Koran Jakarta | August 18 2017
No Comments

Terapi Melukis

Terapi Melukis

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

Melukis sebagai ekspresi sudah lama kita kenal. Juga sebagai penyalur hobi. Kini tren melukis sebagai terapi menjadi perhatian, dan dijadikan pendekatan,banyak dilakukan di berbagai negera di Eropa. . Juga di Indonesia sebenarnya sudah mulai.

Melukis sebagai terapi, bahkan sudah dilabeli secara khusus. Ada yang menyebut sebagai “aliran” atau jenis art brut. Istilah yang diperkenalkan Jean Dufflet (1901-1985) seorang pelukis Prancis, untuk jenis lukisan yang bergaya graffiti, naïf, primitif. Juga disebut sebagai outsider art, atau diluar gaya pelukis sekolahan. Secara khusus karya lukis ini dihasilkan oleh pasien gangguan mental.. Di antaranya penderita bipolar, pasien yang mempunyai dua orientasi, dan sangat moody, berubah perasaanya secara drastic. Yang juga sering dipergunakan istilah Unlimeted, tanpa batas. Di sini dikenalkan sebagai “Seni Liyan”. Saya kurang sreg dengan istilah ini, karena “liyan”, lebih berkonotasi lain, atau asing. Mungkin istilah “seni yang berbeda” lebih netral.

Apapun istilahnya art brut yang kebanyakan bukan pelukis dalam kesehariannya ini sebenarnya juga sudah dimulai di Indonesia. Beberapa kali mereka mengadakan pameran lukisan. Bahkan beberapa pengidap autis juga melakukan secara bersama. Dikelola oleh institusi di bawah The London School of Public Relations, LSPR, Jakarta, mereka mengadakan pameran antara lain di kampus juga di mal-mal. Saya pernah melibatkan diri. Bahkan lebih jauh lagi, bukan sekadar pameran lukisan melainkan sekaligus berteater: membuat naskah untuk mereka, dan memainkan. Sekaligus terapi, sekaligus inmformasi bagi masyarakat awam.

Jauh-jauh sebelumnya ada tokoh pelukis pendiri Sanggar Bamboe bernama Soenarto PR. Pelukis kenamaan ini memulai mengajarkan melukis di rumah sakit jiwa. Upaya mulia yang sangat mula-mula ini dilakukan di beberapa rumah sakit jiwa, sempat pula beberapa kali dipamerkan karya-karyanya. Sayang kurang tergemakan dan terjaga kontinyitasnya seperti yang terjadi di Negara-negara lain.

Negeri ini baru muali ikut berbicara di kancah internasional ketika Ni Tanmjung, 85 tahun, dari desa di Bali, di mana karyanya dipamerkan di The Collection de ‘Art Brut Brut , di Swiss. Ni Tanjung , empat tahun lalu, tadinya dianggap “kurang waras”, karena selalu melukis, menyanyi, menari, dan menggomel. Batu-batu di sekitarnya digambari wajah manusia. Sesuatu yang berbeda, sampai kemudian mendapatkan tempat yang berbeda dengan pelukis, atau seniman laion,. Ditempatkan dalam kreativitas yang berbeda, dengan penilaian yang berbeda. Yang memerdekakan karyanya. Baru-baru ini beberapa pelukis berbeda ini tampil dalam festival di London, dan memperoleh apresiasi tinggi.

Melukis karena nya bisa sebagai pendekatan terapi. Tapi yang sebenarnya , sebagaimana seni pada umumnya, seni memberikan ruang kebebasan, ruang mencipta, tanpa keharusan hanya satu isme, satu aliran, satu gaya, satu pemahaman belaka. Seni selalu openended, bukan penilaian final, selalu open caption, selalu terbuka untuk komentar atau kemungkinan selanjutnya. Lukisan mainstream, seni arus utama, atau juga model akademi—perguruan tinggi, tetap berkibar, namun sekaligus menyediakan untuk hadirnya seni yang berbeda. Dan pengakuan ini dibuktikan dengan adanya pameran tingkat dunia, festival, atau bahkan museum lukisan jenis ini.

Seniman dari Indonesia sudah berpartisipasi dalam festival internasional. Juga sudah saatnya membuka kemungkinan lebih diadakan pameran di kampus, atau galeri, atau bahkan museum khusus.

Seni, bukan hanya lukis, merangkul semua aliran, semua gaya, tanpa saling meniadakan, tanpa berebut yang lebih benar. Gaya atau isme manapun, pada akhirnya akan saling memperkaya dan dengan demikian dinamika itu terus berlanjut. Seni tak pernah mati karenanya. Juga tak akan berhenti.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment