Koran Jakarta | April 20 2019
No Comments
Benda Purbakala

Temuan Batuan Purba di Tiongkok Bisa Ubah Sejarah Evolusi Manusia

Temuan Batuan Purba di Tiongkok Bisa Ubah Sejarah Evolusi Manusia

Foto : Photo by ZHAOYU ZHU
Batu Purba - Ini adalah batu yang ditemukan di sekitar kawasan Dataran Tinggi Loess, sebelah utara pegunungan Qinling yang memisahkan Tiongkok Utara dan Tiongko Selatan. Batu purba ini diprediksi berusia 250.000 tahun lebih tua dari batu yang ditemukan di Kota Georgia.
A   A   A   Pengaturan Font

NEW YORK – Sejumlah perkakas dari batu yang ditemukan di Tiongkok bisa mengubah sejarah evolusi atau asal usul manusia.

Apalagi perkakas dari batu itu diyakini dibawa oleh manusia purba saat bermigrasi keluar dari Afrika. Bukti ini menunjukkan, manusia bermigrasi lebih awal dari yang kita ketahui selama ini.


Hingga kini, bukti tertua manusia purba ke luar dari Afrika adalah temuan artefak berusia 1,8 juta tahun yang ditemukan di Kota Georgia, Dmanisi.

Sementara itu, perkakas dari batu yang ditemukan di Tiongkok tersebut diprediksi berusia 250.000 tahun lebih tua dibanding bukti dari Kota Georgia.

“Ini akan menjadi cerita baru. Artinya manusia purba meninggalkan Afrika lebih awal dari yang kita kira selama ini,” kata arkeolog dari Institut Max Planck, Michael Petraglia, di Jena, Jerman, akhir pekan lalu.


Menurut para ahli, manusia purba yang pertama menetap di Tiongkok adalah spesies sebelum Homo sapiens muncul.

Peneliti percaya, alat-alat itu dibuat oleh kelompok evolusi Homo yang lain. Adapun alat-alat yang ditemukan berupa batu yang retak, pecahan-pecahan, dan batu palu. 96 artefak ditemukan di sekitar kawasan Dataran Tinggi Loess, sebelah utara pegunungan Qinling yang memisahkan Tiongkok Utara dan Tiongko Selatan.


Dalam penelitian yang terbit di jurnal Nature, Rabu pekan lalu, beberapa batuan berusia sekitar 2,1 juta tahun. “Kami sangat gembira dengan temuan ini.

Salah satu rekan saya menemukan batu yang tertanam dalam tanah yang curam. Setelah itu satu per satu artefak lain ditemukan,” ujar Zhaoyu Zhu, profesor di Institut Geokimia Guangzhou yang memimpin penelitian.


Alat-alat itu ditemukan di seluruh lapisan tanah, artinya keluarga manusia purba yang belum dikenali spesiesnya itu kerap kembali ke situs yang sama berulang kali, mungkin saat mereka berburu mengikuti hewan.


Selain bebatuan, peneliti juga menemukan tulang babi dan rusa. Meski ada bukti tulang, peneliti belum dapat memastikan apakah peralatan tersebut merupakan peralatan berburu atau bukan.


Beberapa ahli yang terlibat dalam penelitian berpikir temuannya perlu dimaknai dengan hati-hati dan teliti untuk mendapatkan hasil yang akurat.

“Saya skeptis. Menurut saya temuan ini hanya akan memberi sedikit perubahan terhadap teori sebelumnya,” kata Geoffrey Pope, antropolog dari Willian Paterson University di New Jersey.


Geoffrey mengingatkan bahwa terkadang alam dapat membentuk batu mirip seperti buatan tangan manusia. Namun, Sonia Harmand yang merupakan arkeolog dari Universitas Stony Brook di New York, punya pendapat berbeda.

“Ini bisa jadi sebuah situs arkeologi yang paling penting di dunia,” kata Harmand yang fokus mempelajari peralatan dari batu. AFP/SB/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment