kadang emosional.


Selain ganas dan telengasnya pertandingan, banyak kisah-kisah haru, kisah-kisah yang menyemangati, kisah yang bahkan lebih dikenang dan bermakna selain selisih gol dan sorak-sorai.

Misalnya kesebelasan Jepang—wakil dari Asia bersama Korsel dan Iran—yang mampu memasukkan dua gol ke Belgia. Walau akhirnya kalah, simpati penonton tersedot ke arahnya.

Bahkan lebih dari itu, para suporter di stadion membersihkan sampah-sampah yang berserakan. Sungguh suatu tindakan terpuji.

Terpuji diingatkan mana kala terjadi di negeri ini, kesebelasan yang kalah mengamuk, merusak stadion, atau kendaraan, atau tawuran di jalanan. Jepang kalah, tapi menang dalam menarik simpati dan telah memberi contoh baik.


Hal sebaliknya terjadi pada pemain paling mahal sedunia, Neymar Jr. Penampilannya yang atraktif, namanya yang sohor selangit, terhempas karena tingkah lakunya di lapangan.

Saat melakukan diving, pura-pura jatuh karena perbuatan lawan, dan berharap lawan dapat hukuman, justru dikecam. Direndahkan dengan sebutan, pemain termahal dengan permainan terburuk.

Sandiwara pura-pura kesakitan yang tak pantas dilakukan seorang bintang. Bahkan para komentator dunia, termasuk pelatih, bertanya-tanya: kenapa bisa ada kelakuan yang menjijikkan ini? Kenapa bisa ada aib yang memalukan?


Sulit dibayangkan, pemain dengan rambut kuning ala mi ini bisa berdiri tegak menghadapi kritik, cemooh, atau pandangan penonton terhadapnya.

Bayangan Neymar berguling-guling akan lebih-lebih melegenda. Seperti yang terlihat pada meme yang berbedar. Mungkin mirip melihat artis yang pernah melakukan adegan porno. Imaji itu akan terus menempel ke mana pun bayangan pergi.


Masih banyak kesegaran yang dimunculkan. Bahwa sebenarnya Asia tak terlalu tertinggal dalam pildun. Bahkan, kini bisa masuk babak final, yaitu Kroasia.

Humor yang melegakan, walau juga sindiran. Dan inilah makna sesungguhnya. Ada double punch, pukulan ganda pada satu peristiwa.

Sebagaimana sindiran negeri ini dihuni 250 juta lebih, tapi susah memiliki kesebelasan yang bisa dibanggakan. Kroasia hanya berpenduduk empat juta. Islandia bahkan hanya memiliki penduduk sekitar 300 sekian ribu. Sampai dengan kenapa Tiongkok, India, Amerika tak terwakili.


Banyak kisah, banyak cerita terungkap, termasuk keinginan negeri ini berbicara atau terlibat, atau hadir di sana. Kalau bukan kesebelasannya, cukuplah misalnya bolanya dulu, atau priwitan yang adalah buatan Indonesia.


Harapan tinggi, antara lain bisa digerakkan dari bola dan dirasakan di seluruh dunia. Terima kasih bola

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment