Tanpa Inovasi Bangsa Sulit Maju | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments
Pendidikan Tinggi | Perkuliahan Daring Akan Terus Dikembangkan

Tanpa Inovasi Bangsa Sulit Maju

Tanpa Inovasi Bangsa Sulit Maju

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Perguruan tinggi Indonesia diminta bekerja sama dengan akademisi dari luar negeri agar melahirkan suatu inovasi.

 

JAKARTA – Program World Class Professor (WCP) atau profesor kelas dunia tidak han­ya untuk menghasilkan pub­likasi, tapi juga inovasi. Sebab, suatu bangsa tidak akan maju tanpa adanya inovasi.

“Untuk menghasilkan inova­si, kita perlu kolaborasi. Salah satunya melalui WCP ini,” kata Direktur Jenderal Sumber Da­ya Iptek dan Dikti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Ali Ghufron Mukti, dalam acara pembu­kaan pertemuan profesor kelas dunia, di Jakarta, Senin (2/12).

Melalui ajang WCP, kata dia, para akademisi bisa bekerja sa­ma dengan akademisi dari luar negeri. Dengan kerja sama itu, diharapkan akan lahir inova­si yang kemudian hasilnya di­publikasikan. “Jadi jangan dit­anya, hasil publikasinya mana. Itu untuk bisa dipublikasikan, harus ada inovasinya,” kata dia.

WCP merupakan program mengundang profesor kelas dunia dari berbagai kampus dalam dan luar negeri, seba­gai profesor tamu untuk ditem­patkan di berbagai kampus dan lembaga negara. Para profesor itu datang ke sejumlah kampus untuk mentransfer ilmu yang dimilikinya.

Program tersebut bertu­juan agar akademisi bisa ber­interaksi dengan para profe­sor ternama, sehingga bisa meningkatkan kehidupan ak­ademis, kompetensi, kualitas dan kontribusi bagi pengem­bangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dan penguat­an sistem inovasi nasional.

Tujuan lainnya, untuk me­ningkatkan kinerja, terutama produktivitas riset para akade­misi serta meningkatkan pering­kat perguruan tinggi Tanah Air.

Perkuliahan Daring

Dalam kesempatan terse­but, Gufron juga mengatakan bahwa program perkuliahan secara daring atau dalam jarin­gan akan terus dikembangkan. Oleh karena itu, dosen harus melek atau memiliki kemam­puan terhadap perkembangan internet of things (IoT) maupun Revolusi Industri 4.0.

“Perguruan tinggi harus mengembangkan program stu­di yang dilaksanakan secara daring, sehingga mahasiswa bisa mendapatkan perkuliah­an tanpa harus datang ke kam­pus,” kata dia.

Ghufron menjelaskan pros­es pembelajaran harus diubah, dan arahnya pada pemanfaa­tan teknologi.

Ghufron juga meminta agar pengelola perguruan tinggi bi­sa mengantisipasi pendidik­an pada Era 4.0 tersebut. Pasal­nya, sejumlah perguruan tinggi di Amerika Serikat mengalami kebangkrutan karena terlambat dalam mengantisipasi perkem­bangan teknologi yang ada.

“Saat ini belum banyak yang mengantisipasi. Kalaupun ada masih pada program studi dar­ing dibandingkan perguruan tinggi daring. Sebetulnya ini beda antara pemberian kuliah secara daring dan prodi daring. Kalau prodi daring itu punya izin tersendiri,” kata Ghufron.

Dia menambahkan, sejum­lah perguruan tinggi sudah melakukan antisipasi, namun masih banyak juga yang be­lum. Penyebab utamanya, mu­lai dari infrastruktur, investa­si, izin, hingga kesiapan dosen dan mahasiswanya. Ke depan, Ghufron berharap semakin banyak perguruan tinggi di Ta­nah Air dapat beradaptasi de­ngan perkembangan zaman.

Sementara itu, Rektor Uni­versitas Terbuka (UT), Ojat Darojat, menyediakan kuota 100 beasiswa bagi mahasiswa yang lolos dalam Seleksi Na­sional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun 2020. “Ini merupakan tahun pertama UT ikut serta dalam SNMPTN. Biasanya penerimaan maha­siswa hanya melalui seleksi mandiri,” ujarnya.

Kuota 100 beasiswa tersebut terdiri dari 50 beasiswa untuk program studi Manajemen In­formasi yang diselenggrakan di Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) Serang dan Pangkalpi­nang, dan 50 beasiswa sisanya untuk mahasiswa program stu­di Teknologi Informasi di UPBJJ Medan dan Makassar.

Ojat menambahkan, pener­ima beasiswa, harus bisa mem­pertahankan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2,7, jika di bawah 2,75 maka bea­siswanya akan diputus.

Direktur Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pembela­jaran dan Kemahasiswaan Ke­mendikbud, Didin Wahidin, mengatakan keikutsertaan UT pada SNMPTN bertujuan un­tuk meningkatkan minat gen­erasi muda untuk kuliah di UT. ruf/Ant/E-3  

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment