Tarif Listrik dan Angkutan Picu Inflasi | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 20 2020
No Comments
Fluktuasi Harga - Komoditas yang Mengalami Deflasi yakni Cabai Rawit dan Bawang Putih

Tarif Listrik dan Angkutan Picu Inflasi

Tarif Listrik dan Angkutan Picu Inflasi

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Inflasi pada Juni sebesar 0,69 persen lebih banyak dipicu oleh kenaikan harga dan tarif yang diatur oleh pemerintah ketimbang kenaikan harga bahan makanan.

JAKARTA- Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin (3/7) melaporkan telah terjadi inflasi atau kenaikan harga selama bulan Juni 2017 hingga 0,69 persen yang dipicu oleh kenaikan tarif listrik, tarif angkutan udara dan angkutan antarkota. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan kenaikan tarif tiga komponen itu menyebabkan inflasi dari harga diatur pemerintah (administered prices) pada Juni 2017 mencapai 2,1 persen.

Sedangkan, inflasi dari bahan makanan (volatile food) relatif terkendali yaitu 0,65 persen, karena pemerintah mampu menjaga stabilitas harga pangan selama puasa dan Lebaran. “Bahan makanan relatif terkendali dan kenaikan harga bahan makanan pada periode ini seperti tahun lalu tidak terjadi,” kata Suhariyanto.

Dia menjelaskan seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi diantaranya kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 1,27 persen diikuti kelompok sandang sebesar 0,78 persen. Selain itu, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar ikut menyumbang inflasi 0,75 persen, kelompok bahan makanan 0,69 persen dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,39 persen.

Bahan makanan tambahnya masih menyumbang inflasi dari kenaikan harga sayur-sayuran yang andilnya kecil-kecil. Namun kenaikan tinggi harga beras dan daging tidak terjadi pada Lebaran kali ini. Kelompok lainnya tambahnya adalah kelompok kesehatan sebesar 0,34 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,07 persen.

Kelompok pendidikan tidak mempunyai andil dalam inflasi Juni, karena belum mulai masuk tahun ajaran baru. “Dampaknya baru terlihat pada inflasi bulan depan,” ujar Suhariyanto. Secara umum, komoditas yang mengalami kenaikan harga dan menyumbang inflasi pada Juni 2017 adalah tarif listrik, tarif angkutan udara, tarif angkutan antarkota, ikan segar, bawang merah, daging ayam ras, pepaya dan emas perhiasan.

Komoditas lainnya adalah beras, ayam hidup, daging ayam kampung, daging sapi, ikan diawetkan, bayam, kacang panjang, kangkung, kentang, ketimun, tomat sayur, wortel, kelapa, kue kering berminyak, mie, nasi dengan lauk dan kopi manis. Sedangkan, komoditas yang mengalami penurunan harga dan menekan inflasi adalah cabai merah, bawang putih, cabai rawit, cat tembok dan mesin cuci.

Dengan tingkat inflasi pada Juni 2017 sebesar 0,69 persen, maka laju inflasi tahun kalender Januari-Juni 2017 telah mencapai 2,38 persen dan inflasi dari tahun ke tahun (yoy) tercatat sebesar 4,37 persen. Dari 82 kota IHK, sebanyak 79 kota menyumbang inflasi dan hanya tiga kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 4,48 persen dan terendah terjadi di Merauke sebesar 0,12 persen.

Sementara itu, deflasi tertinggi terjadi di Singaraja sebesar 0,64 persen dan deflasi terendah terjadi di Denpasar sebesar 0,01 persen.

 

Sudah Diperkirakan

 

Gubernur Bank Indonesia (BI) dalam kesempatan terpisah mengatakan inflasi Juni sudah diperkirakan sebelumnya dan kenaikan 0,69 persen dinilai masih wajar. Menurut Agus, inflasi yoy 4,74 persen cukup tinggi dan harus diwaspadai meskipun masih dalam range 4±1 persen.

BI memproyeksikan inflasi yoy 4,3 persen. Dia optimis target yang ditetapkan tidak akan terlampui karena penyumbang inflasi lebih banyak oleh faktor harga yang ditetapkan pemerintah, bukan karena harga kelompok bahan makanan. 

 

ahm/E-9

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment