Koran Jakarta | March 24 2019
No Comments

Teknologi Sinar UV untuk Lindungi Buah Organik

Teknologi Sinar UV untuk Lindungi Buah Organik

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Pertumbuhan industri produk-produk organik kemungkinan segera memiliki cara terbaru untuk menjamin keamanan produk buah segar yang diproduksi

Hampir setengah dari pe­nyakit bawaan makanan lebih dikaitkan dengan kontaminasi patogen pada produk segar. Pencegahan dan pengendalian kontaminasi bakteri pada produk segar menjadi sangat penting untuk memastikan keaman­an pangan. Cara yang paling umum di gunakan saat ini adalah dengan mencuci produk industri pertanian ini dalam air yang mengandung klorin. Meski demikian, hal tersebut dirasa masih kurang efektif sehingga diperlukan alternatif lain untuk le­bih menjamin keamanan pangan.

Para ilmuwan di Washington State University telah menunjukkan bahwa cahaya ultraviolet C (UVC) cukup efektif terhadap patogen bawaan makanan yang biasanya ada pada permukaan buah-buahan ter­tentu. Studi mereka ini telah dipubli­kasikan dalam International Journal of Food Microbiology.

Para ilmuwan berharap bahwa temuan ini nantinya dapat men­jadi sebuah berita yang bagus bagi prosesor buah organik yang selama ini mencari alter­natif perangkat untuk membersihkan bahan kimia dan juga harus sesuai dengan Keamanan Pangan AS Mo­dernisasi Act untuk membantu mencegah penya­kit yang biasanya dibawa oleh makanan.

Setelah mempelajari pertanian organik dan prosesor makanan ten­tang kurangnya pilihan desinfeksi, Shyam Sablani, spesialis keamanan pangan WSU, dan rekan-rekannya melihat ke alternatif tersebut dan kemudian memutuskan untuk mengeksplorasi sinar UVC. Sinar UVC ini memiliki panjang gelom­bang yang lebih pendek dari ultra­violet A atau sinar B.

“Radiasi UVC hadir dalam sinar matahari, namun benar-benar dise­rap oleh lapisan ozon dan atmos­fir bumi,” jelas Sablani. Menurut Sablani, sinar UVC, memiliki sifat antiseptik dan efektif terhadap ke­beradaan bakteri, jamur serta virus.

Sinar UVC pada dasarnya me­rupakan sinar yang tidak dapat me­nembus kekuasaan, benda padat, memiliki efektifitas dalam sanitasi permukaan. Teknologi yang telah ada selama beberapa tahun, telah digu­nakan untuk se­cara efektif membersihkan permukaan kontak makanan serta air minum dan udara yang terkon­taminasi.

Sinar UVC ini bekerja pada mi­kroorganisme dengan menghancur­kan asam nukleat dan merusak DNA mereka. Tapi dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa sinar ini, tidak mempengaruhi struktur kimiawi dan kualitas dari buah caha­ya tidak mempengaruhi kimia atau kualitas fisik buah.

Sablani dan rekan-rekannya menguji apel, pir, stroberi, rose­berry, dan melon dengan menggu­nakan dosis sinar UVC yang berbeda untuk menentukan seberapa efektif cahaya UVC dalam membunuh patogen yang terdiri dari campuran strain E. coli dan listeria. Mereka menemukan bahwa sinar UVC ini setidaknya dapat me­nonaktifkan hingga 99,9 persen dari patogen pada apel dan pir. Namun, listeria lebih tahan terhadap UVC dari E. coli.

“Jika Anda memiliki buah berkulit halus, maka teknologi ini benar-benar bekerja dengan hebat,” kata Sablani. “Jika buah-buahan yang dimaksud memiliki permu­kaan yang sangat kasar dan tingkat kontaminasi rendah, sinar UVC ini juga bekerja cukup baik,” tambah Sablani. Meski demikian dari hasil pengujian yang dilakukan Sinar UVC cenderung tidak aktif 90 per­sen terhadap patogen yang hadir pada buah dengan permukaan yang kasar.

“Untuk standar keamanan makanan, Anda tidak ingin ada patogen pada buah,” kata Sablani. Permukaan yang kasar seperti pada stroberi, raspberry dan melon secara harfiah menjadi tempat di mana patogen dapat menyembunyi­kan diri sehingga, mengurangi efek sinar UVC. Jika kadar kontaminasi bakteri yang tinggi, maka teknologi UVC saja mungkin tidak cukup un­tuk mencapai tingkat efektifitas yang diinginkan.

Sablani mengatakan penelitian yang sedang dilakukan saat ini adalah untuk meningkatkan efektivitas sinar UVC pada buah-buahan dengan permukaan yang kasar. “Minat terhadap teknologi ini adalah tinggi karena teknologi ini sangat sederhana dan mudah dalam penerapan atau aplikasinya,” kata Sablani.

Menambahkan lampu UVC ke jalur penngemasan buah tidak me­merlukan modifikasi yang berarti. Lampu UVC menutup di belakang penghalang pelindung sehingga dapat dengan mudah diatur dalam sebuah terowongan yang memperli­hatkan buah untuk terpapar cahaya saat melewati pada conveyor belt.  nik/berbagai sumber/E-6

Alternatif Kurangi Kontaminasi pada Produk Segar

Pencegahan dan pengendali­an pencemaran bakteri pada produk segar sangat penting untuk memastikan keamanan pa­ngan. Strategi yang digunakan saat ini adalah dengan mencuci produk segar dalam air yang mengandung klorin. Meski demikian ada ke­butuhan mendesak untuk meng­identifikasi antimikroba alternatif, terutama yang berasal dari alam, untuk kondisi ini.

Sebuah tim peneliti di Wayne State University telah menjelajahi antimikroba alami, aman dan al­ternatif untuk mengurangi konta­minasi bakteri. Tanaman minyak esensial seperti thyme, oregano, dan cengkih yang dikenal memiliki efek antimikroba yang kuat, namun saat ini penggunaannya masih terbatas karena kelarutannya yang rendah dalam air.

Tim yang dipimpin oleh Yifan Zhang, Ph.D., asisten profesor nutrisi dan ilmu makanan di WSU, men­jelajahi cara untuk merumuskan nanoemulsions minyak untuk me­ningkatkan kelarutan dan stabilitas minyak esensial untuk meningkatkan aktivitas antimikroba mereka.

“Sebagian besar penelitian ten­tang khasiat antimikroba dari mi­nyak atsiri telah dilakukan dengan menggunakan produk yang dibuat dengan mencampur minyak dalam air atau fosfat buffered saline,” kata Zhang.

“Namun, karena sifat hidrofo­bik dari minyak esensial, senyawa organik dari produk dapat meng­ganggu mengurangi efek sani­tasi atau durasi efektivitas minyak esensial. Tim kami berangkat untuk menemukan pendekatan baru un­tuk menghambat bakteri ini dengan penggunaan minyak oregano, salah satu minyak esensial paling efek­tif dengan efek antimikroba,” kata Zhang.

Dalam penelitiannya, Zhang dan rekannya menemukan bahwa mi­nyak oregano mampu menghambat bakteri bawaan makanan umum, seperti E. coli O157, Salmonella dan Listeria, di selada segar yang terkontaminasi. Timnya kini tengah menjelajahi kemungkinan sistem nanodelivery untuk minyak.

Tim awalnya menggunakan nanopartikel polimer padat untuk pengiriman minyak, tapi kemudian beralih menggunakan nanoemul­sions. “ Penggunaan nanoemulsions akan meningkatkan laju pelepasan dibandingkan dengan nanoformula­tions. Kami mampu mengurangi L. Monocytogenes, S. Typhimurium, dan E. Coli O157 pada selada segar,” tambah Zhang.

Zhang menambahkan, untuk se­mentara masih ada pekerjaan yang harus dilakukan oleh timnya. Meski demikian penelitian mereka ini me­nunjukkan janji untuk penggunaan nanoemulsions minyak esensial se­bagai alternatif alami untuk kontrol keamanan produksi.

“Penelitian masa depan kami bertujuan untuk menyelidiki efek antimikroba dari nanoemulsions minyak esensial dalam berbagai kombinasi, serta merumuskan proporsi terbaik dari masing-masing bahan yang diperlukan untuk apli­kasi makanan, yang pada akhirnya akan membantu dalam menjaga rasa produk,” tambah Zhang.  nik/berbagai sumber/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment