Koran Jakarta | April 21 2019
No Comments
PERSPEKTIF

Tak Ada Lagi Penerbangan Murah

Tak Ada Lagi Penerbangan Murah

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Penerbangan asing memang banyak yang menerapkan penjualan bagasi. Kalau tidak membeli bagasi lebih dulu, tidak dapat menaruh bawaan di bagasi pesawat atau dikenakan biaya amat mahal. Penjualan bagasi rupanya ditiru sejumlah penerbangan nasional. Sudah sedemikian miskinkah penghasilan perusahaan penerbangan nasional, sehingga harus menjual bagasi?

Bukankah semestinya, bagasi bagian dari kelengkapan pelayanan jasa penerbangan? Namun, dengan penjualan bagasi berarti dia telah menjadi bagian komersial karena tidak gratis lagi. Mestinya, bagasi bagian dari keunggulan penerbangan dalam menarik konsumen. Kini dengan penerapan harga pada setiap bawaan yang masuk bagasi, tentu akan mempengaruhi minat konsumen menggunakan pesawat, kecuali terpaksa.

Anggota Komisi Pengawasan Persaingan Usaha, Guntur, minta penjualan bagasi jangan digunakan sebagai akal-akalan menaikkan tarif karena perusahaan penerbangan tidak berani menaikkan harga. Jangan sampai ini sebagai kenaikan tarif terselubung. Memang ada ketentuan dalam Pasal 3, Peraturan Menteri No 185 Tahun 2015.

Dalam peraturan ini disebutkan terdapat tiga kelompok pelayanan Badan Usaha Angkutan Udara Niaga Berjadwal. Ketiganya adalah pelayanan dengan standar maksimum (full services), pelayanan dengan standar menengah (medium services) dan pelayanan dengan standar minimum (no frills). Standar pelayanan ketiganya bersama seperti soal bagasi penumpang.

Untuk kelompok maskapai penerbangan dengan ketentuan full service paling banyak 20 kilogram tanpa dikenakan biaya. Bagi kelompok medium service paling banyak 15 kilogram tanpa dikenakan biaya. Sedangkan dalam kelompok no frills dapat dikenakan biaya.

Perusahaan penerbangan Indonesia yang masuk kategori full Service hanyalah PT Garuda Indonesia dan PT Batik Air. Kemudian, yang masuk kelompok medium service adalah PT Trigana Air service, PT Travel express, PT Sriwijaya Air, PT NAM Air dan PT Transnusa Air Service. Sedangkan yang masuk no frill service adalah PT Lion Air, PT Wings Air, PT Indonesia Air Asia, PT Indonesia Air Asia Extra, PT Citilink Indonesia, dan PT Asi Pudjiastuti Aviation.

Nah, mungkin karena Lion dan Wings Air yang akan disusul Citilink masuk kelompok ketiga, menurut Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana B Pramesti, boleh menjual bagasi tersebut. Sebelum ini, penumpang Lion Air mendapat bagasi gratis sebesar 20 kilogram dan Wings menggratiskan bagasi penumpang seberat 10 kilogram.

Kini, penumpang harus membayar bagasi 5 kilogram dengan tarif 155.000 rupiah. Kemudian, 15 (310.000), 20 (465.000)…, dan 30 (930.000). Dengan ini, mestinya, kedua penerbangan tersebut tidak lagi masuk penerbangan murah (low cost carrier/ LCC). Mestinya, kalau kedua penerbangan tersebut masih berniat hadir sebagai bagian dari pelayan masyarakat, tidak seharusnya memberlakukan total bagasi harus membayar.

Misalnya, Lion dapat memberi gratis bagasi sampai 10 kilogram dan Wings sampai 5 kilogram. Sayang, Menteri Perhubungan Budi Karya tidak membela penumpang atau masyarakat karena membiarkan kedua penerbangan tersebut memberlakukan kebijakan barunya. Mestinya, Menteri Perhubungan mengadakan negosiasi agar masyarakat tidak terlalu dibebani.

Apalagi pelayanan penerbangan juga masih sangat minimal. Lion juga masih sering terlambat (lama) dan trauma masyarakat belum hilang atas jatuhnya Lion JT 610 Jakarta– Pangkalpinang di Karawang, Jawa Barat. Biarlah masyarakat menilai sendiri kelayakan tidaknya sebuah maskapai mengenakan tarif bagasi. Mereka masih bisa memilih penerbangan lain, andai menilai, sebuah pelayanan maskapai buruk, tapi tetap mengenakan biaya bagasi. Bersiaplah, tidak ada lagi penerbangan murah.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment