Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments
GRAF

Teknologi Canggih untuk Prediksi Bencana dan Cuaca Buruk

Teknologi Canggih untuk Prediksi Bencana dan Cuaca Buruk

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Prakiraan cuaca global bakal terbantu dengan kehadiran teknologi canggih yang mampu menginformasikan cuaca secara tepat dan akurat di manapun.

Saat ini, orang-orang di AS, Jepang dan beberapa bagian Eropa lainnya memiliki akses ke prakiraan cuaca per jam berdasarkan muatan data dan model komputer resolusi tinggi. Itu artinya jika badai akan menghantam, ada cukup radar dan daya komputasi yang terlatih untuk memperingatkan warganya. Tak hanya itu mereka juga dapat mengetahui kapan dan di mana kejadian itu, walau hanya dengan memeriksa ponsel mereka.

The Weather Company anak perusahaan IBM yang mengoperasikan The Weather Channelas dan Weather Underground, memaparkan, sebenarnya ini merupakan layanan yang tersedia secara luas nantinya, sekaligus untuk menjawab tantangan, karena tak dipungkiri di dunia sejauh ini hanya berlindung pada semacam gelembung pelindung peramalan cuaca, peringatan badai yang datang dan bahaya lainnya.

The Weather Company mengklaim akan mengubahnya, pada Selasa (8/1) mereka mengumumkan proyek yang disebut dengan Sistem Peramalan Atmosfer Global Beresolusi Tinggi (Global High Resolution Atmospheric Forecasting System- GRAF). “GRAF akan menjadi sistem cuaca komersial yang dapat memperbarui kondisi cuaca per jam pertama, dan mampu memprediksi sekecil apapun badai secara global,” ungkap Ginny Rometty, CEO IBM di ajang consumer Electronics Association (CES) 2019, yang berlangsung pada 8-11 Januari 2019, di Las Vegas Convention Center, AS.

Cara kerja layanan GRAF ini untuk membaca prediksi cuaca semua tempat di dunia, kemudian selalu update per satu jam, ialah dengan mengumpulkan sekitar 10 terabyte data setiap hari per tiga kilometer. “Jika Anda seorang petani di Kenya atau Kansas, Anda akan mendapatkan prediksi cuaca yang jauh lebih baik,” kata Ginny.

Ginny menambahkan pengguna potensial data ini juga mencakup maskapai penerbangan untuk memprediksi dengan lebih baik kapan pesawat akan menghadapi turbulensi atau pola lain yang dapat memengaruhi penerbangan, perusahaan asuransi yang mengelola operasi pemulihan dan klaim seputar bencana alam dan perusahaan utilitas untuk memantau kesalahan atau mempersiapkan diri untuk menghadapi cuaca buruk pada sistem mereka.

Elizabeth Austin, ahli meteorologi dan CEO dari perusahaan riset meteorologi Weather Extreme, menuturkan model peramalan global resolusi tinggi akan menjadi hal yang sangat baik.

“Bagaimanapun, sejauh mana ramalan cuaca akan meningkat di wilayah tertentu. Kemajuan utama GRAF bukanlah mendeteksi data baru, tetapi memproses lebih banyak data dengan cara yang lebih terperinci dan lebih cepat daripada yang sebelumnya dimungkinkan dalam skala global. Tetapi seberapa baik kerjanya pada akhirnya akan tergantung pada kualitas data yang dimasukkan ke dalamnya,” jelas Austin.

Bagi sebagian besar orang di AS, di mana perkiraan cuaca setiap jam berkualitas tinggi sudah tersedia secara luas, GRAF mungkin tidak akan banyak berubah. Tetapi jika Anda meninggalkan negeri adi daya itu berarti Anda mungkin bisa melangkah lebih jauh tanpa prakiraan cuaca canggih. Tapi perusahaan itu mengungkapkan GRAF secara global akan tersedia bagi siapa saja dengan aplikasi Weather Company pada 2019.

Betsy Weatherhead, ilmuwan senior di University of Colorado sangat mengapresiasi langkah IBM. “Mereka memilki kemampuan yang tidak dimiliki pihak lain,” katanya.

Weatherhead, yang telah aktif di perusahaan meteorologi selama beberapa dekade, menceritakan seperti di Amerika Selatan dan Afrika misalnya, prakiraannya cuaca selalu buruk di daerah-daerah itu, sebagian besar karena pengamatan.

“Tapi mereka mengatasinya dengan melakukan pengumpulan data secara massif, perusahaan cuaca menyimpan data dari jutaan stasiun cuaca di seluruh dunia, data itu dimasukkan ke model cuaca dan berfungsi sebagai kondisi dasar untuk prediksi. Secara teoritis, semakin banyak pengamatan yang dimiliki model, semakin baik perkiraan yang dapat dihasilkannya,” terang Weatherhead. ima/R-1

Mendeteksi Badai Pasir

Di luar CES 2019, teknologi canggih untuk memprediksi bencana juga kencang gaungnya dalam Festival Janadriyah Ke-33 yang berlangsung pada 1-25 Januari 2019 di Riyadh, Arab Saudi.

Menariknya solusi itu dikembangkan Institut Teknologi Bandung (ITB), untuk masyarakat dan Pemerintah Arab Saudi khususnya, karena aplikasi canggih tersebut dapat memprediksi potensi badai pasir. Ketua Tim Peneliti ITB, Armi Susandi yang hadir dalam acara tersebut mengatakan, aplikasi canggih berupa sistem informasi online yang diberi nama Hidrometeorological Hazard Early Warning System (H-HEWS) ini memberikan informasi prediksi secara tepat potensi kejadian badai pasir, gelombang panas, hujan lebat, dan angin kencang di wilayah Arab Saudi.

“Kejadian bencana meteorologi tersebut sering mengganggu dan menimbulkan kerugian besar dan mengganggu aktivitas pembangunan di wilayah Arab Saudi,” ujarnya.

Armi menjabarkan fitur utama HHEWS adalah fitur prediksi cuaca (temperatur, curah hujan, arah dan kecepatan angin, kelembaban, dan tekanan udara) serta fitur warning bencana untuk potensi bencana badai pasir, angin kencang, gelombang panas, dan hujan lebat. “Sistem online serta warning tersebut berjalan secara otomatis dan dijalankan 24 jam oleh server komputer dari Indonesia,” papar Armi.

Kemudian sistem informasi tersebut dirancang untuk mampu secara tepat memprediksi lokasi dan waktu kejadian badai pasir yang akan terjadi hingga tiga hari ke depan, termasuk tiga potensi bencana lain.

Di masa mendatang, informasi prediksi kebencanaan tersebut akan bisa mengurangi potensi bencana dan kerugian di wilayah Arab Saudi. “Bahkan untuk umat yang melakukan ibadah umrah juga bisa memanfaatkannya. Sistem informasi online ini dirancang sangat user friendly dan mudah dipahami orang awam sekalipun,” imbuhnya.

Dalam pengembanganya aplikasi ini dapat memprediksi hingga 10 hari ke depan dengan resolusi tinggi 1 km sehingga upaya mitigasi bisa lebih awal dan lebih tepat.

 

Aplikasi informasi cuaca yang sudah memiliki dua bahasa, yakni bahasa Inggris dan Arab ini juga akan dibuatkan versi Android dan iOSnya. Pengembangan teknologi H-HEWS bukanlah sistem yang pertama dibuat Armi bersama dosen dan peneliti senior dari Program Studi Meteorologi ITB.

“Kami telah lama mengembangkan sistem informasi prediksi kebencanaan hidrometeorologi resolusi dan ketepatan tinggi untuk dipakai operasional BNPB di seluruh wilayah Indonesia dalam memprediksi potensi banjir, longsor, dan cuaca ekstrem lainnya dan selanjutnya melakukan upaya mitigasinya,” jelas Armi.

Di samping Multi Hazard Early Warning System (MHEWS) khususnya untuk bencana Hidrometeorologi yang dikembangkan Tim ITB untuk BNPB, dirinya bersama Tim ITB juga telah mengembangkan sistem informasi Flood Early Warning and Early Action (FEWEAS) untuk mitigasi banjir di wilayah Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo dan Citarum, berbasis web, Android, dan iOS.

“FEWEAS didukung penuh Federasi Palang Merah dan Bulat Sabit Internasional dan Palang Merah Indonesia. Sistem Informasi Cerdas Agribisnis untuk menentukan pola tanam secara tepat juga menjadi bagian dari produk unggulan ITB,” tambah Armi. ima/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment