Koran Jakarta | December 17 2018
No Comments
Antisipasi Krisis - Kendalikan Impor Agar Defisit Tidak Membengkak

Target Pertumbuhan Sulit Tercapai

Target Pertumbuhan Sulit Tercapai

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font
Pertumbuhan ekonomi 2018 diprediksi pada kisaran 5,14–5,21 persen seiring dengan masih besarnya ketidakpastian global.

 

JAKARTA - Sejumlah kalangan memprediksi target pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam APBN 2018 sebesar 5,4 persen sulit tercapai.

Sebab, pemerintah masih kesulitan mengendalikan impor untuk menekan defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan yang menjadi biang pelemahan nilai tukar rupiah.

Di tengah ketidakpastian global seperti saat ini, pemerintah menegaskan akan lebih memprioritaskan stabilitas ekonomi dibandingkan mendorong pertumbuhan,

di antara berbagai kebijakan pengendalian impor, salah satu strategi yang masih ditunggu adalah penundaan sejumlah proyek infrastruktur yang memiliki kandungan impor tinggi dan bukan proyek prioritas.

Ekonom Indef, Abra Tallatov, setuju jika pemerintah akan memangkas impor untuk proyek infrastruktur yang tidak prioritas.

Menurut dia, jika pemerintah tetap memaksakan seluruh infrastruktur selama satu atau dua tahun ini, maka risiko terhadap APBN dan BUMN akan meningkat.

“Artinya, kebutuhan terhadap dollar untuk impor keperluan proyek infrastruktur semakin besar. Secara otomatis akan memperlemah rupiah,” kata Abra, di Jakarta, Kamis (13/9).

Selain itu, lanjut dia, apabila impor tetap dilanjutkan maka potensi terjadi pembengkakan anggaran semakin besar sehingga defisit anggaran pun membengkak.

Ekonom Universitas Atmajaya Yogyakarta, Aloysius Gunadi Brata, menambahkan pemerintah harus berani mengorbankan pertumbuhan ekonomi dari kontribusi pembangunan infrastruktur yang ditangani BUMN.

Proyek yang padat impor seperti pembangunan jalan raya, bandara, dan listrik, bisa dipilah lagi mana yang paling tidak mendesak.

Menurut dia, meskipun pemerintah sudah berulang kali mengatakan akan menunda beberapa proyek, tapi sampai sekarang belum terealisasi. Ini memunculkan pertanyaan publik soal komitmen pemerintah untuk menangani pelemahan rupiah.

“Kalau ada kepentingan politik dengan selesainya infrastruktur, saya kira tidak usah terlalu khawatir karena publik juga tahu kondisi saat ini. Yang paling penting justru menyelamatkan fundamental ekonomi yang masih tergantung banyak dengan impor ini,” kata Gunadi.

Sementara itu, Tim Riset Bank Mandiri dalam menilai penundaan proyek akan menekan pertumbuhan industri dalam negeri, misalnya penundaan pembangunan jalan, jembatan, dan pelabuhan.

Mayoritas yang terdampak adalah sektor pelayanan dan jasa, mengingat pembangunan infrastruktur adalah penunjang sektor yang berkaitan dengan pelayanan.

Menurut riset Bank Mandiri itu, penundaan satu proyek pembangunan jalan dengan nilai triliun rupiah, akan memangkas output ekonomi sekitar 1,88 triliun rupiah.

Sedangkan proyek pembangkit listrik senilai satu triliun rupiah memangkas sekitar 1,99 triliun rupiah. Dengan data produk domestik bruto (PDB) semester I-2018, atas masing-masing penundaan proyek akan ada penurunan pertumbuhan sebesar 0,04 persen.

Oleh sebab itu, target pertumbuhan ekonomi yang telah direvisi menjadi 5,3 persen, dari semula 5,4 persen, akan menjadi tantangan tersendiri.

Realisasi Pertumbuhan

Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2018 pada kisaran 5,14–5,21 persen seiring dengan masih besarnya ketidakpastian global yang sangat berpengaruh pada perekonomian negara-negara berkembang.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I-2018 baru mencapai 5,17 persen. Pada triwulan pertama tumbuh 5,06 persen dan triwulan kedua 5,27 persen.

Sementara itu, pada triwulan ketiga ekonomi diperkirakan tumbuh di kisaran 5,13–5,25 persen dan pada triwulan keempat di kisaran 5,1–5,23 persen.

“Total seluruh tahun 2018, proyeksi kami dalam range 5,14–5,21 persen,” ujar Sri Mulyani saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI membahas asumsi makro RAPBN 2019, di Jakarta, Kamis.

Menurut Menkeu, ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh di level 5,2 persen dengan dinamika ekonomi global yang terjadi. Konsumsi diprediksi masih akan tumbuh di atas lima persen di paruh kedua tahun ini. ahm/YK/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment