Koran Jakarta | December 16 2018
No Comments
Penyusunan RPJMN - Ekonomi Diproyeksikan Tumbuh 5,4–6 Persen

Target Pertumbuhan Lebih Realistis

Target Pertumbuhan Lebih Realistis

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Dengan mempertimbangan perkembangan global yang tak menentu, pemerintah lebih berhati-hati menentukan capaian target pertumbuhan selama periode 2020–2024.

JAKARTA– Pemerintah melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bap­penas) menyusun Rencana Pembangunan Jangka Mene­ngah Nasional (RPJMN) untuk lima tahun periode 2020–2024.

Dalam perencanaan tersebut target pertumbuhan ekonomi lebih realistis di kisaran 5,4–6 persen. Hal itu didasarkan pada pertimbangan faktor eksternal, terutama ekonomi global yang penuh ketidakpastian.

Menteri PPN/ Kepala Bap­penas, Bambang Brodjonegoro, dalam diskusi di Jakarta, Rabu (5/12), mengatakan target per­tumbuhan yang realistis itu diha­rapkan bisa dicapai tidak seperti periode 2015–2019 yang disusun sangat ambisius di level 5,8–8 persen, namun sulit dicapai.

“Kita mencoba membuat yang lebih rasional dengan memperhitungkan kondisi ter­kini, karena kondisi global juga bisa berubah,” kata Bambang.

Target pertumbuhan juga sudah mempertimbangkan re­formasi struktural perekono­mian yang masih berjalan se­perti industrialisasi.

“Kita menghitung potensial pertumbuhan yang bisa ter­jadi pada periode itu. Jadi 5,4–6 persen. Itu skenario pesimistis 5,4 persen, kemudian optimis­tis 6,0 persen,” katanya.

Dengan target tersebut, pertumbuhan industri peng­olahan atau manufaktur perlu mencapai 5,4-7,05 persen. Industri pengolahan menyum­bang komposisi hingga 20 per­sen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia saat ini.

Kendati kontribusinya cu­kup besar, namun belum op­timal karena semestinya bisa hingga 27 persen terhadap PDB seperti dua dekade lalu atau era awal 1990-an.

“Maka itu, bagaimana kita merevitalisasi sektor manu­faktur, bagaimana manufaktur itu punya pertumbuhan yang lebih tinggi sehingga dia bisa mendorong pertumbuhan eko­nomi lebih tinggi lagi.

Karena manufaktur terbesar kontri­businya pada PDB. Jadi, kalau manufaktur tumbuh lebih ce­pat ekonomi juga akan tumbuh lebih cepat,” kata Bambang.

Target tersebut, tambah Bambang, masih dalam pem­bahasan Bappenas dan instansi pemerintah terkait lainnya, se­hingga target bisa saja berubah sebelum disahkan.

Menteri Perindustrian, Air­langga Hartarto, mengatakan untuk mengoptimalkan kem­bali kontribusi industri manu­faktur terhadap perekonomian memang tidak mudah.

Sebab, dalam beberapa tahun ke de­pan, kondisi ekonomi global diwarnai perang dagang dan volatilitas nilai mata uang yang bisa semakin menekan pertum­buhan industri manufaktur.

“Kenaikan tingkat suku bu­nga dan kurs yang tidak stabil memukul industri dua kali. Jadi, faktor ini yg harus kita jaga agar likuiditas tetap terjaga,” katanya.

Deindustrialisasi Prematur

Dalam kesempatan berbeda, Ketua Bidang Kebijakan Publik Apindo, Danang Girindrawar­dana, menambahkan pereko­nomian Indonesia telah berges­er seperti Singapura, di mana nilai tambah sektor pertanian dan manufaktur menurun se­iring dengan peningkatan sek­tor jasa.

Namun, peningkatan sektor jasa itu belum mampu menyerap tenaga kerja yang melimpah di pasar kerja.

“Penurunan nilai tambah sektor manufaktur ini meng­indikasikan adanya deindus­trialisasi secara prematur. Dengan begitu, transformasi ekonomi ini diperlukan untuk dapat terus digalakkan oleh pemerintah agar tetap menyerap tenaga kerja,” tambah Danang. bud/Ant/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment