Koran Jakarta | December 15 2017
No Comments
suara daerah

Tasikmalaya Siap Jadi Kota Industri Termaju di Jabar

Tasikmalaya Siap Jadi Kota Industri Termaju di Jabar

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Sejarah berdirinya Kota Ta­sikmalaya sebagai daerah otonomi tidak terlepas dari sejarah berdirinya Kabupa­ten Tasikmalaya sebagai daerah kabupaten induknya. Pada waktu A Bunyamin menjabat sebagai Bupati Tasikmalaya pada tahun 1976–1981 menjadi tonggak sejarah lahirnya Kota Tasikmalaya.

Hal itu dimulai dengan dir­esmikannya Kota Administratif Tasikmalaya melalui Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1976 oleh Menteri Dalam Ne­geri Amir Machmud. Peristiwa ini ditandai dengan penandata­nganan prasasti yang sekarang terletak di depan gedung DPRD Kabupaten Tasikmalaya. Pada waktu yang sama dilantik Wali Kota Administratif pertama, Oman Roosman, oleh Guber­nur Jawa Barat (Jabar), Aang Kunaefi.

Berkat perjuangan unsur pe­merintahan Kabupaten Tasik­malaya yang dipimpin Bupati saat itu, Suljana WH beserta tokoh masyarakat Kabupaten Tasikmalaya dirintislah pem­bentukan Kota Tasikmalaya. Itu ditandai dengan lahirnya tim sukses pembentukan pemerin­tahan Kota Tasikmalaya yang diketuai Yeng Ds Partawinata.

Melalui proses panjang, akhirnya di bawah pimpinan Bupati Tatang Farhanul Hakim, pada 17 Oktober 2001 melalui UU Nomor 10 Tahun 2001, Kota Tasikmalaya diresmikan Men­teri Dalam Negeri atas nama Presiden di Jakarta bersama-sa­ma dengan Kota Lhoksumawe, Langsa, Padangsidempuan, Prabumulih, Lubuk Linggau, Pager Alam, Tanjung Pinang, Cimahi, Batu, Sikawang, dan Bau-bau.

UU Nomor 10 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Ta­sikmalaya, telah mengantarkan pemerintah Kota Administratif Tasikmalaya melewati pintu gerbang daerah otonomi Kota Tasikmalaya. Kota yang baru ini mempunyai kewenangan untuk mengatur rumah tangga sendiri.

Pembentukan pemerintah Kota Tasikmalaya tak lepas dari peran semua pihak maupun berbagai steakholder di daerah Kota Tasikmalaya yang men­dukung. Pembentukan Kota Tasikmalaya ditindaklanjuti dengan menyediakan berbagai prasarana maupun sarana guna menunjang penyelenggaraan Pemerintah Kota Tasikmalaya.

Kini, Kota Tasikmalaya su­dah berkembang dengan pesat. Tasikmalaya memiliki potensi yang cukup besar menjadi kota industri dan pedagangan. Kota ini siap menggelar Taksikma­laya October Festival 2017 pada 14–17 Oktober untuk mewujud­kan Tasikmalaya sebagai kota industri dan perdagangan termaju di Jabar pada tahun 2025.

Untuk mengetahui lebih jauh terkait hal tersebut, wartawan Koran Jakarta, Muhammad Zaki Alatas, ber­kesempatan mewawan­carai Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman, pada acara pe­luncuran Taksikmalaya October Festival 2017, di Kementerian Pariwisata, Jakarta, beberapa waktu lalu. Berikut petikan selengkapnya.

Bisa dijelaskan tentang Taksikmalaya October Festi­val 2017?

Penyelenggaraan Taksik­malaya October Festival 2017 sebagai sarana untuk mem­promosikan pariwisata dan khasanah budaya serta produk kreatif unggulan. Semua itu dalam rangka mewujudkan visi Tasikmalaya sebagai kota industri dan perdanganan termaju di Jabar Tahun 2025.

Ada target yang ingin di­sasar?

Even Taksikmalaya October Festival 2017 dijadikan sebagai sarana untuk mem-brand­ing atau penci­traan kota (city brand­ing) Tasikma­laya sebagai kota industri dan perdagangan. Sejak dulu, kota ini terkenal dengan produk kreatifnya, seperti kain bordir, batik, payung tradisional, serta sandal kelom.

Ada kegiatan apa saja nanti?

Event Taksikmalaya October Festival 2017 terdiri sejumlah kegiatan atau event unggulan. Kegiatan tersebut, antara lain pameran produk kreatif (Tasik Kreative Festival), pameran produk kuliner (Tasik Halal Culinary Festival), talk show kerja sama pengembangan investasi (Tasik Investment Expo And Conference), parade budaya/karnaval budaya (Tasik Culture Festival), Tasikmalaya Great Sale, dan pekan diskon di semua toko yang berparti­sipasi.

Apakah para UKM ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut?

Penyelenggaraan Taksik­malaya October Festival 2017 melibatkan para UKM pro­duk kreatif unggulan (bordir, batik, kelom, payung, men­dong bambu, alas kaki, dan makanan olahan), wirausaha Bank Indonesia (Wubi), seniman dan pelaku budaya, komuni­tas kreatif Kota Tasikmalaya, serta Kadin Kota Tasikmalaya.

Dari negara sahabat ada yang ikut?

Pemerintah Kota Baler dari Filipina, Jerry Tan, Jaco Singa­pore Pte. Ltd dari Singapura, MATTA dari Malaysia, Palestine Indonesia Friendship Associa­tion (FIPA) dari Palestina, Gerd Wagner, Wagner GmbH, dan Senior Expert Service (SES) dari Jerman serta PA ASIA, Rio D Praaning dari Belgia.

Kalau dari daerah lain?

Ada yang ikut. Beberapa kabupaten dan kota di Tanah Air ikut serta. Mereka, antara lain Kota Banjar, Kota Ban­dung, Kota Bogor dari Jawa Barat; Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Kebumen, Kabu­paten Sukoharjo dari Jawa Te­ngah; Kota Dumai - Riau; Kota Palu - Sulawesi Tengah; dan Kabupaten Aceh Besar (Aceh) serta Kabupaten Bengkulu, Kabupaten Rejang Lebong dari Provinsi Bengkulu).

Apakah ini event pertama?

Taksikmalaya October Fes­tival 2017 pada 14–17 Oktober ini sebagai kelanjutan dari pe­nyelenggaraan kegiatan serupa yang sukses digelar tahun lalu.

Hasil evaluasi tahun lalu?

Dari hasil evaluasi kegiat­an event tahun 2016 tersebut, Pemkot Tasikmalaya menya­dari perlu adanya strategi city branding atau pencitraan kota. Selain menghasilkan produk yang unggul, perlu ditopang oleh tatanan daerah yang ung­gul pula serta upaya maksimal dalam promosi daerah. n N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment